Posted by: sepanjanglempong | October 9, 2008

CATUR PARAMITHA

CATUR PARAMITHA

Punapi Gaung Hatimu
Punapi Gaung Hatimu kasih ?
Aku tetap setia tresna ring kamu
Bila begitu kecuplah mata kasih

Punapi Gaung Hatimu
Punapi Gaung Hatimu kasih ?
Aku tetap setia tresna ring kamu
Bila begitu kecuplah maat kasih

Engkau Gunung di malam hari
Di saat kumelaut Bali
Engkau laut di siang hari
Di saat kumenggulung Bali
Secercah sinar sergap tangkap
Secercah diayun-ayun
Secercah sinar sergap tangkap
Secercah yo hap hap hap hap

Kau dan Aku gunung dan laut
Kau dan akun gunung dan laut
Merah membara sungai berliku
Menghijau membiru memutih

Catur Paramita

*

Semua dari kita mungkin tahu artinya Catur yaitu bilangan empat tapi sedikit yang tahu arti Paramitha. Dulu saya pikir Catur Paramitha sekedar nama orang karena aku sangat terpengaruh akan rentetan syair lagu Leo. Barusan saya dapat bisikan dari sang penyair Bung Wayan Sunarta, bahwa itu ajaran agama. Sebetulnya berguru kepada agama lain, lebih tepatnya berguru kebijaksanaan hidup juga menjadi perhatian banyak orang dalam menempuh kehidupan.

Kalau anda ngebrowse akan banyak dijumpai nama Paramitha utamanya wanita. Saya ragu apakah setiap pemberi nama itu tahu artinya atau sekedar enak didengar saja. Dan akhirnya saya menemukan ternyata Catur Paramitah adalah ajaran agama Budha atau Hindu ( ? ). Secara sederhananya keempat konsep Catur Paramitha tadi adalah maitri (memiliki cinta kasih), karuna (suka menolong), mudita (simpati) dan upeksa (menghargai semua orang).

Kalau benar Catur Paramitha adalah ajaran agama, maka sekarang kita bisa tahu bisa mengerti maka bisa saja yang dimaksud Kau disini adalah secara implicit oleh Leo adalah Tuhan. Bila ini benar berarti satu lagu bertambah menambah panjang diksusi Mas Henry Ismono dulu : Leo, Tuhan dan Kematian .

*

Inilah kutipannya,

Sifat luhur atau sifat KeTuhanan pertama adalah Metta (Pali) atau Maitri (Sansekerta) , yang berartisesuatu yang dapat menghaluskan hati seseorang, atau rasa persahabatan sejati. Metta dirumuskan sebagai keinginan akan kebahagiaan semua makhluk tanpa kecuali. Metta juga sering dikatakan sebagai niat suci yang mengharapkan kesejahteraan dan kebahagiaan makhluk-makhluk lain, seperti seorang sahabat mengharapkan kesejahteraan dan kebahagiaan temannya,

Sifat keTuhanan Yang kedua dapat memuliakan manusia adalah kasih sayang (Karuna), yang dirumuskan sebagai sesuatu yang dapat menggetarkan hati kearah rasa kasihan bila mengetahui orang lain sedang menderita, atau kehendak untuk meringankan penderitaan orang lain. Coraknya yang paling menonjol adalah kecenderungan untuk menghilangkan penderitaan orang lain.

Sifat keTuhanan yang ketiga adalah mudita atau rasa simpati yaitu ikut merasa bahagia melihat orang lain berbahagia atau perasaan genbora yang dapat menghilangkan rasa iri hati. Kerap kali terjadi, bahwasannya banyak orang tidak tahan apabila melihat atau mendengar keuntungan dan kebahagiaan orang lain. Mereka senang mendengar kegagalan atau kesusahan orang lain, tetapi mereka tidak senang melihat kemajuan orang lain. Mereka bukannya memuji atau mengucapkan selamat kepada mereka yang beruntung itu, tetapi malahan berusaha menyabot orang tersebut. Salah satu cara untuk mengatasi perasaan iri hati ini adalah mudita, karena mudita dapat mencabut akar-akar sifat iri hati yang merusak. Disamping itu, mudita juga dapat menolong orang lain, karena dengan memiliki mudita seseorang tak akan menghalangi kemajuan dan kesejahteraan orang lain.

Sifat keTuhanan yang keempat, yang merupakan sifat luhur paling sukar dan paling penting adalah upekkha (keseimbangan batin). Dalam bahasa Pali kata “Upa” berarti “dekat”, dan kata “Ikh” berarti “melihat”, jadi Upekkha berarti melihat dari dekat, yang mempunyai makna : melihat dengan adil, tidak berat sebelah, lurus atau tegak. Secara harfiah, Upekkha berarti pertimbangan yang lurus, pandangan yang adil atau tidak berat sebelah, yaitu tidak terikat atau benci, tidak ada rasa tidak senang dan tidak senang.

*

Hanya kali Leo melihat dari perspektif bukan agama Kristiani tepatnya Katholik mpat lingkungan yang membesarkanya di kala kecil. Seperti juga Ebiet juga terakhir mengkoreksinya di Kompas kemarin lusa ternyata : “ Ingin berjalan berdua denganmu Kekasih “ bukan untuk seorang wanita tapi lebih kearah Tuhan. Bedanya Ebiet menjelaskan secara gamblang, kalau Leo malah berpikir dulu kalau ditanya. Hm, sudah lupa barangkali …

Pantaslah Leo bisa berujar : “ Secercah sinar sergap tangkap “

Wallahualam, Hanya Leo yang tahu !


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: