Posted by: sepanjanglempong | February 25, 2011

Kota-ku Semarang dan Tata Kota-nya

Hati saya bahagia sekali ketika menemukan sebuah buku berjudul Arsitektur Tradisional Tionghoa dan Perkembangan Kota. Perasaan saya menebak pasti akan ada bahasan tentang sejarah kota kelahiranku Semarang setidak-tidaknya, karena terkenal dengan sejarah Tionghoa di Indonesia atau setidaknya membuka cakrawala baru sejarah Indonesia. Buku ini memang unik karena mungkin baru pertama kalinya dan juga kandungan ilmiahnya karean merupakan disertasi Bapak Pratiwo di Aachen, Jerman.

Saya cukup membaca dan menikmati kupasan sejarahnya saja walaupun sebenarnya buku ini adalah buku arsitektur, dunia yang tak pernah saya pelajari.Sejarah ditulis di awal agar mendapatkan pemahaman akan asal-muasal sebuah peristiwa.Peristiwa ini kemudian tercatat rapi dalam salah satu wujudnya adalah bangunan-bangunan. Semarang seperti juga kota-kota zaman dahulu kehidupannya tak dapat dipisahkan dari air. Sungai Semarang menjadi salah satu pertimbangan untuk tinggal.Kini mungkin masyarakat Semarang sendiri mungkin tak tahu lagi dimana itu Kali Semarang, karena transportasi darat telah mendominasi dan kali tak dapat dipakai lagi. Ada Ceng Ho, Pandan Arang, Belanda dan alamnya sendiri.

Ceng Ho dalam pelayarannyanya seorang armadanya Ong King Hong sakit dan memerintahkan melempar jangkar di sebuah teluk depan Kali Garang, dengan perahu kecil menelusuri sungai hingga ke bukit Simongan. Ong dan beberapa armadanya memutuskan tinggal di situ tidak ikut melanjutkan bersama Ceng Ho. Dan kemudian disusul migrasi orang Cina lain ke pemukiman ini. Daerah dari Perbukitan hingga teluk siebut Sam Po Lung yang berarti bukit Sam Po dan diucapkan dalam bahasa Jawa Semarang. Ini lebih memperkaya asal muasal kota Semarang. Pandan Arang datang dan menyebarkan agama Islam di bukit Bergota. Namun karena erosi maka penggantinya Ki Ageng Pandan Arang II ( yang kelak ceritanya terkenal menjadi Sunan Bayat mengikuti Sunan Kalijaga ) memindahkan pemukiman arah utara mendekati sungai. Dimana keraton, alun-alun dan mesjid dibangun.

Sultan Mataram menghadiahkan tanah di Semarang karena rasa terimakasih memadamkan pemberintahan di Jawa Timur. Belanda lalu membangun benteng besar di sekeliling pos penjagaannya dan berdatangan orang Belanda. Orang-orang Tionghoa tinggal di luarnya. Ketakutan akan pemberontakan Tionghoadi Batavia 1740 dan pemberontakan di Semarang terulang lagi makaBelanda membumihanguskan Pecinan dan menangkap tokoh-tokoh pemberontakan. Bahkan Belanda memindahkan aliran Sungai Semarang 200 m ke timur dan memindahkan ke tanah kosong di barat sungai.Belanda membentengi kotanya dengan tembok dan membuat kanal.Membuat jalan ke arah pedalaman JL Ambengan ( kini Jl Mataram ).

Namun ketika Daendeles membangun jalur pos Anyer ā€“ Panarukan benteng ini dirubuhkan dan membuat jalan Bojong ( Sekarang Jl Pemuda ) bagian dari proyek ini. Perang Diponegoro menderita banyak kerugian makanya menjalankan politik tanam paksa. Belanda mendapatkan keuntungan namun daya beli rakyat tentu menurun. Di tingkat international Terusan Suez dibuka tahun 1869, Belanda merizinkan swasta termasuk Tionghoa untuk bernjalan agrobisnis. Kebijakasanaan ini merangsang pertumbuhan di Jawa dan kota Semarang khususnya. Rel kereta dibangun untuk menghubungkan dengan pedalaman ( 1872 ), Pelabuhan Kalibaru dibangun ( 1875) Banjir kanal barat dibuat ( 1880 ) menyusul kemudian Banjir Kanal Timur ( 1900 ) beberapa jalan dibuka Pieter-Sythoff-Laan-Randoesari-Hoogerandelan. ( kini Jl Pandanaran dan Jl Ahmad Yani ) Jl Karang Turi dan Karre Weg ( kini Dr Cipto ). Karena laju pertumbuhan ekonomi membaik demikian pula laju pertumbuhan penduduk.Orang Tionghoa banyak mendirikan ruko di sekitar Bojong, Ambengan ( kini Jl Mataram ) . Karang Turin dan Peterongan .

Pemerintah Belanda mengambil inisiatif membangun pemukiman baru : Neuw Tjandi Baroe karena telah ada Oude Tjandi. Sang Arsitek tersohor Thomas Karsten medapatasi topografi daerah Tjandi yang berbukit dan membuat rumah berdasarkan kelas ekonomi bukan lagi berdasarkan etnik.Rumah mewah di pinggi jalan tanpa pagar, lebih murah di jalan-jalan di bawahnya dan paling murah yang masuk kampung. Seperti Leo Kristi yang bangga dengan Surabaya, Kini kalau aku pulang aku juga bangga dengan Semarang dan setiap turun di Statiun Tawang sebelum menikmati indahnya Kota Lama aku pasti menyemangati diri dengar berteriak : ā€ Kota … !!! ā€ * Literatur Semarang memang tak banyak yang terkenal mungkin Amen Budiman dengan Semarang Riwatnyamu Dulu atau yang lebih jadul Liem Thian Joe dengan judul Riwayat Semarang. Namun secara umum persinggungan Cina, Islam dan Jawa bisa dijumapi dari beberapa literature seperti Arus Cina Islam Jawa-nya Sumanto Al Qurtuby, Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa-nya Ong Hok Ham atau Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara-nya Slamet Susena atau Muslim Tionghoa Cheng Ho Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara- Kong Yuanzhi. Buku-buku ini saya sebutkan bukan karena dalam kandungannya ataupun valid isinya namun karena masih mungkin kita dapati di toko buku sebagai referensi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: