Posted by: sepanjanglempong | February 25, 2011

Gus Yang Dur

Suatu kali Polisi mengejar penjahat, yang konon katanya memiliki kedigdayaan bisa menghilang menuju hutan di Jatim hingga harus meminta seorang Kyai untuk membantunya. Syahdan datanglah seorang Kyai dan setelah ditunggu lama : munculah sang penjahat lalu ditangkap polisi. Takjub oleh kesaktian sang kyai, polisi bertanya doa apa yang mesti dibaca agar orang yang mampu mengilang bisa ditangkap. Jawab sang kyai ringan : “ Tak ada ! Orang kalau hilang ya ‘kan tidak selamanya Mas, ditungguin saja nanti muncul sendiri !” Guyon ringan ini menjungkirbalikkan logika berpikir kita yang sering terjebak kerumitan.

Demikian pula ketika sang Kyai yang jebolan pondok pesantren itu memimpin negeri ini. Banyak yang memandang nyleneh tanpa mencoba mengerti apa maksudnya. Salah satunya saya sendiri. Tengoklah ketika Gus Dur ditanya soal kerusuhan Maluku. Jawabnya ringan : “ Biarin saja nanti lak berhenti sendiri “. Wah akal saya yang merasa sehat mendebat bagaimana mungkin. Kita mestinya melakukan ini dan itu kalau tak ingin terjadi penbantaian terus menerus. Ternyata Gus Dur benar. Memang kerusuhan itu akhirnya berhenti. Saya baru sadar saya tak memiliki informasi apa-apa, mungkin Gus Dur tahu segalanya tapi kan tak mungkin semua diungkap di depan publik.

Lawatan ke berbagai negara, Setujunya dengan lepasnya Timor Timur, Dihapuskannya Depsos dan Penerangan, Dibuatnya Departemen Kelautan, Keperbihakannya pada golongan minoritas, menjalain hubungan dengan Israel, melepaskan Polisi dari TNI, dan seterusnya adalah akrobat Gus Dur yang kadang tak bisa diterima oleh publik. Lawan politiknya tak henti-hentinya menghembuskan berita yang aneh-aneh. Dari yang namanya pembisik, tak pernah sholat, dll. Seperti biasa masyarakat kita kadang mudah termakan dan lupa mencari informasi yang berimbang.

Saat seorang menjadi pemimpin ia biasanya akan menjaga imagenya mati-matian. Kalau perlu malah memanipulasi masa lalunya agar tertulis secara gilang gemilang linear dengan kesuksesaannya sekarang. Tapi Gus malah pernah bercerita ringan saat SMP pernah tidak naik. Ketika ia mesti jatuh karena skandal Buloggate dan Bruneigate, tetapi kemudian juga seorang Ketua DPR tersandung dugaan korupsi 40 miliar pula. Beliau dengan ringan mengatakan : ” Ia tak korupsi, yang korupsi kan mejanya !”.

Gus Dur sedang mengajarkan kita tentang keadilan sebab tanpa keadilan yang berlanjut jadilah peristiwa Cicak dan Buaya kemarin. ”Seorang Bapak Bangsa telah pergi lagi, setelah Cak Nur kini tiada lagi” kata sahabat saya lirih. Saya diam dan pikiran saya menerawang jauh. Saya jadi teringat katany untuk memperoleh ilmu yang lebih di malam hari dulu para santri memijat kaki sang kayi untuk mendengarkan petuah-petuah kebijakan hidup.

Bahkan ketika ribut debat syarat seorang presiden mesti seorang yang sehat. Saya sangat setuju, saya mengembangkan logika ” la wong negara segede ini mosok sopirnya orang yang sakit ? ”. Tapi dikemudian hari saya mendebat diri sendiri : ’ La yang sakit saja lebih hebat dari yang sehat … malah yang sehat nggak bisa apa-apa”. Kita tahu Gus Dur cuman 2 tahun memimpin negeri ini, namun banyak keputusan yang berani ia ambil walau penuh kontroversi sekalipun.

Gus Dur memang suka bercanda. Apa mungkin ia sedang menyindir orang yang lebih senang emosional daripada rasional. Ia pernah mengaku keturunan Tionghoa, Raja Pajajaran bahkan Syeh Siti Jenar. Saya sendiri mengartikan : Ia sedang mengajarkan tidak peduli keturunan siapa kita ini, tapi apa yang sanggup kita lakukan. Statemenya yang terkenal dan dikenal luas adalah ” Gitu aja koq repot ” sesungguhnya lebih mencermikan dan mengajarkan kesederhanaannya berpikir. Di kemudian hari kita akan selalu ingat Sang Gus kalau terjebak kasus yang rumit-rumit.

Kini kepergiannya banyak ditangisi dan bahkan dikenang di mancanegara sebagai tokoh. Semangat pluralismenya dan egaliternya banyak mengilhami dan semoga akan terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Selamat Jalan Gus, Sang Guru Bangsa ….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: