Posted by: sepanjanglempong | February 25, 2011

Al heb ik een uitgesproken Westerse opvoeding gehad, toch ben en blijf ik in de allereerste plaats Javaan

Jo, sahabatku. Aku bayangkan aku menulis ini seperti ketika kit saling cerita denganmu di rumah eyangmu Jl Saidan Semarang yang panas 26 tahun yag lalu Sambil keringat kita mengucur terus menerus Ada yang meledak-ledak ketika aku menemukan buku yang telah lama aku cari.

Memang kadang bawah sadar membimbing langkah kita untuk menemukan apa yang kita cari. Membaca lembar demi lembar itu serasa mengungkap tokoh yang lebih banyak diamnya ini. Ketika kita kecil sering cuman kutonton fotonya sebagia wakil presiden terpampang di atas papan tulis Sekolah Dasar. Wajah yang teduh dengan senyum dan kaca mata hitam. Coba tebak ? Benar … beliau adalah Sultan Hamengkubuwono IX. Kenapa kukutip ucapana bahasa Belanda itu.

Ya itu adalah pidato yang terkenal saat penobatan tahun 1940 artinya kurang lebih “ walau saya telah mengeyam pendidikan barat yang sebenar-benarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap orang Jawa “ Jadi Jo yo mesti Bangga kita ini orang Jawa. Bisa dibaca Sunda, Batak, Madura, Dayak atau Indonesia Banyak hal yang menarik dalam kisah hidupnya. Seorang Raja Jawa yang terbawa arus sejarah dalam pergolakan revolusi Indonesia. Walau tak banyak yang tahu kisahnya. Mungkin malah banyak yang tahu karena ketokohannnya dalam kepanduan Indonesia dengan foto memakai seragam kojarsena dan duk merah putih itu. Oh ya jangan lupa Pramuka itu istilah dari beliau aslinay Para Muko. Dan Praja Muda Karena itu memang otak-atik beliau untuk melawan dominasi komunisme di organisási kepanduan tersebut Sultan kecil seperti kebiasaaan bangsawan saat itu hidup berpindah-pindah dititipkan di keluarga Belanda dan tinggal di luar istana.

Semasa remaja dihabiskan di Semarang dan Bandung. Untuk kemudian melanjutkan sekolah tinggi di Belanda. Menarik memang seorang raja yang mewarisi darah aristokrat besar di luar istana dan bahkan mengeyam pendidikan sampai di negara barat akan sangat menentukan pola pikir dan sikapnya di kemudian hari. Ini juga yang menentukan sejarah perjuangan revolusi di Indonesia.

Karena ayahandanya sakit terpaksa dipanggil pulang untuk meneruskan tahta. Nasionalisme mulai ditunjukan ketika beliau meminta syarat penaikan tahta dengan Pembebasan pajak garam di pantai utara. Dari sini jejak keperbihakan kepada rakyat mulai nampak. Jauh dari sikap raja-raja yang biasanya justru menindas rakyat demi kelanggengan kekuasaan. Perjanjian untuk pengangkatan raja memang penuh prasyarat yang memberatkan. Beliau bercerita mendapat wangsit untuk menandatangani saja. Suara itu berbisik “ Tole tekenon wae, landa bakala lunga saka bumi kene “

Di zaman pendudukan Jepang dengan cerdas beliau memalsukan data-data kekayaan Yogya agar tidak menjadi ajang perasan. Bahkan beliau memerintahkan pembangunan selokan Mataram agar rakyatnya terbebas dari bencana romusha. Malah beliau meminta bantuan Dai Nippon untuk membantu proyek-proyek ini Sehingga bagi orang Yogya selokan Mataram bukan hanya selokan irigasi namun sebuah monumen sejarah juga. Setelah kemerdekaan ia jelas-jelas memihak Republik dengan berkirim surat dukungan kepada Duet Soekarno Hatta. Ia tak bergeming dengan rayuan menjadi raja seluruh tanah Jawa bila mau berkomplot dengan Belanda. Ketika Belanda mencurigai istana menjadi tempat bersembunyinya para pejuang dan ini memang benar, dijawab tantangan Belanda untuk mendobrak pintu istana itu dengan : “ Langkahi dulu mayatku …” Seorang raja, simbol rakyat sungguh mulia.Di Yogya di zaman susah revolusi nama Sang Sultan adalah jaminan. Bila pejuang membutuhkan beras dengan mengatakan ini kehendak Ngersa Dalem, orang pun akan dengan ichlas menuruti untuk menyumbang.

Ada anekdot di masa kecil. Beliau suka main kuda gendong di halaman Pura Pakualaman. Ketika semua peserta kuda dan jokinya sudah siap, ada seorang joki yang kebingungan. Sebab ia aníllala seorang abdi dalem, yang jadi kuda adalah Ngerso Dalem. “ Maaf Gusti , mar saya tidak berani “ kata si joki. “ Tidak apa-apa ayo cepat naik. Saya kan juga manusia. Ayo cepat naik “ seru si kuda. Joki pun segera naik ke punggung sang Gusti estela lebih dulu berjongkok menyembah …

Atau dengarlah anak-anak Pramuka di Yogya yang tahu Sri Sultan sudah beken sering mengendarai sendiri jeepnya. Banyak yang menyetop dengan meneriakkan Salam Pramuka untuk kemudian minat diantar masuk gang-gang sempit di Yogya. Sang Sultan melakukan dengan senang hati. Anak-anak pun bersorai. Anak kecil memerintah raja, bisa bayangkan ! Setelah tumbangya Order Lama meninggalkan kemiskinan ekonomi beliau terpanggil begitu gigih mencari dana bantuan bagi pembagunan Indonesia. Ketika ia menjabat ia juga tak tertarik dengan rayuan pengusaha proyek yang banyak menguntungakn dirinya sendiri, seperti proyek-proyek zaman ini. Jangan lupa Sri Sultan terlahir memang sudah kaya. Dalam revolusi betapa banyak yang dibantu dengan dikirim uang golden. Almahrum Ibu Rahmi Hatta bahkan sempat menyimpannya sebagai kenang-kenangan kebaikan Sultan.

Sejatinya ia memang orang sederhana. Dalam sidang MPR 78 nampak kaus kaki Sultan yang longgar. Untuk menjaga agar kaos kaki itu tidak melorot, ia memperkuatnya denagn karet gelang. Persis seperti ketika kiat SD dulu. Ia pun tak segan makan di pinggir jalan. Tanpa hambatan protokuler dan tanpa beban. Salah satu hobbynya adalah menyetir. Dengan mobil jeep belaiu kendarai dari Bandung ke Yogya. Tentu mobil dulu belum ver-AC. Bagaimana cara mengatasinya. Maaf beliau cuman memakai singlet dan celana dalam jadi nyaman. Hal ini sangat mengagetkan polisi yang kemudian mencegatnya. Tapi setelah melihat dan mencocokkan SIM langsung sikap sempurna, hormat.

Ketika menjadi Menteri Pertahanan ia memerintahakn penagkapan temannya ketika kecil yang berkhianat kepada Belanda : Sultan Hamid II. Ia melihat hitam tetap hitam dan putih tetap putih, walaupun itu teman dekat sekalipun. Ada cerita reñdah hati yang legendaris. Ketika beliau mengendarai jeep dari Kaliurang hendak ke Yogya di tengah jalan disetop oleh mbok-mbok bakul yang biasa memang liften. Selama perjalan belaiu cuman diam dan ketika sampai ikut menurunkan barang si embok. Mbok ini membayar namun tidak diterima. Karena kesal merasa bayarannya kurang si embok ini mengoceh namun pengendar jeep itu telah pergi berlalu Seorang polisi lalu mendekat dan memberitahu si embok tentang siapa pengendara mobil itu. Sang Embok pun pinsan. Kesaksian cerita ini dibenarkan juga oleh tokoh pejuang SK Trimurti yang kebetulan ada di sana saat peristiwa itu terjadi. Di saat tidak menjadi pejabat dan kembali ke Yogya Suharto menklaim ide Serangan Fajar itu darinya , Ia tak sakit hati dengan rendah hati dan arif ia berkata kepada asistennya : ‘ Sejarah memang miliknya orang yang berkuasa. Sudah nggak apa-apa ‘ Dalam keluarga pun belaiu menampakkan sikap yang bijak. Ajaran memilih menantu berdasarkan bobot, bibit, dan bebet yang kuat dalam budaya Jawa tak dipakainya. Beliau hanya berpesan : ‘ Terserah kalian asal baik dan tahu adat ‘ Sehingga banyak menantu beliau datang dari kalangan biasa. Pendidikan barat telah mebentuknya menjadi pribadi modern dan demokratis. Di saat kuliah di Belanda ia telah memasang bendera merah putih di mobilnya. Katanay bendera ini pual yang dipakai leluhurnya Pangeran Diponegoro melawan kompeni. Saat pelantikannya beliau tak mengucpakan sumpah setia kepada kerajaan Belanda dan pemerintah Hindia Belanda namun malah sebaliknya mengatakan : ‘ untuk memenuhi kepentingan nusa dan bangsa …” Hal ini jelas-jelas diucapkan dalam bahasa Belanda yang membuat merah telinga par pejabat Hindia Belanda.

Ketika kami kuliah di Gajah Mada betapa sering aku dengar Universitas Gadjah Mada dalam sejarah berdirinya sebagai universitas tertua yang didirikan oleh putera-putera bangsa mendapatkan pinajaman ruang dari keraton. Kalau tidak salah fakultas kedokteran. Saya juga masih sekolah di Yogya. Ketika bangun agak siang dan mencari makan gudeg kampung susah banget saya baru menaydari bahwa Sang Sultan wafat. Belasungkawa terasa banget. Aura memiliki dan menghormati sangat saya rasakan. Saya termenung, begini agung tokoh ini dicintai rakyatnya. ‘ Sultan besar karena kerakyatannya ‘ kata budayawan Umar Kayam. Tidak mengherangkan bagi bangsa Indonesia atau rakyat Yogya umumnya Jeng Sultan memang “raja” dalam hati mereka yang sesungguhnya. Oleh kisah-kisah indah yang selalu mebela rakyat dan mendekat kepada rakyat. Bukan hanya raja secara formalitas.

Catatan ini taka teratur dan tidak lengkap dan tak kan pernah akan selesai Sosok HB IX lebih banyak di dapat dari kesaksian orang yang preña kenal dekat dengan beliau sebab pernah datang seorang wartawan untuk mencoba menulis biografinya Beliau malah berkata : “ kalau soal kejadian aku akan ceritakan tapi bukan soal aku “ Seorang raja. Wakil Presiden.

Pahlawan begitu yo Jo … bagaimana dengan kita. Aku jadi ingat lagu Leo Kristi yang dinaynyikan menggelegar dan meraung-raung : Tanam Merah In Memorium “ ……. aku tak kan pernah mati Tuhan tanahku yang hitam ini milikmu jua Padamu tanahku Padamu ayahku padamu darahku Padamu puteraku “ Satu hal yang mengesanakan adalah karákter seorang pemimpin. Begitu rendah hati. Bukankah kita selalu takjub kalau melihat orang hebat tapi tetap reandah hati. Yang banyak malah sebaliknya … Bukankah kita sekarang sedang menperdebatkannya tentang karakter seorang pemimpin yang kita cari ? Belaiu begitu rendah hati, aku jadi ingat Dao De Jing kitab tua kebijaksanaan dari China itu : “ Kenapa kali besar dan lautan raya … bisa menjadi raja dari ratusan sungai lembah ? Karena mereka berada di tempat yang lebih rendah “


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: