Posted by: sepanjanglempong | February 25, 2011

Belajar Sedikit Tentang Kebahagiaan

Setiap mendengar sahabat berulang tahun atau terlebih diri kita sendiri pasti menyeruak pertanyaan instrospektif : ” Apakah kita sudah bahagia ..? ”.

Tujuan Hidup adalah Kebahagiaan. Perdebatan definisi kebahagian sudah berlangsung lama. Mungkin perdebatan percarian kebahagian sepanjang umur peradaban manusia itu sendiri. Agama-agama luhur di dunia ini tak ada satupun yang tidak memberikan petunjuk tentang meraih kebahagiaan.

Karean kebahagiaan menajadi tujuan kita maka gerak utama karenanya kehidupan kita adalah menuju ke sana. Karean Kesenangan itu bagian dari Kebahagiaan kadang jadi kita tidak sanggup membedakan di antar keduanya. Kesenangan adalah pengalaman sekilas yang berkaitan atas ganjaran sesuatu, sedang kebahagiaan berlangsung lebih lama yang berhubungan dengan penilaian kehidupan pada keseluruhan. Bisa saja dalam pertemuan pesta kita tertawa tebahak-bahak namun dalam hati kita menyimpan perasaan duka yang telah lama menggumpal.

Dapatkah sebuah keberuntungan kita sebut sebuah kebahagiaan ? sebut saja misalnya kita beruntung terlahir dari keluarga kaya raya. Atau kita bisa sebutkan satu per satu keberuntungan-keberuntungan lain. Sekilas rasanya benar, namun nyata sekali kebahagiaan tidak ditentukan oleh keberuntungan.

Banyak juga yang mengatakan kebahagiaan kita meraih segala keinginan kita ? Keinginan adalah motivasi yang kuat bagi manusia namun kalau tak mampu mengendalikannya malah bisa menyengsarakan Sebutlah sukses misalnya. Banyak justru orang yang menderita setelah sukses. Demikian pula dengan kekayaan, ketenaran, kekuasaan dll. Kita lalu menyebutnya dengan istilah Jebakan-Jebakan Kebahagiaan.

Kebahagiaan adalah Pilihan. Tapi secara jujur tak semua memilih bahagia. Ambilah contoh dalam sebuah peristiwa yang membuat kita menderita. Mampukah kita memaafkan orang yang menyakiti diri kita ? Selama tidak, berarti kita membawa penderitaan sepanjang hidup kita. Kita memilih tidak bahagia.

Di antara ciri orang bahagia adalah adanya emosi positif, Fredrikson menyebutkan ada 4 emosi positif : keceriaan(joy), ketertarikan( interest), kepuasaan ( contentment) dan cinta. Baru-baru ini saya sangat prihatin menyaksikan papa mertua yang menderita Al-Zheimer. Begitu tak teganya kadang saya tak sanggup mentapanya. Beliau dulu orang yang sangat energik, periang dan banyak interest. Kini hal itu tiada lagi.

Sumber kebahagiaan yang terdekat adalah keluarga. Siapakah yang paling terdekat dengan kita ? Ibu. Dalam kesibukan meeting yang menegangkan tiba-tiba seorang sahabat mengirim sms dalam penjalanan pulang untuk memberikan penghormatan yang terakhir kepada bundanya. Setiap menerima kabar begini saya langsung bengong. Tak terasa bulir-bulir air mata mengambang, mengingat bapak ibu yang sudah semakin tua renta terpisah 500 km jaraknya. Pasti saya teringat kata-kata indah Gibran : ” Ibu adalah segala-galanya. Dia penghibur kita dalam kesedihan, tumpuan harapan kita dalam penederitaan. Dan daya kekuatan kita dalam kelemahan. Dialah sumber cinta kasih , belas kasihan, kecenderungan hati dan ampunan.

Barangsiapa kehilangan ibunya, hilanglah sebuah jiwa yang murni yang memberkati dan menjagai siang dan malam”. Kata-kata terakhir ini paling kuingat kuat sehingga sebelum saya menata hati saya, saya tak mampu menelpon sahabat saya untuk mengucapkan bela sungkawa. Kalau saya paksakan pun saya pasti akan menangis bukan bicara semestinya. Orang terdekat lagi pasangan dan anak-anak kita. Tidak mengherankan sebuah survey mengatakan sumber penderitaan utama adalah kematian pasangan dan perceraian. Dua hal ini memisahkan kita dari orang yang paling dekat dengan diri kita, yang kita sayangi.

Saat Reuni SMA saya menyaksikan seorang suami sahabat yang begitu baik. Setahun kemudian saya dikabari telah wafat lalu saya sempatkan telpon sahabat saya itu. Lebih banyak menahan tangisan daripada bicara. Saya merasakan kehilangan kebahagiaan yang sangat dari sahabat tersebut. Baru-baru ini teman di kantor juag kehilangan putrinya terkasih. Ketika ketemu saya ucapkan belasungkawa saya, beliau masih bercerita dengan mengambang bening air mata. Bahkan saya melihat belaiu belum bisa konsentrasi untuk bekerja.

Belakangan para peneliti psilkologi menunjukkan bahwa dalam keadaaan bahagia orang-orang lebih penyanyang, lebih senang membantu dan lebih dermawan. Pantaslah ada pepatah yang mengatakan : ” The only thing that mulitiply by division is Happiness ”. Unik memang.

Paradigma manusia telah berubah. Dulu sederhana mencari kenikmatan dan menghindari penderitaan. Kini Mencari Kebahagiaan dan Menggali Makna Kehidupan. Mungkin kini kita tidak lagi tertawa ketika mendengar kursus-kursus meditasi di Bali dibuat paket dengan harga yang mahal dan laris. Dan kita pasti tahun konsumenya adalah orang-orang yang datang dari keadaan yang melimpah dengan kemakmuran. Ironis memang. Kebahagiaan adalah keingian kita terakhir. Kebaikanya lainnya yang kita kejar demi meraih kebahagiaan. Kebahagiaan kita raih tidak untuk tujuan lainnya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: