Posted by: sepanjanglempong | November 12, 2008

Belajar Dari Parodi Madura

Sebenarnya Guyon Madura mengandung kebijaksanaan atau bahkan kebenaran,
Namun sayang kita lebih banyak tertawa karena kekonyolannya.
Dengan tanpa mengurangi rasa hormat gaya Madura yang ceplas ceplos,
mari kita perhatikan parodi-parodi yang terlanjur populer di masyarakat.
Barusan saya baca lagi buku tipis Emha Folklor Madura.

Ketika seorang tukang beca menyerobot lampu merah di perempatan,
penumpangnya mengumpat : ” Goblok ! Goblok Sampeyan iki ! ”
sang tukang becak dengan enteng malah menjawab
” Ya kalau tak goblok tak jadi tukang becak Mas !”
Bukankah kita kadang tak sabar dengan pembantu kita yang udik.
Bahkan kita berharap pembantu bisa mengambil inisiatif kalau terjadi masalah.
mungkin kalau bahasa saya ke istri untuk membantunya tetap sabar
” Bu, mereka kan bukan lulusan ITB ? ”

Masih soal becak, setelah alot tawar menawar maka naiklah ibu ke beca
ketika ngebut penumpang segera protes :
” Bang jangan Ngebut biar selamat ”
Seenaknaya saja tukang becak menjawab
” Ala … Bu , 1000 saja minta selamat ”
Sebetulnya mau mengajarkan bagaimana lucunya kebodohan kita sendiri
minta kualitas namun dengan harga serba sangat murah.
Yang terjadi pasti permekosaan atas biaya operasional.
Dengan cepat kejar setoran tukang beca kemungkinan mendapat tarikan lain.
Keselamatan menjadi bukan prioritas utama.
JAdi ingat kasus Adam Air lagi.

Ketika seorang memanjat kelapa terjadi halilintar.
Maka dia bilang kalau aku selamat saya mau sembelih kambing,
turun separuh pohon, dia jadi berubah saya mau sembelih ayam.
ketika selamat sampai di bawah dia dengan santai bak bertanya
” Tuhan kan tak butuh ayam to ? ”
mentalitas kita menangapi ujian Tuhan digambarkan seperti pedangang.
Sok tawar menawar tergantung tingkat ancamannya.

kalau di bis kota seorang terinjak kakinya dia akan bertanya
dengan sopan :
” maaf, bapak tentara ? ”
” bukan ”
” kalau begitu, saudara bapak tentara ? ”
” juga bukan , memang kenapa ? ”
” la kalau begitu bapak … jancuk !”
walau cerita ini sekilas terasa dikarang gaya Madura
namun kita bisa belajar bahwa dalam kondisi terjepit pun,
strata kita yang lemah tetap diajari dengan gaya berusaha sopan.
Baru setelah semua jalan tak mampu berteriakkah kita
semisuh-misuhnya karean kita telah dizalimi.

Guyonan orang Madura yang kalau ditanya ” siapa presiden Indonesia ? ”
yang dijawab : ” Ndak tentu, kadang Harmoko, Kadang Hartono.”
“kalau Pak Harto ?”
“Pak Harto itu raja, Dik !”
Sebetulnaya mengembalikan kepada kita pertanyaan.
Benarkah Indoesia saat itu memiliki presiden, bukannya raja ?
Orang Madura ingin mengatakan Harmoko berkuasa, Hartono berkuasa
tapi Pak Harto paling berkuasa.
Kelihatan sekali orang Madura lebih bijak.

Kadang kalau kita tak tahu maksud Tuhan kita suka memaksakannya.
Ambillah contoh orang yang baik-baik berdoa tak dikabulkan.
Sedang orang kafir yang selalu berdoa kepada berhala
tiba-tiba tobat dan minta disembuhkan dari sakitnya
Tuhan kabulkan.
Tentu kita akan bertanya sok pintar seperti malaikat bertanya kepada Tuhan
” Kok Bisa ”
Jawab Tuhan :
” kalau tak kukabulkan doa si kafir itu, apa bedanya Aku dengan berhala ?”

Ketika terbaring di UGD sehabis kecelakaan membutuhkan tranfusi darah
seorang pemuda menolak bantuan darah pamannya, alasannya
” saya tak mau darah saya tercampur sama dosa paman saya.
kerjanya suka godain istri orang .”
tambahnya
” lagian saya tak mau pahala saya tak diterima Allah,
kareana di dalam darah saya mengalir banyak dosa ”
Sebetulnya ini guyon saja mungkin maksudnya
agar kita tetap menjaga kesucian hati kita.

Suatu hari seorang pemuda ketangkap operasi lalu lintas
dimarahi oleh plosis karena menunjukkan SIM orang lain
” Sampeyan ini bagaimana kok pakai SIM orang lain ? ”
Jawabnya
” lo kok bapak marah-marah, la yang saya pinjamin SIM saja tak keberatan ?”
karena memang di aturan tidak tertetera dilarang meminjam SIM orang lain
yang ada bila tidak memiliki SIM dikenakan denda bla bla

Ternyata kalau direnungkan dalam kekonyolan orang Madura
bisa jadi lebih jujur atau malahan benar
kadang malah terlalu logis mirip mister Bean
Jadi kalau suatu saat dengar guyon Madura,
jangan sewot dulu wah ini menghina.

Bagaimana orang Madur merendahkan diri di depan Tuhan
seperti ucapan lucunya berikut ini :
“Tuhan kalau mesti masuk syurga kayaknya saya tak pantes,
tapi kalau masuk neraka yo jangan tak iye .. ! ”

Ha ha ha ….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: