Posted by: sepanjanglempong | October 10, 2008

Kisah Di Balik Tempat-tempat Wisata Ruhani

Setidaknya ada dua tempat raja besar yang pernah saya kunjungi makamnya.
Yang pertama Raden Wijaya , Raja Majapahit di dekat Trowulan dan Sultan Agung, Raja Mataram di Imogiri.

Baru-baru ini saya menemukan buku hasil reportase yang menarik berjudul Wisata Ruhani, bukan hanya ceritanya yang mengalir yang sebagian besar ada di tanah Jawa, namun juga makna dari setiap tempat tadi.
Kebetulan yang diamati adalah daerah sekitar Yogyakarta.

Syahdan Sultan Agung pernah meminta izin kalau wafat nanti
dimakamkan di tanah suci Mekkah, namun pembesar Arab menolaknya.
Begitu kecewa Sultan Agung menghadap Sunan Kalijaga.
Sang Sunan menghibur beliau akan melempar batu dari Mekkah
dan Sultan Agung mesti mencari tempat jatuhnya batu tersebut
untuk dijadikan tempat terpilih sebagian makam.
Tempat jatuhnya batu itu adalah Giriloyo,
sayang sang paman Panembahan Juminah, anak Panembahan Senapati
telah memintanya sehingga konon di lemparan keduanya itulah
dijadikan makam Imogiri yang sekarang.

Ada yang unik di Imogiri ini, di dekat pintu gerbangya ada tangga
yang bentukanya berlekuk-lekuk sehingga mudah diinjak peziarah siapa saja.
Di sinilah dimakamkam Tumenggung Endranata, sesorang yang membocorkan
kepada VOC dulu tentang keberadaan lumbung-lumbung bahan makanan Mataram
saat menyerang Batavia yang legendaris itu.

Ada lagi kisah Ki Ageng Giring yang terkenal dengan kisah banyu degan
(air kelapa) itu. Beliau tingal di daerah Gunung Kidul dan sobatnya
Ki Ageng Pemanahan tinggal di Pajang sebagai abdi Sultan Hadiwijoyo.
Dalam sebuah wangsit disebutkan barang siapa memimum air degan itu
maka anak turunnya akan menjadi raja-raja besar di Jawa.
Agar seteguk bisa habis maka air degan itu ditaruh di dapur,
untuk ditinggal ke ladang dahulu namun secara tak sengaja Ki Ageng Pemanahan mampir dan sangat keahausan menemukan degan ini dan meminumnya.
Betapa hancur persaan Ki Ageng Giring, namun apa daya sudah suratan takdir.
Beliau merelakan namun berpesan di keturunan ke 7 nanti nunut mukti,
agar keturuannya ganti menjadi Raja Mataram.
Keinginan ini terwujud ketika Pangeran Puger menjadi Raja bergelar
Suuhunan Paku Buwono I.
Di dekat pemakaman belaiu ada kali namanya Kali Gowang,
yang menunjukkan suasana hati yang terluka atau kecewa
katanya di tempat itulah Ki Ageng Giring sering bersemedi dalam kedukaan.

Lain lagi dengan makam pendiri Mataram Panembahan Senopati yang disebut dengan Perasean Mataram di Kota Gede, Yogya.
Di sini bisa ditemukan watu gatheng dan wathu genthong bentuknya setengah bulat, yang mennjadi tempat semadi sang raja di sisi timurnya terdapat cekungan. Konon cekungan ini terbentuk karean dibenturkannya tokoh pemberontak juag menantunya sendiri : Ki Ageng Mangir.
Ki Ageng Mangir juga dimakamkam di sini namun anehnya separuh di dalam tembok separuhnya di luar tembok.
Mungkin inilah pesan yang ingin disampaikan kalau sesorang memberontak terhadap kekuasaan kerajaan yang sah.

Ki Juru Martani adalah penasehat penting kerajaan juga dimakamkan di sini.
Beberapa prestasi bisa dikenaang semisal :
pertama, adalah siasat yang menyuruh Sutowijaya menaiki kuda betina yang telah dipotong ekornya sehingga sangat menarik kuda sakti Gagak Rimangnya
Arya Penangsang membuat mengejar sehingga menyeberangi Bengawan Solo.
Sesuai kepercayyan siapa yang melintasi sungai dialah yang akan kalah.
kedua, ketika terjadi rencana penyerangan Mataram oleh Pajang
yang jumlah bala prajuritnya lebih besar beliau bertapa sehingga terjadilah bencana letusan Gunung Merapi
ketiga, siasat mengirimm Putri Pembayun yang menyamar sebagi ledhek ke Mangir untuk merayu Ki Ageng Mangir dan dan membuat gerbang Mataram rendah sehingga terpaksa tombak sakti Ki Ageng Mangir yang bernama Tombak Baru Klinthing mesti dicondongkan sehingga kehilangan kesaktiannya.

Sebelum memasuki daerah Mangir konon Puteri Pembayung berendam di sebuah sendang yang kemudian diberi nama Sendang Pengasihan sehingga penampialnnya menjadi sangat menawan dan mempesonakan Ki Ageng Mangir.
Hingga saat ini sendang ini banyak didatangi oleh orang yang ingin meningkatkan daya tarik penampilannya.

Ada lagi Pemakaman Wotgaleh di dekat AAU Adi Sucipto yang merupakan komplek keluarga Purbaya seorang putra Panembahan Senopati juga.
Saat belum manjadi raja masih bernama Danang Sutowijaya mendapat wahyu
untuk bisa menggenggam wahyu keraton beliau harus menikah keturunan Ki Ageng Giring yakni maka menikahlah dengan Rara Lembayung.
Sayang setelah menikah ditingal pergi dan mengandunglah sang putri.
Anak ini konon sejak lahir sudah sakti bahkan ari-arinya pun tak bisa diputus dengan alat apapun juga sehingga oleh kakeknya dibuang ke hutan.
Kemudian tumbuh menjadi anak yang kuat dibawah asuhan harimau putih.
Singkat cerita berita ini terdengar, kakeknya menyuruh mencari bocah ini,
namun sang harimau hanya mau melepas sang anak kalau ia ikut serta.
Saat besar ia menuntut pengakuan sebagai anak Panembahan Senapati.
Sang raja mengabulakan asal mau mebunuh pamannya Ki Gede Wanakusuma
yang gejala akan tidak tunduk kepada Mataram juga ibunya.
Perintah inipun dilaksanakan bahkan targisnya ketika sang anak
menceritakan kepada kakeknya sang ibu berpakain serba putih
menabrakkan tubuhnya ke keris yang tak bersarung itu.
Inilah cerita Jaka Umbaran , diumbar artinya dilepas,
sebagaimana dia pernah dilepas di hutan dahulunya.
Saking angkernya pemakaman ini katanya tak ada pesawat yang berani
melintasi di atasnya.

Bila anda suatu saat sempat mengunjungi makam-makam tua ini
harapannya setidak-tidaknya adalah kenangan akan membekas
dan semakin mencintai sejarah budaya bangsa sendiri
walau sarat dengan legenda yang kebenarannya pun diragukan.
namun kadang memuat simbol dan makna yang ingin disampaikan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: