Posted by: sepanjanglempong | January 14, 2009

Sumedang – Majalengka – Kuningan – Linggarjati – Cirebon

Liburan kali ini sungguh mepet karena saya dan istri mesti kerja lagi
makanya kami pergi tidak jauh hanya melintasi tanah Pasundan
SumedangMajalengka – Kuningan – Linggarjati – Cirebon

*

Tempat makam itu adalah sebuah bukit
disebutnya Gunung Puyuh
di sini bangsawan-bansawan Sumedang dimakamkan
setelah sedikit mendaki dan kemudian sedikit menuruni
segera kita menemukan sebuah makam yang begitu agung
dibandingkan makam sekelilingnya
itulah makam : Tjut Njak Dien.

Setelah tertangkap Belanda di 7 Nopember 1905
beliau dibuang ke Sumedang
diterima baik oleh bupati Sumedang : Pangeran Aria Suria Atmaja
Selanjutnya diasuh oleh KH Sanusi
Seorang ulama besar masjid Agung Sumedang

Di pembuangan dengan kondisi buta
semangat perjuangan TJD tidak sirna
masih mengajarkan Al Quran kepada masayarakat di sekitarnya
Juru Kunci bercerita TJD hanya berbicara dalam bahasa Arab
bukan bahasa Ibunya Aceh karena masyarakat Sumedang berbahasa Sunda
Oleh Pangeran, TJD mendapat gelar Ibu Prabu atau Ibu Ratu

Ini tertulis di makam Cut Njak Dien di Sumendang

” Karena djihadmu perdjuangan
Aceh beroleh kemenangan
Dari Belanda kembali ke tangan
Rakjat sendiri kegirangan

Itulah sebab sebagai kenangan
Kami teringat terangan-angan
Akan Budi Pahlawan Djunjungan
Pahlawan Wanita Berjiwa Kajangan ”

sedang di ujung nisan
” Tjut Njak Dien
Srikandi Nasional
Lahir di Aceh 1948
Wafat di Sumedang
6 Nopember 1908″

Bersama istri dan anakku Katia
kami semua bersujud
sekedar membacakan ayat-ayat suci
tak terasa air mata merembes di pelupuk mata

” Bunda,
masih kutemukan semangatmu
dalam isak tangisku …”

dalam perjalanan pulang mendaki makam
kugengam tangat anakku, nasehatku lirih :
” Tirulah semangat Bunda mengabdi,
sebab tak ada yang mampu mengalahkan semangat,
keculai diri kita sendiri Nak ! ”

*

Sepanjang jalan aku terkenang lagu kesukaan mas Dwi :
Beludru Sutera Dusunku
sebab hutan mahoni, hutan cemara, air bening
di jalana yang meliuk-liuk
” Banyak pohon tropis berjajar,
Padang rumput nan menghijau …”

*

Memasuki kota Kuningan setelah 18 tahun lalu
Ingat tulisan Mas Henry Ismono :
” semua kota menjadi seragam …”
mencari restoran Sunda lebih susah, malah ketemu CFC

*

Bak orang kaya sambil hydroterapi di kawasan Sangkan Hurip
memandang Gunung Ciremei nan elok
yang selama ini hanya kulongok dari jendela pesawat
tetap bernyanyi
” Gunung gunung biru kurindu …”
rinduku ke rumah Ramdan tak tertahan.
atau harus kukatakan mungkin sebaiknya LKer bernaynyi di sini
biar khusuk ha ha ha …

*

Sebelum pulang esoknya kami mengunjungi rumah tua bersejarah terawat rapi
di sebuah desa yang tidak hanya seluruh anak didik se Indonesia hafal
juga terkenal ke semua manca negara : Linggarjati
tempat yang sengaja dipilih karena berbatasan Jabar Jateng ini
di tempat tinggi ini putera-putera terbaik pernah berunding mengabdi
Sjahrir – Soekarno – Hatta.
Katanya setelah Sekutu frustasi karena orang Republikan susah membedakan
mana Belanda mana Inggris asal bule mereka sikat.
aku termenung sendiri :
” Ah mengapa kini kita sukar mencari pemimpin sekaliber mereka lagi ya ? ”

*

sunyiii ….

*

masih bergairahkah anak-anak kita mengenal tanha airnya, sedang kudenagr kemarin keponakanku karya wisata sudah terbang ke Malaysia ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: