Posted by: sepanjanglempong | October 9, 2008

Pelajaran dari Film Laskar Pelangi

Film ini memang didahului oleh ngetopnya novelnya,
lebih ngetop lagi ketika Kick Andy menyangkangkan dalam sebuah episode.
Sehinga brand image sudah tercipta sebelumnya dengan kuat.
Bila anda rajin ke toko buku episode Kick ini selalu ditanyangkan
sebagai media promosinya.

Seperti juag Ayat-Ayat Cinta novel ini nyaris autobiografi penulisnya.
Bila anda rajin membacanya kedua novel ini belum nampak kehebatan
sebagi seorang penulis, namun lebih didukung karean keinginan yang
meledak-ledak untuk menuliskan kenangan indah.
Itu sebabnya saya pribadi cukup lelah membaca kedua novel ini
untuk kemudian melompat ke filmnya baru kemudian menyelesaikan novelnya
untuk melihat adakah yang berbeda dengan novelnya.
Apakah jadi lebih indah atau tidak ?

Mungkin tanpa disengaja penulisnya Laskar Pelangi menjadi sebuah novel motivasi,
namun juga kita bisa melihat dari perpektif lain : film anak-anak.
Begitu riuhnya anak-anak menonton hingga di kursi paling depan sekalipun.
walau Denias juga bagus tapi mungkin karena boom novelnya yang mendahului
itu yang menyebabkan walau minus promosi dibanding Sherina yang 2 milyard ( sama dengan biaya produksi ) itu film nyaris mendapatkan response yang bagus. Banyak pula remaja dan orang tua yang menonton.
Tengoklah kini di toko buku nyaris tiap hari ada remaja yang memegang bukunya dan ngerumpi akan kehebatan filmnya.
Buat publik sendiri kalau anda rajin mengamati perfilamn Indonesia yang barusan bangkit adalah sebuah pilihan alterntif yang lain.

Begitu dengar Riri Reza dan Mira Lesmana ingin menfilmkan novel ini
saya bahagia sekali, di kedua profesional muda ini, aspek industri,
seni dan idealisme bisa digabungkan. Terbukti dari film-film sentuhan tangan dingin mereka sebelumnya yang selalu mendapat respons bagus.
Film ini juga ditanyangkan di saat yang tepat, Ketika liburan Lebaran
dan liburan anak-anak sekolah yang tentu berduit.

*

Kadang dalam menonton kita bisa nyinyir : menangis dan tersenyum
Lihatlah sosok Lintang , anak pelaut pesisir miskin yang setiap sekolah
mesti kerap kali menghadapi halangan buaya besar.
Sungguh perjuangan yang tak gampang.
Sayang gambaran puluhan kilometer bersepeda tidak tergambarkan …
Expresi wajah kekawatiran sambil menunggu buaya yang tak kunjung bergeser
saat mesti datang ke cerdas cermat lebih membuat kita terharu betapa gigihnaya seseorang ingin menoreh berprestasi.
Bayangkan mudahnya anak sekarang sekolah, kadang jemputan sudah datang pun
anak-anak kita belum mandi, masih rewel belum siap.

Ketika semua orang menyerah dengan sekolah Muhammadiyah,
kepala sekolah mengingatkan sekolah ini bukan hanya mengajarkan kurikulum untuk membuat pandai tapi juga budi pekerti.
Katanya : ” Kau ini bisa jadi begini ( mulia maksudnya ), karena
lulusan sekolah yang sama … di Yogya ”
Tokoh ini meninggal di sekolah adalah contoh suri tauladan
yang tidak menyerah akan godaan materi semata namun ada idealisme yang diperjuangkan.
Baginya sekolah yang sudah doyong cukuplah disangga batnag pohon,
kaki kursi yang patah bisa disambung,
tapi tidak dengan semangat …. harus tetap menyala-nyala.

Juga masa kanak-kanak adalah masa penuh kretivitas baik bermain atau belajar, sekolah sekolah maju alih-alih menambahkan porsi bermain
malah menambahkan mata pelajaran yang sarat membebani
kebiasaan melihat pelangi pun menjadi suatu kesenangan tersendiri
disamping juga belajar ke alam langsung yang lebih meresap.
Lihat kreativitas Mahar yang paling tinggi nilai keseniaanya.
Begitu percaya diri bak orang gila menciptakan tatananan tarian karnaval.
mungkin karena main bebas di alam tumbuhlah ide-ide liarnya,
karena permainan tak kita giring ke sepatu roda dan drumband melulu.
Perosotan pelepah enau pun tak kalah asyiknya.

Masa awal pubertas sangat indah disorot,
ketika kita menjelang lepas SD jadilah akil balig mulai menyukai lawan jenis, tangan mulus dan kuku putih pun sungguh indahnya.
Anak belajra menaghadapi tantangan pertama patah hatinya.
Dendang Melayu makin lengkap pula menggambarkan ini.
Kenangan puisi dan box mainan menjadi kenangan abadi.
tapi jangan lupa ya kata A Kiong dengan wajah hati-hatinya
” 5 menit saja, Papa A Ling galak …”
Anak pun belajar, selalu ada resiko untuk sebuah kesenangan

Potret Guru-guru yang nyambi menjahit,
mungkin kini mengojek adalah kenyataan.
Menjadi guru yang mulia itu adalah semangat mengabdi.
Pun menjadi dosen di Perguruan Tinggi banyak yang masih merana
dari sisi kesejahteran.

Mengapa ada anak sekolah PN TImah yang maju minta ke sekolah jelek.
Itu menjadi perenungan sendiri …
Sekolah bukan hanya bangunan fisik, tapi juga banguan jiwa.

“Sekolah macam apa nih . Guru tak ade , murid pun tak ade ”
Teriak Ical mengeluh, Lintang pun bertindak.
Berdua mengumpulakn teman, mengumpulakn semangat.
Belajar sendiri tanpa guru. Linat pun menginspirasi teman-temannya
” Sukarno di tempat yang lebih jelek dari kita,
tapi setiap hari belajr dan belajar,
Sukarno menjadi salah satu orang yang pandai di negri ini ?”
Manusiawi, tak ada manusia sempurna begitu pula ibu guru
sepeninggal Mak Cik Kepala sekolah berkabung 1 minggu.
Tapi mengintip semangat anak didiknya hatinya pun luluh.

Bertubu-tubi tantangan datang di sekolah reot ini dengan seisinya
tapi selalu ingat kata almahrum kepala sekolah
” Jangan Pernah Menyerah …! ”
Bak Kehidupan itu sendiri
” Jangan Pernah Menyerah …! ”
itu yang kita pelajari garis besarnya dalam film ini.

Setelah menonton film ini,
aku berpesan kepada Katia yang kelas 5 SD AL Fajar
salah satu SD yang berpredikat terbaik di Bekasi
” Lihat Laskar Pelangi,
dengan sedikit fasilitas mereka apa adanya
tak menyerah untuk terus sekolah,
apalagi Kau anakku …”
Sambil kucium manis dan berdoa,
Semoga engaku kelak menjadi orang yang banyak berguna,
banyak M E M B E R I …


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: