Posted by: sepanjanglempong | April 18, 2012

Matinya Orang Jawa

Buat : Ayahanda Ytc R. Suradi Suwardi ( 1921 – 10 Maret 2011 )

Entah karena sudah panggilan umur terakhir-akhir ini saya sering mengkoleksi buku tentang budaya Jawa. Budaya yang kebetulan dimana saya dilahirkan. Sudah bisa dibayangkan betapa susahnya memahami budaya yang lama tidak kami sentuh. Rasanya seperti orang pulang, amat nyaman memahamiya satu per satu

Orang Jawa meyakini Tuhan dengan filosofi ” Sangkan Paraning Dumadi “. Asal dan Tujuan Kehidupan.
Bahasanya pun dengan indah untuk kematian dengan bahasa paling halus untuk Tuhan. Mereka akan mengatakan, seperti alm. ayahanda berualang kali  : ” Yen dipundhut sak wayah-wayah aku yo wis ichlas umurku wis dawa ” ( bila diambil sewaktu-waktu saya sudah ichlas karean umur saya sudah panjang ). Orang Jawa juga mempercayai sebagaimana dalam khazanah agama kematian adalah perjalana menuju dunia lain. Di saat penutupna peti jenazah atau atas pusara setelah pemakaman selesai kami mengucapkan dengan masih bahasa yang paling halus ” Sugeng Tindak Pak ! ” ( Selamat Jalan Ayah ). Orang orang yang pulang dari pusara juga akan berkata begitu : Sugeng tindak Pak De, Pak Lek, Embah !

Saat ayahanda wafat. Saya seperti disadarkan kembali. Saya orang Jawa. Saya melihat upacara kematian orang Jawa kembali. Seperti budaya timur lainnya budaya Jawa penuh sarat dengan simbolisme. Brobosan adalah upacara penghormatan semua anak, menantu, cucu, cicit dstnya melakukan jalan di bawah jenazah selama 7 kali. Lalu kakak saya yang perempuan menyapu jalanan sebelum jenazah diberangkatkan perlambang agar jalan yang akan dilalui bersih. Demikian pula lemparan uang recehan dan bercampur beras sebagai simbol sangu ( bekal ) bagi yang berangkat menuju keabadian.

Orang Jawa walaupun walau sudah memiliki agama pada umumnya masih memegang teguh adal istiadat leluhurnya. Dalam kematian dikenal uapcar 1 hari ( tidak populer kini ), 3 hari, 7 hari, 40 hari, 1 tahun, 2 tahun , 1000 hari.

Budaya Jawa memang lahir sebelum Hindu, Budha ataupun Islam sehingga memang sangat unik.

Berikut adalah tafsir sederhana :

Upacara selamatan 3 hari dimaksudkan untuk memberi penghormatan pada roh yangmeninggal. Orang Jawa berkeyakinan bahwa roh tadi masih berada di dalam rumah. Ia sudah mulai berkeliaran mencari jalan untuk meninggalkan rumah. Upacara selamatan tujuh hari, dimaksudkan untuk penghormatan terhadap roh yang mulai akan keluar rumah.

Dalam selamtan tujuh hari dilaksanakan tahlil, berasal dari kata arab, halla, yang berarti membaca kalimat,” laailaha illallah”, agar dosa orang yang meninggal iampuni.

Upacara selamatan 40 hari (matangpuluh dina), dimaksudkan untuk memberi penghormatan roh yang sudah mulai keluar dari pekarangan. Roh sudah mulai bergerak menuju ke alam kubur. Upacara 100 hari (nyatus dina), memberikan penghormatan terhadap roh yang sudah berada di alam kubur. Di alam ini, roh masih sering kembali ke dalam keluarga sampai upacara selamtan tahun pertama dan peringatan tahun ke dua. Roh baru tidak akan kembali, betul-betul meninggalkan keluarga setelah peringatan seribu hari

Kemarin saat saya merasa sudah stabil secara emotional saya mencoba menelpon beberapa teman yang di saat duka ciata banyak mengabarkan dan memberikan dukungan. Tapi entah kenapa setiap kali menelpon air mata saya deras mengalir saya menangis hingga kepala pusing karena sangat emotional. Kini saya sadari apakah itu arti yang sering orang Jawa katakan sebelum 40 hari kita akan didatangi. Bagi saya yang pengetahun tentang dunia mistis orang Jawa terbatas saya menggangguk walau sebetulnya istri saya lebih mengatakan itu bukti cinta kasih anak.

Kupasan adat peringatan kematian orang Jawa akan menjadi rumit bila kita masuk ke dalam dunia mistis orang Jawa seperti pengetahuan tentang : roh, jiwa, badan kasar dan badan halus dstnya.

Di zaman kecil saya masih ingat bila seseorang meninggal hari Selasa Wage (? ) masih ada upacara menyongkel genteng rumah hingga pecah. Kadang kamipun anak kecil diberi injet ( kapur buat menyirih ) di bawah telinga agar tidak kena sawan ( hal-hal yang tidak diinginkan ). Orang yang meninggal pada pasaran tertentu, seperti almarhum nenek saya kadang kuburnya dijagain hingga 3 hari 3 malam.

Saya juga yakin di kebudayaan-kebudayaan Indonesia lain sarat dengan simbolisme dan makna yang indah.
Hanya mungkin pengetahuan kita terbatas.

Ah jadi ingat lagi Leo Kristi bersayir dan bernyanyi :
” Tanah pusaka / tanah yang kaya / tumpah darahku / dimana kuberdiri / dimana kumengabdi / dan mati
dalam cinta yang suci ….”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: