Posted by: sepanjanglempong | June 1, 2012

Hanya Itikad Baik Orang Saja …

Dalam perjalanan ke distributor saya melihat seorang salesman roti ngebut dan tanpa disadari rotinya jatuh berceceran.
Seorang bapak turun dari mobil dan membantu memunguti juga pengendara sepeda motor di belakangnya membantu 
sebelum kami akan ikut turun menolong.
Hilanglah kesempatanan kami.

Berbuat baik itu memang bisa datang dari niat baik.
Niat baik biasanya tanpa kepentingan.
Dilakukan karena ingin saja dilakukan.
Namun perbuatan baik kadang juga disertai kepentingan.
Begitu kepentingan berlawanan dengan respon object jadi kita sebagai subject menjadi kesal.

Dunia modern yang didominasi kapitalis penuh dengan kepentingan.
Wani Piro” atau “berani berapa ” adalah guyon bawah sadar yang mercerminkan dunia kapitalis.

Setelah sukses sebagai bisnisman banyak orang yang ingin mengakhiri hidupnya bekerja di sektor sosial.
Menjadi warga dunia, citizen people.
Betapa sepinya menjadi CEO sebuah perusahaan.
Ia berdiri di menara gading dan tiap waktunya berharga untuk mengambil keputusan-keputusan yang vital bagi perusahaannya.
Kadang kalau lupa kehidupan keluarga sosial bahkan kesehatan.
Sukses namun tidak bahagia.
Ia merindukan dunia niat baik, yang selama banyak terlupakan.

Suatu kali saya nonton Indovision kalau tak salah judulnya CEO Under Cover.
Sang CEO turun ke bawah menjadi mekanik, tukang tagih, pelayanan pelanggan dsbnya.
Dimana ia “belajar” dari mentornya dengan tulus memberi tahu kekurangan dan kelebihan system apa adanya.
Niat baik bawahan ternyata lebih mudah disampaikan justru kepadanya ketika ia acting sebagai bukan CEO.

Niat baik sebenarnya adalah fitrah manusia. People is Good, kerennya.
Yang lebih menarik, seperti dulu pernah saya cuplik.
Berbuat baik itu ternyata adalah terapi penyembuhan bagi penyakit : The Healing of Doing Good.
Alih-alih anda merasa kesal bila kepentingan kita tak sejalan,
maka dengan niat baik segalanya ichlas dilakukan.
Kita tak lagi terpengaruh atas renspon object kita. Pun kalau tak ada ucapan terimakasih.

Menarik kebetulan di perusahaan saya bekerja yang telah berusia lebih 100 tahun di Amerika,
sebuah perusahaan keluarga, 5 generasi turun menurun, menempatkan kata-kata bijak kakek sang pendiri
saat pembagian laba pertama di tahun 1904 yang kemudian menjadi pondasi nilai-nilai luhur perusahaan
This We Believe : ” The Goodwill of the people is the only enduring in any business … It is the sole substence. The rest is shadow.”
( Terjemahan bebasnya kira-kira : ” Hanya itikad baik orang saja yang abadi dalam bisnis apapun.
Hanya itulah yang kekal … lainnya hanya banyangan belaka )
 
Kini ada sebuah model wirausaha baru, saya lupa istilahnya.
Apabila kita membuka bisnis kecil semisal tidak hanya mencari untung,
namun juga ada niat baik menolong karyawan atau partner dalam bisnis tsb.
Walaupun untung tetap yang utama karena memang bisnis dijalankan karena dan mencari keuntungan.

Saya terharu lihat perjuangan teman-teman yang tak kapok selengarakan konser.
ada yang jaulan CD, ada yang bikin pin, ada yang cari gedung gratisan, ada yang ….
Konser bak sebuah project selalu ada resikonya.
Tiap muncul kesulitan sahabat-sahabat tetap tersenyum.
Sedari awal, saat konser dan setelah konser sahabat-sahabat saya bahagia dan enteng saja menjalani.

Jadi ingat syair Umi Muda Serambi Tua, hampir tiap konser dinyanyikan :
Cinta / seperti saat kita pandang diri / Bebas belenggu / hangat dan bijak / tulus luhur …

 
Jaga jernih berjaga,
ADI


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: