Posted by: sepanjanglempong | February 25, 2011

Nyanyi-kan Beludru Sutera Dusunku

Sakit anak kami tercinta Katia yang 2 minggu terkena cacar, harus dikarantina di rumah sungguh sangat mendorong kami untuk meluangkan waktu berlibur bersama di antara kesibukan orang tuanya dan waktu yang terbatas cuman 4 hari itu.

Setelah bertanya-tanya ke mas Gam di Bandung kami putuskan pergi ke Ciwidey dan Pengalengan. Di kotaku Semarang di daerah atas Candi banyak nama jalan yang berasal dari nama gunung seperti Semeru, Sumbing, Sindoro, Merapi, Papandayan, Malabar dsbnya. Nama Malabar dan cerita bapak guru di SD soal kayanya teh daerah Pengalengan membuat aku selalu terobsesi datang ke sana.

Ciwidey mungkin yang paling popular dengan Kawah Putih mirip Telaga Warna di Dieng cuman bau belerangnya masih terasa bahkan ada pengumuman yang mengingatkan pengunjung bila merasa batuk dan pusing-pusing sebaiknya segera meninggalkan tempat. Bahkan disarankan tak lebih 20 menit waktu berkunjung. Dengan ketinggian sekiatar 2300 m dpl ( di atas permukaan laut ) paru-paru kita memang berusaha keras untuk menghirup udara untuk memenuhi tubuh. Bisa dibayangkan baik oksigen dan racun pun lebih cepat diserap tubuh.

Situ Patenggang sungguh indah, suasana hati langsung tenteram bila kita datang ke sana. Penuh rasa cinta. Ranca Upas tempat penangkaran rusa dan deretan pohon ecalisptus melengkapi keindahan Gunung Patuha ini. Di pemandian panas Cimanggu, tempat kami kedinginan menginap sungguh mengherankan anak-anak muda 24 jam berendam dan bergadang bernyanyi di udara sedingin itu walaupun mereka bisa berendam lagi untuk menghangatkan badan. Kabut malam kadang membatasi jarak pandang kami cuman 5-10 meter ke depan di malam hari yang kaya dengan hujan. Cerahnya esok kami lanjutkan dengan memetik sendiri strobery-mu.

Segelas susu murni panas menyambut kedatangan kami di sejuknya Pengalengan. Memang orang Belanda suka susu jadi pantas saja daerah sini terkenal susu murninya. Malamnya kami berjumpa dengan para pekerja tambang yang harus memperbaiki sumur panas bumi yang kemarin rusak oleh gempa. Dimana-mana kami lihat rumah retak oleh gempa. Memasuki perkebunan Malabar yang memang melebar seluas 83 hektar sungguh menakjubkan.

Pertama kali kami cari makam Tuan Boscha. Dinaungi oleh hutan kecil sejuk di tengah perkebunana teh yang konon bermutu tinggi dan hanya untuk diexport ini kami temukan bangunan indah itu. Tempat ini dulu katanya adalah tempat istirahat yang paling disukai saat menginspeksi perkebunan ini oleh beliau sebelum beliau wafat. Barangkali kita hanya mengenal Boscha dari kemasyuran teropong bintang di Lembang, Bandung itu. Beliau sendiri konon tak sempat melihat hasil jerih payahnya karena keburu meninggal setelah sakit jatuh dari berkuda saat inspeksi di kebun walau sempat ikut ke Jerman untuk membeli lensa-lensa tersebut.

Dari tulisan prasasti di makam saya baru tahu insiyur arsitek lulusan Deflt ini juga memprakai berdirinya Techniche Hogeschool ( ITB saat ini ) dan beberapa gedung di Bandung seperti Sciete Concordia ( Gedung Merdeka saat ini ) kecuali mendanai pembuatan teropong bintang tersebut. Perjalanan kami lanjutkan ke rumah kediamannya yang sederhana dan manis masih terawat bagus.Di sini bisa terbayangkan hidup yang penuh damai di antara ribuan daun teh yang menghampar seperti karpet. Di depan pintu gerbang makam, terdapat prasasti bertuliskan tanda jasa dan penghargaan yang diterima Boscha.

Bosscha atau nama lengkapnya Karel Albert Rudolf Bosscha lahir pada tahun 1865 di Belanda, dan wafat pada tanggal 26 November 1928 di Malabar Bandung, Jawa Barat. Dia datang ke Indonesia sekitar tahun 1887, dengan mengembangkan perkebunan teh Malabar dan Pangalengan. Bukan hanya prestasi besar itu ada juga prestasi kecil yang menyentuh dari nama harum beliau yakni membangun sekolah setingkat SD untuk anak-anak buruh pemetik teh di kebunnya dan sampai sekarang SD itu masih ada.

Esoknya perjalanan dadakan kami menuju pantai Ranca Buaya. Di sini ada pabrik teh Cukul yang kata Mang Odeng yang pernha kerja di sekiatr sini tehnya paling enak di dunia dan memang untuk export ke Inggris. Tak disanggka bila kita minum teh di hotel berbintang lima dihasilkan dari daerah sepi dan tertepi ini. Ternyata jalur yang melalui Cisewu ini sungguh mendebarkan naik turun gunung yang curam berulang kali hingga mungkin kedalaman 50 meter kami mampu melihat kampung di bawahnya. Belum lagi jalanan sempit. Ketegangan kami terobati ketika kami sampai di pantai.

Esoknya perjalanan Ranca Buaya ke Pameungpeuk sepanjang tepi laut nan sepi namun jalanan bak roller coaster. Ingat nasehat mas Agus Riyanto di facebook untuk menelusuri Ujung Genteng – Pangandaran. Jalan ini mungkin baru sepertiganya tapi sudah indah sekali. Di Tasik kami hanya sempat melihat industri bordiran dan kelom geulis yang terkenal itu. Sayang tak banyak petunjuk di kota ini untuk menonjolkan kerajinan yang terkenal sampai manca negara itu sehingga kami mesti bertanya-tanya. Sementara cita-cita saya memiliki payung kertas Tasik harus puas saya tunda karena waktu telah menunjukkan pukul empat sore. Jam 11 malam kami sampai di Jakarta walau lelah namun bahagia.

Teringat masa kecil ayah ibu yang mengajak ke Kopeng dan membeli buah murbei, kini alhamdulillah bisa mengajak anak-anak jalan-jalan walau hanya sederhana. Kawan sekolah SMA saya Francis Liu mengatakan : membahagiakan keluarga juga membahagaikan diri sendiri. Kamu benar Bud … Malam-malam kutengok wajah lelap anak-anakku dalam tidurnya dan terucap doaku : ” Semoga kalian bahagia … seperti ayah dan ibu dulu di masa kecil. Amien ”

Pak Erizal sebagai Area Sales Manager Jawa Barat yang banyak membantu memberi info terus menerus terutama kuliner dan hotel beribu terimakasih juga kepada kawan-kawan yang sudah berbagi info. Liburan ini walau sederhana, semoga mendidik anak-anakku untuk makin mencintai tanah airnya setidak-tidaknya mengenal Indonesia yang luas dan indah permai. Juga mengenal orang-orang besar semacam Bosscha. Tak lupa juga menyaksikan betapa dahsyatnya dampak bencana alam gempa bumi.

Sepanjang jalan tetap menyanyikan lagu Leo, makin terasa rasa cinta itu ” Banyak pohon tropis berjajar Padang rumput yang menghijau Kebun mawar merah mengharum Basah dengan pancuran air segar Semua impian beludru sutera dusunku Sentausalah negeri Bahagia dusunku …”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: