Posted by: sepanjanglempong | February 25, 2011

Mencari Hoegeng

Dulu ketika saya masih SD kegemaran saya adalah mendengarkan musik irama lautan teduh di TVRI yang lemah lembut dan gemulai. Kakak saya selalu berkata : “ “ Itu Jendral yang nyanyi … namanya Pak Hoegeng “. Saya sendiri tak begitu menegrti maksud ucapan kakak saya yang sudah remaja itu. Namun di kemudian hari saya tahu bahwa sang jendral ini bukan sekedar jendral. Beliau ternyata seorang legenda di kepolisian.

Nama Pak Hoegeng kembali menghiasai papan para demonstran dan mengisi sebuah acara TV tentang sosok tokoh seorang polisi. Saat ini memang citra polisi dengan integritasnya sedang dalam cobaan dengan terpaan skandal keadilan yang bersakla national bahkan international. Kembali publik mendamabakan figur polisi yang baik. Saya seperti yang dikatakan Cak Leo melakukan : ” Peringatan dalam diam , tiada satu lelap di sini.”

Membaca dan menggali tentang sang tokoh yang menjadi panutan ini. Dalam sebuah wawancara sanga anak Aditya mengatakan filososfi sang ayah dalam pemebrantasan korupsi : ” Bagaimana kamu mandi …? Bersih dari atas dulu baru ke bawah akan bersih semuanya. Tidak bisa berishin badan dengan cimak-cimik ”. Itu yang menjadikan keyakian dalam kekuatan melawan korupsi. Hoegeng kemudian menjadi legenda ketika berdians di Sumut yang menolak mentah-mentah sogokan para cukong judi.

Lembaran kehidupannya kemudian sangat dihiasi cerita-cerita indah melawan kejahatan bukan menjadi bagian dari kejahatan dengan menggunakan kekuasaan untuk melindungi. Sebagi orang Jawa asli Pekalongan ia cuman bersandar pada kebijakan masa lampau : ”ojo dumeh …!!!” Kejadian kecil di kehidupan pribadinya sangat mengakar menggambarkan integritas beliau. Sebutlah ketika ia memerintahakan istrinya menutup toko bunga di Cikini ketika ia menjadai Kepala Imirgrasi. Menolak permohona istrinya untuk ikut nebeng dinas ke Belanda karean sang istri yang indo ayahnya masih tinggal di sana.

Beliau sungguh mirip negarawan Bung Hatta. Ketika pensiun tak memiliki rumah dan mobil. Ketika diberi mobil hadiah iuran para Kapolda pun, itupun dengan susah menyakikan bahwa iuran hasil dari gaji kapolda. Masih lebih senang naik bis mercy atau bajaj sekalipun. Para penanda tangan Petisi 50 menjadi saksi kan kederhananan jendal bintang 4 ini. Rumahnya yang tak berpengawal suatu kali pernah kemasukan pencuri. Ia berseloroh : “ Malinge iki nekat , wani maling omahe Kapolri …” Kata mutiara yang disukai Hoegeng adalah “ it is nice to be important but it is more important to be nice “ Juga “ When you are doing right no one remember, and when you are doing wrong no one forget.” Itu yang melandasi beliau matian-matian menegakkan cita polisi ketika ia menjabat sebagi Kapolri.

Jauh melampui jamannnya Hoegeng itu menegrti peranan pers. Panda Nababan sering didatangi di rumah kontrakkan malam-malam untuk diajak berdiskusi. Dalam penyarmaran sering dilakukan untuk beliau banyak mengerti aspirasi masyarakat akan keingininan sperti apa wajah polisi. Bahkan membauka sairan di radio Elshinta menerimab kritsia dan pengaduan masyarakat. Tak bisa dibayangkan masih berbaju Kapolri beliau akan turun ke jalan mengurus lalu lintas. Bukan overacting atau mau memberi teladan bawahannya. Ia sekedar mau menunjukkan menjadi polis adalah panggilan hatinya. Jauh dari wajah angker namaun tegas tak kenal kompromi. Jendral Dai Bachtiar menyebutanya dengan sanjunagan ” Terlalu prinsip, terlalu tegas, terlalu jujur, terlalu sederhana dan terlalu baik” Tapi bukankah itulah kira-kira yang kiat dambakan dari citar seorang polisi ? Sayang keteladanan ini tak diikuti oleh yunior-yunior penerusnya di kepolisian. Saya jadi inagt kata-kata Bung Tomo ” … yang lebih menakutkan lagi kalau generasi muda sekarang ini dipaksa menerima keadaann penuh penyelewengan dan kerusakana, mungkin pada kemaudian hari Indonesia akan dipimpin oleh generasi penerus yang lebih menyeleweng dan lebih rusak lagi. Detik-detik sekarang ini yang akan menentukan orang-orang angakatan 45 yang berkuasa sekarang ini akan meninggalkan wariasan yang indah dan berharga ( lahiriah dan rohaniajh ) atau warisan yang rusak dan kejam. ”

Hoegeng mungkin adalah contoh yang ingin Bung Tomo sebutkan sempat melakukannya namun Orde baru yang tergoda gemerlap materi dan kekuasaan lebih kuat mewariskan budaya yang tak menjadi rahasia lagi kini tak mudah kita menghapusnya Di akhir karirnya ada beberapa peritiwa heboh yang memerlukan ketegasan beliau. Hoegeng tetap melakukan tugasnya mengusut tuntas walau rezim orde baru terbiasa menggunakan penjahat laten sebagai tameng untuk rekaya keadilan dan memanipulasi peradilan untuk menyelelamatkan kroni-kroninya. Pemerkosaan Sum Kuing yang katanya melibatkan anak sang pahlawan revolusi dan Paku Alam, tewasnya tertembaknya mahasiwa ITB oleh taruna akpol, dan penyelundaulan mobil-mobil mewah yang melibatkan keluarga Cendana : Robby Tjahjadi. Konon ketika sedang genca memenjarakan sang penyeludup kakap ini, ketika mau melapor ke Pak Harto Sang Kapolri melihat sang burunan malah sedang bersalam denagn Suharto. Sejak itu Hoegeng tidak bisa lagi mempercayai Soeharto. Ia merasa bosnya adalah bagian dari masalah ini.

Lebih lebih ketika ia bergabung dengan Petisi 50. Ia dicekal datang ke peringatan hari Bayangkara dan cukup lama menunggu ada Kaporli yang berai mendekati beliau lagi Termasuk sahabat dekatnya Prof Soemitro yang tak mampu mengundang di pernikahan anaknya Parbowo karean Pak Harto jelas-jelas tidak ingin menemuinya. Kedua sahabat ini hanya bisa berpelukan dan menangis walau ada guyonan yang getir juga diucapkan ” Koq Suharto takut sama Hoegeng ya … ?” Ketika saya nulis status di FB : “ Selamat Hari Pahlawan, dimana pahlawanku ? “ Seorang sahabat saya yang bijak mengomentari dengan indah : “ Pahlawan adalah rekonstruksi masa lalu untuk kepentingan masa depan ”

Tahukah anda bahwa Ibu Tien adalah Pahlawan Nasional dan Bung Tomo memperoleh gelar Pahlawan baru beberapa tahun yang silam walau namanya tak bisa dilupakan dari buku sejarah anak-anak kita dengan penyemangatannya dan kepeimpinnannya terhadap pertempuran heroik 10 nopember 1945 di Surabaya yang kemudian menginpirasi untuk diperingati sebagai hari pahlawan. Saya tak mengerti apakah suatu kali pemerintah akan menghargai Hoegeng sebagai pahlawan seperti perdebatan konyol terhadap Bung Tomo.

Namun peringatan dalam diam saya telah menempatkan belaiu seorang pahlawan. Ia telah meninggalkan warisan yang berharga. Namanya lebih panjang dari umurnya. Namanya di kenang lagi oleh para demonstran di Bundaran HI di panas siang bolong Juga lelucon yang diceploskan Gus Dur dan penjuang anti korupsi di tanah air.

Kini kita benar-benar mencari sosok Hoegeng, namun …. Setidaknya masih dalam suasana hari pahlawan aku makin mantap menghayati lagu Leo Kristi di bawah ini dan kembali satu tulisan kawan untuk Soie Hok Gie terngiang di telinga : “ Gie menjadi seorang pejuang itu akan kesepian …. ” Demikian pula Bung Hatta, Bung Tomo dan Hoegeng dan yang lainnya. Tanah Merah in Memoriam Aku terpisah dibelahan bumi tertepi Secarik kabar darimu akan sangat berarti disini hanya satu bambu tidur yang dingin namun selalu saja ada dengungan nyamuk seakan seperti semangat rakyatku berdentang dentang merasuk hati aku tak kan pernah mati Tuhan, tanahku yang hitam ini milikmu jua Padamu tanahku Padamu ayahku Padamu darahku Padamu puteraku


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: