Posted by: sepanjanglempong | June 1, 2012

Cintanya Ainun dan Habibie

Sahabat,

Baru-baru ini saya menemukan buku Habibie dan Ainun, walau dikisahkan tidak dengan bahasa sastra cerita cinta mereka mengalir penuh keindahan. Ketika Habibie harus berpisah dengan Ainun untuk selama-lamanya setelah mereka bersatu dalam percintaan selama 48 tahun Habibie seperti kehilangan sebagian jiwanya maka dokter pun menyarankan 3 alternatif untuk menyeimbangkan kembali kejiwaannya 1) bercerita dengan teman 2 ) perawatan psikologis dengan bantuan obat-obatan atau alternatif 3) menulis. Habibie kemudian memutuskan untuk menulis untuk menyalurkan emosinya yang meledak-ledak.

Habibie sendiri kemudian mengaku ketika diwawancari O Channel bahwa bagian buku yang menarik adalah awal dan akhir artinya perjumpaan dan perpisahan.

Beberapa kutipan ini cerita bagian awal sungguh indah dan sengaja saya tak mengutip cerita bagian akhir , saat perpisahan yang sangat menguras air mata untuk membacanya :

” Ainun kamu cantik, dari gula jawa menjadi gula pasir!”

Mata Ainun yang sejak kemarin telah memberikan getaran jiwa saya dan saya rindukan sepanjang masa.

” Entahlah, yang jelas kita lalu berpacaran, malam-malam hari di dalam becak dengan jok tertutup walaupun tidak hujan ”

Akhirnya, dengan bekal masing-masing satu koper, berangkatlah kami berdua ke Aachen

” Jikalau saya pulang sering Ainun memandang keluar dari jendela menantikan kedatangan saya walau di luar hujan , dingin dan gelap. Setibanya di depan pintu Ainun membukanya dan memandang mata saya dengan senyuman yang selalu saya rindukan ”

Ucapan Habibie saat member kado mesin jahit Singer ultah ke-25 Ainun ” Maafkan kemampuan saya hanay ini saja “. Ia mencium saya dan menjawab ” Kamu sudah memberi saya yang lebih indah dari semya yang kamu tak dapat bayangkan ”

Hanya dalam waktu 1 tahun pasangan ini segera diberi momongan, Habibie yang pandai itu tak mengerti sindiran kawan-kawan di Jakarta dan Bandung yang mengatakan ” merebut Ainun dengan cara Eropa dan Jerman”. yang dulu membingungkan kini jelas maksudnya.

” Karena itu saya sampaikan kepada Ainun, jikalau anak kami pria maka nama yang tepat adalah Ilham Akbar. Ibu kandung bayi kami ini Ainun selalu mengilahmi, menenangkan dan memberi semangat kepada saya, membuat suasana tenteram sehingga apa yang tidak mungkin jadi mungkin ”

( ternyata Ilham Akbar itu bukan untuk nama teori thermoelastisitas yang ditemukan Habibie, tapi sebutan untuk Ainun )

Ainun : ” Saya bahagia malam-malam hari berdua di kamar, ia sibuk di antara kertas-kertasnya yang berserakan di tempat tidur, saya menjahit, membaca dan berbuat yang lainnya. Saya terharu melihat ia pun banyak membantu tanpa diminta, mencuci piring, mencuci popok bayi yang ada isinya ”

Ainun : ” Tahun 1965 ia Dr-Ing. Tahun itu juga memperoleh pekerjaan di Hamburg. Gaji bertambah. Dan impian kami berdua selama bertahun-tahun terwujud : kami membeli sebuah mesin cuci ”

Ainun : ” Semangat dan energinya memang lebih dari rata-rata orang. Kami sekeluarga terbawa dalam kehidupannya ”

Tidak heran buku ini justru banyak dibaca kaum muda yang mendambakan cinta sejati diperjalan hidupnya kelak atau mungkin juga bagi kita yang telah menempuh bahtera rumah tangga untuk menemukan hakekat cinta . Ini bukan hanya kisah Habibie tetapi juga kisah percintaan … manusia.

Membaca kisah ini memang menggetarkan seperti saat tersepi di antara penonton di GKJ dulu melihat Konser Rakyat Leo Kristi menyanyikan dengan indah :
” Cinta …..
gelombang kasih nan tulus
hingga usia tengah abad
selebihnya hanya kau yang tahu
memelihara
agar tetap hijau
dalam kebiruuuuuan ”

*

PUISI HABIBIE UNTUK AINUN

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,
sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,
hatiku seperti tak di tempatnya,
dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang,
rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,
tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia,
kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
selamat jalan,
calon bidadari surgaku ….

BJ.HABIBIE


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: