Posted by: sepanjanglempong | June 1, 2012

I shall Return and Noli Me Tangere

semua kawan saya mengeluh ketika harus meeting 1 hari di Manila karena perjalanan bisa 2 hari sendiri pulang pergi, bersyukurlah saya memiliki teman smp yang tinggal di sana menikah dengan gadis Philipina dan berkarya di sana. Bagi saya yang jarang bepergian ke luar negeri, maka kesempatan itu aku nikmati sebisa mungkin. Kawan saya bertanya apa kesukaanmu, langsung tentu kujawab : sejarah dan pemandangan. Philipina ? Ingatan melayang ke Jendral berbintang 5 Douglas Mc Arthur. Sosok yang pernah dipermalukan dikalahkan Jepang, lalu berjanji kembali untuk merebut kemenangan dengan kata-katanya yang tersohor ” I shall Return ! ”
Di kemudian hari sejarah mencatat Sang Jendral ini memang memenuhi janjinya.
 
Sebuah pulau bernama Corrigedor adalah wisata saya sehari. Pulau yang terletak di Manila Bay sekitar 1 jam naik ferry, ternyata lebih dekat dengan tempat bernama Bataan. Di Bataan pertama sekutu mengalami kekalahan dan pertempuran hebat itu diabadikan dengan film dengan judul sama : Bataan. Kawan saya yang Philipina mungkin agak heran saya mengerti Bataan, tapi bagi yang senang sejarah akan memahami. Di Pulau Corrigedor yang sejak zaman penjajahan Spayol sudah dipergunakan, sejak 1913 dijadikan pangkalan Amerika beserta pasukan Philipina. Sisa-sisa reruntuhan barak tentara masih nampak di sana sini. Beberapa kumpulan meriam Perang Dunia 2 bertebaran di sana. Bahkan ada Meriam besar yang tak pernah digunakan karena meriam tersebut mengarah ke laut lepas dan Jepang tidak pernah menyerbu dari laut lepas. Jepang datang dengan pesawat ataupun menyerang dari belakang, dari Bataan. Di Pulau ini ada terowongan bernama Malinta di sinilah Presiden Philipina
diterima dalam pengungsian oleh Sang Jenderal.
 
Di pinggiran laut itu terbayang ketika Sang Jenderal mesti mengungsi ke Autralia dengan kapal selam setelah 3 kali diperintah oleh presiden Roosevelt. Istri yang setia mendampinginya kemanapun pergi bahkan menyebut mesra sang istri sebagai my best soldier. Dan di pinggiran laut itu dengan gagahnya 3 tahun kemudian ia mendarat, ketemu lagi dengan haru dengan Jendral berbintang 3  Mainwrigh yang berjuang gigih walaupun akhirnya menyerah ke kekuasaan Jepang.
Di terowongan itu masih nampak sisa tempat bahan bakar yang rusak karena tekanan tinggi terkena ledakan para rpajurit Jepang yang memilih bunuh diir dengan meledakkan diri di dalam terowongan. Ada lagi suicide cliff tebing tempat para prajurit dengan semangat bushido ini memilih megakhiri hidupnya penuh dengan kehormatannya. Persis yang dilakukan di Pulau Saipan. Bekas jatuhan bom-bom Jepang nampak dimana-mana. Saya jadi ingat LakmanaYamamoto.
Tour Leader mengatakan setelah menguasai pulau tersebut para tenatra Jepang berfoto di depan meriam2 besar sebagai propaganda.
” Nippon Banzai, Banzai Nippon !”
 

Esoknya saya hanya sebentar mampir ke kota tua dikelilingi benteng Intramaros, Menarik saya mengujui Gereja St Agustin yang telah berusia 400 tahun.
Guru SMP saya mengajarkan Glori Gospel Gold.. Arsitek Sanyol terasa di kawasan ini bahkan katanya pemerintah setempat melarang pembangunan yang tak mengacu ke abad pertengahan. Gereja ini merelakan sebagian koleksinya dijadikan museum di sebelahnya. Saya menonton dengan takjub koleksi lonceng, jubah, lukisan dan patung-patung manusia suci agama Katholik tersebut yang usia sudah ratusan tahun. Yang menarik di lantai marmernya yang tua banyak jemaat dimakamkan di sana. Nama-nama yang telah pergi ditatahakna di batu marmer yang kita injak saat kita memasuki gereja. Menilik tahun-tahun wafatnya juga sudah ratusan tahun yang terkubur di sini.
“Di sini diemayamkan lalu dibakar lagi …”
 
Setelah menengok sebentar ke Katedral kawan saya membawa ke benteng : Fort Santiago. Di dalamnya ditunjukkan tempat pahlawan nasional Philipna dr Jose Rizal disekap dituduh sebagai pengahasut. Jejak langkahnya diabadikan dalam lempengan kuningan saat ia harus menjalaani eksekusi kematian.  Vsiusali sasi sederhana ini sungguh membuat saya merinding. Di sebelahnya nampak museum bahkan nampak peralatan dokter mata yang dulu dipakai pratek dan beberapa buku karya beliau.
di tengah kota patungnya tegak berdiri sebagai mounume dan dijadikan titik 0 kota Manila.
orang yang melampaui zaman ini memilih plain living high thinking semcam Bung Krano, Bung Hatta dan Syahrir. Seorang pejuang memang kesepian.
” Aku terpisah dibelaha bumi tersepi, secarik kabar darimu akan samnt berarti …”
 
dalam perjalanana pulang di atas lautan pacifik saya teringat kata-kata Jose Rizal : saya berbahagia mati demi … atau pidato Mc Arthur di atsa kapal USS Missouri saat mengakhir perang dunia 2 dengan penandatangan penyerahn Jepang setelah di bom atom.
” Oh Sepatu Larsa ….”
Dan saya kangen kawasan tua Batavia di Jakarta dan Semarang. Seandainya kita bisa mengelola lebih baik ….
 
Masa depan terpilih,
ADI


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: