Posted by: sepanjanglempong | June 1, 2012

Keindahan Kematian

Mengenang 1 tahun wafatnya Ayahanda ytc Suradi Suwardi
 
( Setahun lalu.
sebelum engkau pergi.
engkau ingin seluruh anak-anakmu berkumpul.
engkau meminta maaf kepada seluruh anak-anakmu
bahkan engkau melarang kami menangis
betapa agung jalanmu pulang menuju keabadian … )
 
betapa tidak enak tidak bisa pulang ke kampung saat tahlilan 1 tahun ayahanda.
dokter muda yang memeriksa menakuki katanya gejala typus jadi saya mesti istirahat total.
masih dalam lemas di lepas mahrib saya membaca yassin.
saya kawatir akan tumpah air mata.
biasanya kerinduan, penyesalan, dan perasaan yang tak bisa disebutkan satu-persatu menggumpal.
ini malah tidak.
Saya jadi ingat mas Totot yang dulu menasehati begitulah rasanya kehilang seorang ayah.
karena banyak tidur siang maka saya mengadakan peringatan dalam diam.
seingatku ada 2 buku tentang kematian yang aku punya.
aku ingin membacanya kembali.
keduanya
ingin saya bagikan untuk teman-teman semampu yang bisa saya cerna
 
kematian memang tabu dibicarakan.
karena naluri manusia dengan kuat menolak kematian.
jiwa kita mendambakan keabadian.
 
setidaknya ada dua aliran kepercayaan manusia tentang kematian.
satu menganggap kematian adalah akhir segalanya 
yang kedua menganggap ada kehidupan setelah kematian.
sebut saja yang pertama adalah dengan label Sekuler yang kedua Religius.
Uniknya keduanya  ini memiliki persamaan yakni semangat heroisme
dengan melakukan sesuatu untuk kenangan keabadian kehidupannya
karya-karya besar peradaban manusia membuktikan ini

Yang Sekuler bisa jadi kemudian menjadi pemuja kehidupan Hedonistis,
bisa juga menjadi orang yang tetap berbuat baik karena ingin meninggalkan nama baik
walaupun tidak mempercayai surga atau neraka.
( Bahwa kemudian menarik, di Amerika yang mayoritas penduduknya sekuler
sebuah survey penelitian menunjukan hasi di luar dugaan
Lebih 80% responden meyakini adanya kehidupan setelah kematian )
 
Tidur adalah batas kehidupan dan kematian.
dalam tidur tubuh kita istirahat hanya jiwa kita yang yang masih aktif bekerja.
kadang kita bermimpi sedang mungkin sel-sel tubuh yang rusak sedang diperbaiki.
ini pula yang mungkin menjelaskan sederhana adanya dimensi yang namanya jiwa.
lalu bagaimana bila kematian datang , tubuh tidak berfungsi lagi.
kemanakah jiwa manusia pergi ? masihkan ia mampu beraktifitas ?
Socrates sungguh menggelitik,
melihat jeli bahwa kehidupan adalah sebuah metamorfose menuju kesempurnaan.
dari janin, bayi, remaja lalu tua. lalu bagaimana dengan kematian sendiri ?
 
kembali ke perbedaan pandangan di atas tentang kehidupan setelah kematian
mari kita lihat secara ringan.
Bila tidak ada kehidupan setelah kematian maka logikanya sepele saja bila kita sudah tidak menghendaki kehidupan kita tentukan memilih kematian dengan indahnya.
Istilahnya Mercy Killing. Yang paling dikenal dengan disuntik serasa dibius lalu mati.
Pernah menonton film Don’t You Know Jack-nya Al Pacino
Film bagus seorang dokter yang menolong orang yang telah memutuskan untuk melakukan mercy killing dan sangat mendatangkan kontroversi di Amerika.
Hingga kini film itu tak utuh saya tonton, tak tega rasanya …

Ketika sahabat Rumi menangis melihat deritanya jelang kematian, beliau malah menjawab
Hai kawan tinggal sejenak langkahku untuk memasuki kehidupan yang jauh lebih indah dari dunia ini, tetapi mengapa engkau menangis sedih dan menahan diriku untuk menunda kehidupan baru yang sudah aku tunggu-tunggu ?”
Ini seperti dialog Nabi Ibrahim AS Sang kekasih Allah dengan Malaikat Izrael  ketika Nabi Ibrahim mendebat : “ Kekasih mana yang tega mengambil nyawa kekasihnya ?”
Israel menjawab lebih romantis : “ Kekasih mana yang tak ingin jumpa dengan Kekasihnya ?”
Lain dengan almahrum ayah saya yang melarang kakak perempuan saya menangis ketika nafasnya tersengal-sengal, almahrum berkata : “ aku sudah hidup lama, aku sudah ichlas kalau dipanggil sama Sang Pangeran Penguasa Kehidupan “
 
Firasat manusia tentang kematian bisa dilihat secara aktif ataupun pasif.
Pasif setelah seseorang meninggal kita kaji apa kelakuan aneh menjelang ajalnya.
Aktif mungkin seperti almarhum ayah saya yang meminta semua anaknya cepat pulang berkumpul karena ingin pamitan.
Sebelumnya ayah saya sering sakit masuk Rumah Sakit, tapi malah biasanya melarang mengabari kami yang jauh takut gundah gulana.
Di mailing list ini dulu pernah saya kutip juga budayana kesohor Jawa Ronggowarsito konon bahkan bisa menebak kapan datangnya ajalnya sendiri.
Katanya saat 3 bulan dalam kandungan roh ke-Ilahian- ditiuapkan ke dalam tubuh jabang bayi, roh ini masih peka di saat kecil dan makin tak peka di saat dewasa kecuali bagi mereka yang memang dikaruniai kelebihan adalah pengecualian.
Saya percaya bagi yang selalu berlatih dengan sabar menyucikan dirinya dengan kepasrahan yang tinggi akan mengetahui tanda-tanda akhir kehidupan
 
Kadang kita bencanda maunya mati pas sholat, tidak pakai sakit-sakitan.
Mengapa harus sakit untuk mengakhiri kematian ?
Saya tertarik untuk menyimak hikmahnya saja.
Bayangkan bila tiba-tiba orang yang kita sangat  cintai meninggal tanpa sakit
Bukankah kita tak akan sempat meminta maaf dan merawatnya sebagai bukti cinta kasih kita.
 
Saya selalu teringat kawan saya Kang Sena
selalu mengucapkan : “Semoga umurnya Barokah”
setiap kali menyaksikan kawannya berulang tahun.
 
Mari kita maknai Kehidupan.

Saya ingat kawan saya Ramdan Malik membawa kaset lama yang ia bongkar dari gudangnya
dengan susah payah rekaman Konser Rakyat Leo Kristi di GKJ bertahun-tahun lalu.
Dalam perjalanan ke rumah Albert, Rezza menyetelnya
Dalam suara-suara yang tak jelas mengalir lagu indah itu sungguh menyayat hati.
 
Gugur sudah usia tua
tahun pun berganti rasa kasih sayang
Gugur sudah dunia tua
zaman pun berganti daya manusia
 
Gugur sudah berat resah
hati remuk redam cinta
Ada di sana
kita menuju bersama
Selamat tinggal kegelapan
kepada-Mu
 
padaaamu ayahku,
ADI
 
Beberapa cuplikan diambil dari buku Psikologi Kematian oleh Prof Kamaruddin Hidayat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: