Posted by: sepanjanglempong | October 9, 2008

Sungkeman

Apa yang dilakukan orang jawa di saat Lebaran ?
Setelah sholat Ied mereka akan ke makam
mengirim doa dan mengenang yang telah mendahuluinya.
Orang Jawa memang memperlakukan hormat orang yang telah wafat
selayaknya seperti juga yang masih hidup.

Setelah itu akan dilakukan salah satu budaya Jawa yaitu Sungkeman.
Bagi yang berakar budaya Jawa tentu lebih berpengalaman,
tapi bagi yang bukan berakar budaya Jawa mungkin ingin mengerti

Biasanya sungkeman dilakukan kepada orang tua atau yang sederajat atau lebih. Sederajat bisa tante, paman, budhe, pakdhe, ataupun tetangga yang kita tuakan seperti orang tua kita. Yang lebih, bisa kepada Kakek , Nenek, Kakek Nenek Buyut.

Yang dituakan sepasang akan duduk dan yang melakukan sungkeman akan sujud di bawahnya untuk kemudian menyalami sambil menundukkan kepala.

Dengarlah terjemahan apa yang dikatakan yang muda :
( dalam bahasa aslinya Jawa tentu lebih indah )
” Menghaturkan Selamat Hari Raya Idul Fitri,
Mohon Maaf Lahir dan batin
Semoga Lebur Segala dosa di Hari Suci ini ”

Yang Tua lebih kurang akan menjawab :
” Yang Tua Banyak Melakuakn Kesalahan,
Yang Muda Lebih besar Pengampunannya,
Semoga Tuhan selalu memberkati …”

Ucapan ini adalah puncak segala kebencian dan kecintaan selama setahun atau bahkan waktu yang lebih lama. Begitu sakralnya acara ini banyak sekali yang terharu begitu kaki kita bersujud menyentuh lantai.
Bercucuran air mata.
Kadang bibir tak banyak bicara karean cukuplah bathin yang mengatakan.
Tergambar segala peristiwa lalu. Terutama yang mendatangkan permusuhan dan kebencian. Terasa penyelasan tiada tara kenapa mesti terjadi.
Apalagi masih di dalam sesama anggota keluarga besar.

Setelah melakukan sungkeman kembali merasakan ke fitrah .
Terasa kembali ke Nol.
Lalu berhamburlah suka cita, canda tawa.

Mungkin ketika pertama kali jumpa sangat meriah.
Saling bertanya saling mengabarkan.
Tapi begitu aba-aba Sungkeman dilakukan menjadi sunyi senyap, haru biru.
Urut dari yang dituakan misalnya sungkem kepada nenek dimulai dari
keluarga pakdhe budhe, dilanjutkan keluarga paman tante dan seterusnya.
Lalu dilanjutkan saudara sepupu, saudara dan para tetangga sebelah.

Setidaknya inilah salah satu yang meyebabkan Lebaran di jawa sungguh berkesan. Suatu pengalaman bathin yang ingin selalu diulang.
Sekarang kita mengerti kecuali kerinduan keluarga …
kenapa kita rela menempuh ratusan kilometer jauhnya,
bahkan terjebak macet puluhan jam lamanya.

Dengarlah bila anggota keluarga saling berjumpa tentu akan menyapa :
” Sudah Sungkem kepada siapa saja ? ”
Ada perasaaan keharusan dan kewajiban untuk melakukan Sungkeman,
kepada yang dituakan dalam budaya Jawa.
Kecuali Silaturahmi mungkin juga perwujudan rasa hormat yang dalam budaya Jawa sangat kental seperti juga nampak dalam strata Bahasanya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: