Posted by: sepanjanglempong | June 1, 2012

Negeri 1000 Candi

Tak terasa sudah lebih 15 tahun aku tak menginjak Karang Anyar, Surakarta lagi setelah terakhir ke sini. Candi Sukuh adalah tujuan kami. Walau bagi pribadi ini mengulang yang kedua kali namun ketakjuban akan candi yang berbentuk priramida ini tetap tak terperi. Bagaimana sebuah kebudayaan di suku Inca di Amerika Selatan atau Piramida di Mesir sana bisa mirip di kaki lembah Gunung Lawu. Tak salah ada yang menteorikan semua karean UFO yang membangun, atau bisa jadi teori Prof Santos yang benar bahwa Indonesia dulu pusat peradaban dunia. Tak seperti dulu saya harus mendaki menuju candi ini, pemimpin daerah Solo sangat baik dari gerbang depan tertulis rapi Kawasan Wisata Candi Sukuh dan Candi Cetho. Bahkan jalanan mulus hingga depan Candi. Ingatan saya kembali kepada keunikan candi ini, dimanakah simbol kesuburan berupa gambar kemaluan ini berada. Ternyata di pintu pertama dalam keadaan terkunci dan kini seolah dikeramatkan karena bertaburan uang recehan.
Ke candi utama setinggi 8 meter dan 3 kura-kura di sekitarnya semakin menikmati pemandangan sekeliling candi yang tak seberapa luas. Tak banyak hanya 2 rombongan termasuk kami selebihnya malah orang Jerman yang dengan antuias mendengar cerita dari tur leadernya.

Perjalanan kami lanjutkan ke Candi Cetho yang 7 km lebih jauh dan lebih tinggi namun jalanan sungguh indah. Setelah melewati meliuk-liuk dipinggir terbing smapailah kami ke Candhi yang berundak-undak ini. Pemandanagn ke bawah sungguh menakjubkan. Namun candi ini sempat dikiritisi karena pernah direnovasi oleh kerabat dekat Soeharto tanpa studi terlebih dahulu. Jangan heran begitu masuk anda akan merasa seperti di Besakih Bali. Menjelang puncaknya beberapa banguan mirip sekali pura-pura di Bali. Sungguh aneh, zaman keemasan arsitektur Jawa dipaksa dibingkai dengan kepicikan paradigma saat ini. 

Jalur ini tak jauh dengan Astana Giri Bangun tempat pemakaman Pak Harto dan Ibu Tien juga Astana Mangadeg, makam Mangkunegoro I atau lebih dikenal dengan Pangeran Sambernyowo berada.

Keburu takut kesorean perjalanan kami lanjutkan ke Cemoro Sewu perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. “30 tahun yang lalu ayah selalu berkemah di sini sebelum mendaki Gunung Lawu bersama kawan-kawan Pencinta Alam SMP seusiamu” begitu aku ceritakan pilihan hobby kepada anakku. Kabut tebal benar saja turun menutupi jarak pandang kami. Tak sempat kami nikmati air terjun Tawang Mangu yang kesohor karena Katia memilih telaga Sarangan untuk kunjungan berikutnya. Jalan menuju telaga kini cukup lebar namun masih terlihat jelas gempuran sisi gunung untuk pelebaran jalan ini. Sarangan di sore hari masih indah seperti yang digambarkan dalam lagu Gesang di balik nampak panorama Gunung Lawu namun angin kencang sekali dan hawa dingin menusuk tulang. 

Esoknya kami berkunjung ke Candi terbesar di Jawa Timur, yang selam ini hanya ada dalam  angan-angan kami. Panataran. Sesugguhnya sebuah komplex candi yang indah karena seperti mengenal candi depan dan candi utama, sayang banyak yang telah runtuh namun tak mengurangi nuansa keindahan candi. Tentu kami tak lupa mengunjungi makam Bung Besar di kota kecil ini. Teringat lagu Leo ” Aku terpisah di belahan bumi tertepi ….”. Blitar bisa jadi tanah kelahiran Bung Besar namun juga bisa dibaca dari grand skenario untuk De-Sukarnosasi. Bung Besar itu tetap dipisahkan walau telah menjadi jasad. Menarik makam BK ini masih memberikan rezeki orang-orang kecil, berjualan souvenir hingga bunga tabur. Sebelum memasuki makam di kanan tersedia digital library dan di kiri koleksi kebesaran foto-foto perjuangannnya.
Ia tetap dipuja dan dicintai rakyatnya hingga kini … merinding memasuki tempat peristirahatan terakhir ini. Kadang air mata tak terasa menitik mengenang sejarah jatuh bangun si Bung.

Menikmati bangunan-banguna tua di Malang yang menjadi legenda arsitek Belanda kenamaan Herman Karlsten setelah Bandung dan Semarang memiliki kepuasan tersendiri. Esoknya kami ke Batu tentu menuruti impian masa lalu seperti tertetera di buku pelajaran SD kami sampai ke Pemandian Selecta. Kami terpingkal-pingkal objek wisata ini memang sudah tua hanya taman bunga dan kolam renang tersisa. Malang selalu identik dengan apelnya, di Agrowisata petik apel mungkin tak seheboh dulu boleh memakan sepuasnya. Dengan 43 ribu kita hanya diperbolehkan memetik 2 apel dan 3 jambu. Bagi kami yang besar di kota melihat pohon apel bertumbuhan buahya saja sudah hebat apalagi memetiknya, di sini kami hanya melihat apel jenis manalagi. Perjalanan kami lanjutkan ke Pujon ke waduk Selorejo untuk melihat Gunung Kelud dan Kawi namun sayang cuaca mendung menghalangi pemandangan kami. Saya jadi ingat jalan ini menuju Ngantang kota kecil dimana tokoh pemberontak yang pernah
menggegegerkan tanah Jawa zaman Mataram,Trunojoyo ditangkap. Lebih menarik lagi Batu kota dingin 17 km di atas kota Malang bak menjadi kota satelite karena di sini ada Jatim Park-1 dan 2 wahana wisata dan edukasi. Seperti direkomendasi teman-temannya Katia tak sabar menunggu malam untuk melihat BNS ( Batu Spectacular Night ) dengan Lampion Garden nya yang sungguh menawan bahkan tidak ada di Jakarta. Saya terperangah kota peristirahatan ini kini jadi macet di musim liburan.

Hari terakhir di kota Malang tak lengkap kalau kami belum berkunjung ke Candi Singosari. Patung Dwarapala rkasaska besar bergada dan tersenyum kembar itu telah lama kuimpikan, bahkan setiap mendenagr kota Malang hanya gamabran arca ini yang terbayang. Kami juga mampir ke perkebunan teh hitam di Wonosari, menikmati teh dikesejukan gunung, lalu kami teruskan ke Nangkajajar arah ke Bromo melihat perkebunan apel malang hijau merah di pinggiran jalan. Cuaca memang tidak bersahabat gunung-gunung biru semua tertutup kabut. Perjalanan kami lanjutkan ke Candi Jago dan Kidal. Semua candi yang kami kunjungi terawat baik, namun kami yakin masih ada beberapa candi di Jatim yang belum kami kunjungi karena waktu terbatas.

Ketika sampai di Jakarta, saya ingat kawan saya kontan komentar menyesal berlibur ke Malaysia setelah melihat foto-foto kami.

Semua impian beludru, sutera dusunku
ADI


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: