Posted by: sepanjanglempong | June 1, 2012

Taman Bacaan : Ooh, bilakah mereka lambaikan buku dan pena di tangan ?

Saya termangu takjub memandangi Taman Bacaan ( TB ) yang nyaris jadi itu.
Dulu hanya sebuah angan-angan …

Anak-anak Bojongkulur dan anak kami yang autis Gusti sungguh menginspirasi.
Saya suka sedih melihat anak-anak kalau liburan bingung apa yang harus dilakukan, selain mengulang bermain PS walaupun mungkin sudah bosan, atau bahkan saya lihat anak orang kaya pun bosan ke mall. Kadang kami bersama-sama bersepeda dan berjalan kaki sampai jauh di belakang perumahan kami dan kami menyebutnya dengan berlebihan ” berpetualang ”
Mereka membutuhkan tantangan lain, maksud saya petualangan ke dunia spiritual muncullah ide TB itu.
Hubungan dengan Gusti ? Hanya berharap siapa tahu anak autis itu jadi tidak takut bersosialisasi ketika banyak teman akan datang di TB.
Walaupun sampai sekarang saya masih nol pengalaman dalam mengelola TB, tapi beberpa teman bahkan sudah mengirim buku ke rumah saya, bahkan ada yang menawari advise untuk mengelolanya. Seorang kawan dulu mengirimkan 2 mobil peralatan TK.

Tidak mudah mendesign dengan keuangan yang terbatas namun pada prisipnya saya ingin agar TB itu terlihat lain dengan rumah pada umumnya.
Seorang sahabat saya di Amerika menceritaakan sahabatnya yang punya sanggar tari rumahnya bulat seperti bola. Pak Leo ketika kumintai pendapat seperti biasa diam lalu berujar : Buat Segitiga Mas !
Giliran saya yang bingung karena kemampuan seni saya terbatas saya tak mampu menerjemahkan lebih lanjut secar deatil .
Akhirnya saya hanya ingin membuatnya sebagai rumah tradisional yang adem yang membuat anak-anak betah bermain dan membaca.

Lagu-lagu Leo memang bukan hanya aku nyanyikan tapi betul meresap kedalam bathin. Dalam perjalanan naik kereta ke Jawa saya melihat anak-anak di luar kereta berteriak-teriak : Minta Om , Minta Om !
Potret suasana ini sering ditampilkan ditirukan Leo saat menyanyikan Kiara Condong.
Bait dalam lagu ini pula yang sangat menyentuh saya apabila saya berkeliling bersepeda dengan istri dan Katia memasuki kampung-kampung yang becek di musim hujan belakang rumah kami melihat anak-anak bermain seadanya.

” Oh Bilakah mereka
lambaikan buku
dan pena di tangan ? ”

Saat itu saya cuman berpikir ingin,
tapi mampukah ?
Saya tak tahu saya segera memulai ketika kami temukan tukang

Yang menarik setiap kepada sahabat saya pamerkan ide saya mereka bahagia dan dengan segera ikut membantu. Esoknya kubaca sms : jangan berhenti hanya TB mungkin bisa tempat belajar menari. Esoknya saya terima buku dan film karya kawan saya. Esoknya ada yang sms : aku nanti nyumbang bercerita. Esoknya Pak Leo ketika berkesempatan berkunjung tapi kami tak di rumah mengirim sms memberikan saran untuk daerah dinding yang gelap dan atap.

Aduh,
sudah kebayang anak-anak menggelosor di lantai
membaca buku berjam-jam
dan petualan dunia spiritual itu akan tertanam selamanya di lubuk hatinya
dan hati kami akan terus bernyanyi :

Lewat Kiara Condong kereta laju
Panorama di sana memaksaku tersenyum
Bocah-bocah tak berbaju
Berlari-lari sepanjang tepi
Di setiap detak roda yang kelima
Bergerombol bocah-bocah

Bermain gundu, kuda pelepah
Mengejar layang, lambaikan tangan
Ooh, bilakah mereka lambaikan buku
dan pena di tangan

Lewat Kiara Condong kereta laju
Seorang gadis telanjang dada
Basah rambutnya berkeramas
Sempat kulihat tisik kainnya
Di balik dinding bambu
Reot dan tak beratap

(Ketika lewat Kiara Condong)
(Matahari tidur di balik gunung)
(Ketika lewat Kiara Condong)
(Tuan-tuan tidur di sejuk gunung)

Minta Om,
ADI


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: