Posted by: sepanjanglempong | June 1, 2012

Menemukan ( Lagi ) Leo Kristi

Untuk Sahabatku : Titi Ajeng

karena tak memiliki background seni saya sendiri suka bingung mebayangkan bagaimana sebuah karya seni lahir. Jadi ingat pesan guru matematika SMA 3 di Semarang dulu alm Pak Warno kalau kami takut tak bisa matematika, beliau akan berkata ” Maju saja papan tulis akan membuatmu pintar !”
Dengan semangat seperti itulah saya selalu menulis dan mendengar serta berdiskusi dengan teman-teman sekomunitas yang lebih mumpuni di bidang seni isyallah membuat semakin mengerti

Apa yang dilakukan seorang Leo Kristi ?

mula-mula ia menulis syair, membuat aransemen lagu lalu menyanyikan
baik dalam rekaman maupun pertujukan.
Yang pertama dan kedua bisa secara urutan terbalik, kadang ia mengaransemen sebuah lagu lengkap dengan melodinya baru syair disisipkan.

Kita semua tahu ia menulis syair dengan berjalan. Baginya berjalan adalah bekerja. Tak banyak syair yang terlahir hanya dengan daya imajinasi semata. Ia mengakui tak pernah ke Timor Timur tapi ia bercerita bahwa ia ngobrol di sustu sore di tangsi tentara dengan seorang sersan tentang kekejaman perang di Timor Timur sambil menggedong bayi sang sersan kecil yang manis.
Atau mungkin LK juga tak pernah ke Pulau Buru namun dari cerita sejarah ditambah buku-buku yang pernah ia baca ia mampu mengimajikannnya.
Selebihnya ia seperti memotret peristiwa lalu menyampaikannya sebagai sebuah kesaksian. Kesaksian dalam betuk puisi nan indah.
Lenganglenggong badai lautku, senandung sepi, padi-padi telah kembang, purnama terang tersaput awan, dalam jaket tua yang lembang, semangat pagi nyanyian bunga , dst-nya   
Tak heran Bre Redana pernah menulis kolom dengan judul yang tepat sekali. ” Menemukan Leo, Menemukan Puisi ”

Membaca puisi LK tidak hanya menimbulkan keindahan namun juga meninggalkan makna yang dalam : ada pencerahan.
Sahabat saya dulu malah punya ide kalau petikan puisi LK dibikin quote semacam kalender. Satu kali saya makan di sebuah warung yang memajang petikan karya penyair besar di Jl Alternatif Cibubur saya melihat petikan syair LK di dinding.
Sebutkah : selamat tinggal hari kemarin, hendaknya kita berdiri satu hati sampai nanti, kepercayaan pada esok dan lusa aku suka, berpisah langkah hati tetap satu di sini, dst-nya.    

Mendengar berbagai lagu, mendengar bunyi-bunyian, barangkali juga memotret peristiwa barangkali sumber isnpirasi musiknya.
Berbagai lagunya mirip Beatles, Stone atau bahkan theme music For a Fiew Dollar More.
Rekaman atas lagu dan musik sangat kuat. Ketika saya pameri koleksi Dr Zivago ia langsung menyanyi … atau ketika pagi-lagi semisal saya setel musik jadul The Platter ia bersenandung meneruskannya
Secara tak sengaja saya peranh naik kereta sambil mendengar lagunya Kereta Laju. Sedari intro yang yang cepat dan melodinya yang juga cepat-riang, sambil mendengar gesekan roda besi dan rel melaju … saya semakin menangkap maksud musik itu. Cepat berlari, Bawalah aku Jauh-jauh pergi.
Saya pernah dengar ceritanya mencari baling-baling bambu/kayu untuk menghasilkan suara seperti yang diinginkan ia menjelajah masuk ke desa-desa di Bali.
Atau mendenagr ceritanya ketika melewati orang Jepang mengalun musik indah
dari balik jendela. Berjam-jam ia nebeng menikmatinya.
Sirou-Kirou, Sahsiagemassssssuuuuuu ….

Lalu bagaimana ia menyanyi ?
Suatu malam saya begadang dengan Mas Naniel. Setelah kaget saya mendengar backgroundnya teater saya semakin kaget mendengar ucapannya : ” Leo itu pandai berexpresi bukan bernyanyi ”
Lalu ingatan saya melayang di setiap pertunjukan Konser Rakyat Leo Kristi.
Saya membayangkan dandanan, membanyangkan mimik mukanya, mebayangkan gerak tubuhnya, mebayangkan ceriat-ceritany yang tak selancar lagunya.
Orang-rang menyebutnya teatrikal.
Wartawan dan penggemar berat fotografi berebut mencari moment yang bagus untuk memotretnya.
Dalam berexpresi tentu aspek yang terpenting adalah “penjiwaan”
Pantaslah ia selalu mengingatkan : ” Roso Rek, Roso … ”
Roso itu pulalah yang berbeda yang dibawa di setiap konsernya.
Kadang saya ingin sekali melihatnya menyanyi persis kaset,
tapi saya ingat kawan saya yang pandai bermusik berkomentar album kompilasi ulang Di Deretan Rel-Rel ( 1985 ) : sungguh dahsyat !
Saya terjebak mencintai Nyanyian Musim versi Nyanyian Fajar ( 1976 )kawan saya malah menyukai aransemen DDRR.
Bagaimana kita menghayati kehidupan nelayan yang keras dalam ruangan berhawa sejuk AC ?
Saya pernah lihat LK minum kopi di tempat pelelangan ikan yang sangat amis cenderung kotor dan riuh. Barangkali saya sendiri tak akan mampu meminumnya. Tapi kejengahan saya berubah ketika melihat semangatnya menyanyi dikelili para nelayan dan penjual ikan itu.
Ekstrimnya ” Kota-kota kecil dalam suara ronda malam ” tentu susah dibayangkan sambil makan di resto-resto gemerlap Cilandak Town Square. Kita mesti berjalan menyusuri kota-kota kecil dan merasakan suasananya di waktu malam.
Dalam sebuah kesempatan saya pernah mengelilingi Surabaya mencari jejak lagu-lagunya : Lembaga Indonesia Perancis ( Nyanyian Malam ), RS Dharmo ( SASL ), Balai Pemuda ( Kutunggu di Balaimuda, Patung Sudirman ( Memorial Sudirman ) , Syangogga ( Synagoga-Synagoga ), Kranggan Pangselan ( Catatan Jalan Surabaya )
hanya sekedar kalau saya nyanyi di kamar mandi mendapatkan bayanga visualisasi yang jelas.
Kadang saya sendiri geli, tidak bisa menyukai album begitu sekali setel,
Setelah lama baru merasakan enaknya.

*

Leo Kristi yang cenderung “nyleneh” itu yang kadang membuat orang suka.
Ketika orang asyik demam lagu cinta ia malah menciptakan Tanah Merah in Memorium semisal.
Kini ia ngeblues, nge-rock atau malah ngejazz.
Saya jadi teringat ketika puisi makin dalam dan sentuhan musik makin etnik dalam Nyanyian Tambur Jalan katanya ia ditinggalkan penggemarnya. Tapi mendapati jawaban seorang LKer saya sungguh terpana ketika saya tanya album apa yang paling dia suka. Dengan tegas menjawab : Nyanyian Tambur Jalan.
Dalam Album terbaru Warm Fresh and Healthy pun saya pesimis ia sedang berkompromi dengan pasar. Sedari dulu ia begitu batu karang dalam berprinsip. Dalam senyumnya saya tafsirkan lain .. ia terus ingin berexpresi.
Wilayah yang memang menjadi hak prerogratif sang seniman.

Ah, Kompas Minggu ini menyorot tema ” Di Bawah Penjajahan Ponsel”
denagn potret seorang buruh gali tanah sedang ber-sms
lalu bertanya
” Benarkah ini menandakan bahwa model pertumbuhan ekonomi kita bertumpu
pada konsumsi ?”
Dan aku jadi ingat pidato Bung Karno : ” Tahukah saudara-saudara model penjajahan baru, neo-kolonialisme ? ”
bahasanya Leo
” I sing about my sawah ladang luas yang hilang,
and I sing aboiut my new style … of my country ”

hijau lelumutan langit biru
ADI

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: