Posted by: sepanjanglempong | October 14, 2008

Serba Serbi Film Laskar Pelangi

Saya mencoba menghitung berapa yang didapat dari film laskar pelangi
dengan asumsi tiap tiket bioskop rata-rata
10.000 di Jakarta 21 : 15.000 – 25.000, didaerah mungkin 10.000
rata-rata jumlah kursi 300 selalu dipadati pengunjungsampai baris depan
sehari 4 kali pertunjukan
pertunjukan full selama sebulan = 30 hari 
jumlah gedung bioskop se-indonesia ada 100 Jakarta saja mungkin sudah 50 an
10.000 X 300 X 4 X 30 X 100 = 36 Milyard
katakan pajak tontonan 10 % = 3.6 M
biaya produksi = 8 M
biaya distribusi, promosi dll dibulatkan = 15 M
Maka mungkin keuntungan bersih = 17.4 M
Sekarang betul kita sadar bahwa film adalah industri yang menjanjikan
asal kita mau bekerja keras untuk sebuah kualitas
 
Novel ini pertama kali sempat ditolak oleh penerbit Bentang,
di Kompas Minggu diceritakan bahkan sempat dilecehkan
” mosok karyawan Telkom bisa karang novel sih …?”
kemudian Mizan menerbitkannya akhirnya juga ikut mendanai filmnya
bahkan bukan Gramedia sebagai penerbit besar.
Artinya karya besar bisa saja luput dari penerbit besar 
 
Pemain Ical, Lintang, Mahar, Samson, Kucai, A Kiong, Harun, Sarah dll
diseleksi dari dari 2000 anak-anak Belitung asli
mereka tentu tanpa pengalaman acting namun kepiawaiannya berakting bisa kita lihat
tidak mengecewakan bahkan sebagai bintang utama didampingi bintang bitang kawakan Mathias Muchus, Alex Komang, Rieke, Slamet Raharjo, Ikranegra, Cut Mimi, Jajang C Noor dll
Mungkin yang paling gampang adalah tak perlu mengajari mereka aksen Melayu
karena itu sudah bahasa mereka dalam keseharian
mungkin juga itu yang membantu mereka dalam menvisualkan tokohnya.
Mungkinkah hanya sekali mereka jadi aktor,
tapi tak apa-apa toh mereka memebrikan yang terbaik.
 
Banyak sutradara yang ingin menyunting novel ini menjadi film
dan Andre hanya mempercayakan kepada Riri Reza.
Mungkin Riri Reza kini menjadi legenda hidup macam Teguh Karya dulu
yang setiap filmnya pasti bagus dan kiat tonton
 
Film ini digarap dengan cukup cepat di setting daerah aslinya
mungkin untuk mengejar moment yang tepat libur Lebaran ini.

Salah satu tantangan film dengan adegan tempo dulu adalah membangkitkan kembali setting tempo dulu dan itu tak mudah
Setidaknya itu cukup berhasil dalam film ini
Suasana geriap pulau kaya ini era 74-an hidup kembali
Kenangan kita akan kapur tulis bebas debu dan pomade rambut yang lengket itu muncul lagi bukan ?
Belum lagi perhatian sepeda, jam tangan, pakaian, dll begitu detail.
 
Film ini mengungguli Petualangan Sherina, Ada Apa dengan Cinta, Gie, Ayat-ayat Cinta, selain brand positioning lama telah tercipta di masyarakat dengan kepopuleran novelnya
juga perlu diingat ini film bukan hanya segmen untuk anak-anak semata namun juga film pencerahan untuk segala umur
buktinya banyak yang semangatnya terpompa setelah menonton filmnya.
Nasehat yang mudah ditangkap : ” Jangan Pernah Menyerah …. ”
Bisa diterjemahkan panjang : ” Bahkan oleh kemiskinan sekalipun …”
 
Novel ini juga Ayat-ayat Cinta seperti dibilang mas Donny diceritakan secara linear.
Menurut saya bahkan bahasa satranya tidak begitu menonjol.
Tetapi setidaknya juga gelaja bagus
tonggak bangkitanya pengarang muda berbakat Indonesia
yang datang bukan dari kalangan sastrawan, ada sarjana Islam Kairo,
ada Pegawai Telkom, bahkan kawan saya SMA yang kini menjabat
Direktur Program MBA-ITB sudah menerbitakn novel remaja.

Saya juga jadi teringat penelitian almahrum Prof Mubyarto dulu
yang membuat telinga merah penguasa Order Baru,
faktanya singkat mengtakan berdasarkan penelitian itu,
di daerah-daerah yang sumber alamnya kaya raya
ironisnya penduduknya justru paling miskin
tengoklah daerah sekitar Arun, Caltex, Bontang, Freeport dsbnya.
apakah Belitung juga salah satunya ?

Kini semoga semua orang sadar Belitung juga indah
Tidak melulu Bali
mungkin juga banyak daerha lain yang indah seperti Belitung
Bahkan baru-baru ini dijadikan object wisata namanya Laskar Pelangi.
Bahkan simbol Laskar Pelangi diapaki di kampanye atribut Pemda.

Liputan Trans TV kemarin di Belitung ternyata tak ada gedung bioskop
jadi anak-anak Belitung mesti nunggu versi VCDnya barangkali.
 
Saya tak tahu,
apakah nanti naka-anak Indonesia akan diwajibkan nonton film ini
seperti kami SMA dulu mesti nonton film Janur Kuning
berbondong-bondongl ah kami dulu dari sekolah ke gedung bisokop.

Film ini juga menandai bangkitnya perfilman Indonesia kembali,
semoga menginpirasi kaum sineas Indonesia,
juga suatu bukti bahwa masyarakat Indonenia sendiri masih mau mengapresiasi karya anak bangsanya bila itu mutunya bagus tentunya.
Merka rela pesan tiket hari ini untuk pertunjukan besok,
bahkan menonton di baris terdepan pun tak mengapa.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: