Posted by: sepanjanglempong | February 25, 2011

Belajar dari Bencana Situ Gintung

Bencana Situ Gintung sungguh mengerikan dengan elevasi nyaris 10 meter dan volume 2 juta kubik air terjadi di saat subuh ketika kesadaran manusia masih lelap telah menelan korban 93 orang dan 100 orang dinyatakan hilang

Dibanding Tsunami Aceh ataupun Gempa Yogya tragedi ini sungguh memilukan karena sebetulnya ada “kesempatan” campur tangan manusia untuk mencegahnya tidak sepenuhnya percaya ini adalah bencana alam Siapa saja yang mengatakan Bendungan Situ Gintung berbabahaya saat itu pasti akan diketawakan … dengan dalih bendungan itu “bangunan Belanda yang kuat” sejak 1932 mungkin juga sudah dilakukan “perawatan” tapi kini orang sadar pernyataan itu terpuji bicara apa adannya bila bencana transportasi kemarin bisa dikupas oleh beberapa faktor 1) infrastuktur yang sudah tua 2) regulasi yang tak dipatuhi 3) mismanagement 4) profesiensi test atau keahlian maka semestinya pekerjaan umum bisa melakukan hal yang sama untuk meninjau proyek-proyek dibawah pengawasannya khususnya yang menyangkut keselamatan masyarakat luas bukan hanya sekedar selesai tepat jadwal namun juga kualitas dan keselamatan tak dipungkiri lagi departement ini banyak mengerjakan proyek dan seperti kebiasaan banyak proyek banyak mark-up mengurangi kualitas dalam sekala kecil pernah terjadi,

suatu kali saya pulang ke rumah saya di Lempongsari di Semarang daerah yang berlembah dan berbukit itu menjadi pilihan mewah orang tinggal tebing-tebing yang semestinya tempat pepohonan tumbuh dipondasi dipenuhi tanah dijadikan halaman tambahan dengan view menghadap ke laut ketika musim hujan deras kandungan air jenuh ternyata sangat berat tak mampu ditahan oleh pondasi yang lebar 5 meter di bawah setinggi 20 m bencana longsor terjadi memakan puluhan korban tanah longsor orang-orang bertanya bagaimana dinas tata kota bisa meluluskan izinnya ? bagaimana hati nurani insinyur yang mengerjakannya ? apakah pemiliknya tak merasa bersalah ? Bencana ini seperti menampar muka kita sendiri betapa bobroknya perizinan, tender, kualitas, management sehingga faktor keamanan menjadi nomer sekian padahal kita sudah memiliki segudang insinyur master doktor yang ahli di bidangnya

Jangankan merawat peninggalan-peninggal yang lama malah menambahkan bencana-bencana baru pernahkah kita berpikir berapa luas daerah resapan di Jakarta yang tanahnya makin hari ditutupi property lalu di rumah kita menonton film Hollywood murahan sang jagoan sedang jogging di taman kota yang asri menyalahkan bencana adalah bencana adalah hal yang mudah sepertinya merendahkan karunia Tuhan akan kemampuan berpikir manusia orang-orang pandai mencoba menciptakan early warning system masyarakat daerah rawan bencana dilatih secara reguler adalah contoh usaha daya manusia untuk tidak menyerah kepada bencana alam seharusnya deteksi dini atas tuanya infrastuktur juga bisa dilakukan

Kini publik jadi merasa cemas masihkah ada Situ Gintung yang lain ? sedang kita melihat pembangunan property mewah seperti jamur tapi fasilitas yang menyangkut keselamatan publik susah sekali banjir kanal, bendungan , jembatan, jalan dalam skala lebih kecil lagi, jangan kaget kalau di ibukota naik sepeda motor nyaris anda jatuh karena ada lubang menganga di jalan ( dan sudah banyak orang meninggal karena hal ini ) pemda dki masih berdebat soal anggaran dengan pemerintah pusat


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: