Posted by: sepanjanglempong | November 14, 2008

Sultan Jadi Ratu

Loh ?

Mengelitik. Sudah Raja kok masih pengin jadi “Raja”.
Bila dulu hanya menjadi Raja Yogya sekarang karena ingin Mengabdi
jadi Raja Nusantara. Raja kecil menjadi Raja gede.

Apa ada yang salah ?

Kekawatiran kita akan terjebak budaya Jawa yang sangat Feodalistik.
Mungkin tak perlu lagi, sejak Reformasi kedudukan parlemen sangat kuat. Seorang Presiden bukan “Raja” lagi. Dengan kekuasaan tanpa batas.

Sekarang pemilihan presiden secara langsung.
walau dukungan partai sangat besar namun kan akhirnya pemilih sendiri yang menentukan. ketika pilihan presiden putaran kedua dulu tinggal menjadi 2 kandidat Mega dan SBY, berarti massa tetap harus memilih yang bukan idolanya.

Apakah Sultan cukup populer ?

Setahu saya Sultan sekarang bagi orang Yogya adalah simbol pegayoman
bukan simbol kekuasaan.
apakah Sultan yang kini sekarismatik seperti HB IX dulu.
kalau terhadap masyarakat Yogya saja tak mampu mengayomi
mungkin orang berpikir bagaimana untuk yang lebih banyak.
Atau mungkin tak perlu diperdebatkan siapa yang menjabat Sultan,
karena sudah menjadi simbol maka jabatan Sultan itulah yang dikeramatkan sebagai pengayom.

Sebetulanya bukan Pilihan yang enak sebetulnya Sultan kalau benar menjadi Presiden. Bila Sultan benar menjadi Presiden, dia bukan seorang raja lagi.
Seorang yang sakral. Sabda Pendito Ratu.
Bila salah mengambil kebijaksanaan mungkin bisa diexpose.
Dan ujung-ujungnya akan membawa jatuh nama mungkin juga wibawanya.
Bila ia berhasil mungkin orang mengamini pantas saja dia itu kan Raja
memiliki segala kelebihan dibanding manusai biasa.

Kalu kita tak melihat lagi dikotomi ABRI dan Sipil, muda dan tua
mestinya juga tak melihat lagi raja atau rakyat.
Siapa saja bisa jadi presiden, bila memang ia putera bangsa yang terbaik
menurut pilihan rakyat untuk memimpin negeri ini .
Selayaknya ajang kompetisi melalui debat capres dijadikan sarana
untuk menyeleksi siapakah kandidat yang terbaik.

Indonesia di saat ini bukan hanya membutuhkan orang yang pandai.
Tapi juga membutuhkan orang yang berkarakter dan kepribadian kuat.
Yang siap mengabdi demi tanah air bukan demi partai, golongan,
apalagi kekuasaan seperti yang selama ini sering kita lihat.

Tapi akau sedih muncul orang-orang lama yang dulu jelas catatan sejarahnya tak begitu bagus tiba-tiba dengan uang dan dukungan yang berkepentingan menjadi pemimpin partai besar dan merasa mewakili masyarakat banyak.
Semoga negeri ini tak dipimpin ornag-orang yang semacam itu, Ya Allah !
Jadikanlah mereka puas dengan kekayaan tak perlu lagi menuntut kekuasaan kepada-Mu.
Amien.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: