Posted by: sepanjanglempong | June 1, 2012

Konser Rakyat : Semangat, Harapan dan Keriangan

Ketika Leo Kristi mencetuskan ide Konser Rakyat tentu tidak sedang bercanda. Di sepanjang Nusantara saja nyanyian dan musik rakyat bertebaran. Apa yang menarik ? Kalau dicermati selalu ada semangat, keriangan, harapan yang original melekat di tiap musik rakyat. Toh, walau kita tak mengerti bahasa Lombok atau Using di Banyuwangi, mendengarkannya serasa menciptakan ruang kerinduan tersendiri.

Tergambar gairah nelayan pergi melaut, petani bermandi matahari menggarap sawah, kehijauan hutan tropis, pancuran air bening jernih, bau pasar tradisional, kegembiraan bocah bermain di halaman di malam purnama. Lagu ini seperti paduan harmonis manusia beserta suka duka perjuangan kehidupan dengan alam dimana ia tinggal. Bagi mereka yang suka jalan-jalan ke pelosok tanah air terasa sekali.

Leo dengan background musik serius dan kepenyairan yang kuat telah mengemas menjadi komposisi yang indah. Bisa mengerti tidak mudah menciptakan lagu-lagunya. Butuh berbulan-bulan untuk mengendapkan setelah perjalanan. Ia selalu ingin yang baru tanpa meninggalkan semangat rakyat dalam keseharian.

Leo tetap konsisten dan di album terakhir ia banyak memotret Nusantara yang sedang berubah. Rakyat yang beadaptasi dengan perubahan tetap dengan semangat, keriangan dan harapan. Ia berkata ” new life style of my country “. Bukankah kita kini tidak heran di desa-desa petani bilang : ” sms saja ya “. Mendengar Putu Sujenan, sosok masyarakat Bali yang menerima perubahan Bali secara besar-besaran tetap dengan semangat. Putu barangkali sudah tidak memiliki sawah, dipakai untuk pijat spa dengan pemandangan rice field view yang menguning yang disukai turis-turis asing. Sementara kita kadang kawatir tiap menginjak Bali merasa seperti Eropa di Asia.

Kini kadang aku bersukur dulu ketika sekolah dasar diajarkan lagu-lagu rakyat. Sampai kinipun masih tak tahu artinya, tapi semangat dan suasana tersimpan rapi di dasar hati. Maka kini kita juga mengerti album Konser Rakyat Leo Kristi juga dokumentasi budaya tanah air.

Kadang saya geli mengamati polah tingkah sahabat-sahabat LKer saat menonton konser. Mereka tidak hanya sedang menggemari Leo Kristi, namun sedang merindukan menemukan kembali semangat, keriangan dan harapan akan tanah tumpah darah kelahirannya. Teman-teman menciptakan ruang bathin : Indonesia.

Dan kini sudah jarang saya temui petani bersepeda di subuh membawa sekeranjang sayur menuju Pasar Pondok Gede melintasi depan rumah kami.
Ladang-ladang dijual buat perumahan. Tapi masih kudengar suara Jaipong bila ada orang hajatan. Dan dari corong-corong mesjid kampung masih kudengar merdunya suara shalawatan.

Tanah Pertiwi, Tanah Pusaka Negerimu …
Adi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: