Posted by: sepanjanglempong | September 19, 2008

Padha Bae Lah … Bahasa Banyumasan

Bila anda pernah main ke Jawa, pernahkah mendengar bahasa Banyumasan ?

Bahasa yang oleh sebagian masyarakat Jawa didengar kasar
atau sering disebut “pating klothak”
karean suaranya riuh bak suara kayu-kayu kering yang sedang bergesekan
Sedari dulu saya berpikir kedudukan bahasa ini unik menjadi pertanda khusus orang Banyuumas hanyalah perpaduan atau gesekan Bahasa Jawa dan Sunda hingga jadi begitu.
Namun kenyataan lebih banyak orang Jawa lebih mengerti dialek Banyumasan
dibanding orang Sunda menyebabkan aku bertahun-tahun bertanya dari mana asal muasal bahasa ini ?
Apalagi tidak ada pusat kebudayaan di daerah ini ?

Secara garis besar dialek Bahasa Jawa mungkin dibedakan 4 dialek besar yakni :
1. Pesisiran ( Semarangan, Tegalan, Pekalongan, Cirebonan )
2. Surokartan ( Surakartan dan Yogaykartan ),
3. Bayumasan ( Purwokertoan, Kembumen, Pemalangan )
4. Surabayanan ( Surabaya, Madiunan, Banyuwangenan ).
Bahasa Sunda walau penduduknya mendiami daerah pula Jawa dianggap bukan bahasa Jawa.

Wilayah Bayumas meliputi empat kabupaten : Banyumas , Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara. Batas Barat Sungai Citanduy membatasi dengan propinsi Jawa Barat, Selatan Samudra Hindia, Timur daerah Wonosobo dan Utara dengan Pekalongan, Pemalang, Tegal dan Brebes. Semua wilayah ini adanyanya di Jawa Tengah. Daerah yang berbatasan itu kadang terjadi persinggunagn terasa betul pengaruh Bayumasan, terutama di daerah utara atau pesisir utara Jawa Tengah.

Ada ungkapan yang cukup tepat untuk Orang Banyumasan.
” Adoh Ratu cedhak Watu ” artinya : “Jauh dari Ratu dekat dengan Batu.”
Bisa dipahami dari Sejarah daerah ini yang sedari dulu hanya menjadi bagian pinggiran dari wilayah kekuasaan-kekuasaaa n besar di Jawa sebut saja darimulai Majapahit , Demak, Pajang hingga Mataram.
Namun yang perlu diingat daerah ini tidak pernah menjadi pusat kekuasaan sendiri. Tidak pernah ada raja muncul di sini paling tinggi pangkat cuman Adipati. Di sebelah barat muncul pula kekuasaan Pajajaran

Hikayat Lutung Kasarung atau Kamandaka yang menceritakan perjalanan bathin putra mahkota kerajaan Pajajaran mencari jodoh malah menandakan daerah ini benar-benar daerah pinggiran Pajajaran.
Jauhnya dari pusat kekuasaan inilah yang oleh para Sejarawan Banyumasan
dijadikan sebab jauhnya pengaruh kebudayaan Jawa baru .
Artinya masyarakat Banyumas sebenarnya adalah masyarakat yang mempertahankan bahasa Jawa asli.
Jawadwipa namanya atau krama lugu, bahasa rakyat, bahasa keseharian .

Bahasa ini diyakini ada, sebelum Ajisaka yang diduga datang dari India itu dengan Bahasa Sangsekerta dan huruf Palawanya. Kemudian lalu mencipatkan huruf tersendiri aksara Jawa Ha na ca ra ka. Sebelum pengaruh besar dipercayai mereka telah kembali ke tanah asalnya karean adanya wabah pes di Jawa. Yang terjadi adalah gabungan bahasa Jawa Jayadwipa asli tadi denagn Sangsekerta disebutnya Bahasa Kawi atau kiat kenal sebagai Jawa Kuno. Dulu di SMA kelas a1 tahun 1981 saya sempat belajar bahasa ini bahkan sempat mendapat tugas untuk mengumpulkan perbendahaaraan kata-kata Bahasa Kawi. Betapa Susahnya.

Bahasa yang berkembang sekarang hingga menggenal tingkatan lugu, madya ( tengahan ) dan inggil ( utama )konon adalah bahasa yang dikembangkan Pujangga jaman kerajaan Surakarta yang diyakin kebudayan cukup tinggi.
Masih ingat 2 pujangga besar Jawa memang lahir di sini : Yosodipura dan Ranggawarsito ?
Dikembangkan secara Sistematis sebab kalau kita bealajar Bahasa Krama Inggil nampak keteraturan

Simaklah beberapa contoh berikut :
1) a -> i = menawa : menawi ( = bila )
2) ra/na -> = ten : pira : pinten ( = berapa ) , ana : wonten ( ada )
3) ra/rang -> wis = prakar : prakawis ( masalah ), arang : awis ( = mahal )
4) ri -> rim/tun = lemari : lemantun ( almari ), kirim : kintun ( = kirim )
5) ti -> tos = ganti : gantos ( = ganti )
6) du -> ben : adu : aben ( = adu )
7) yu -> jeng = nguyu : ngujeng ( = ketawa )
8) li -> sul = tali : tangsul ( =temali )
dstnya.

Bahasa Jawa ini disebut bahasa gendhakan.
Gendhak adalah pembantu raja, layaknya seorang abdi akan berbicara dengan nada sopan. Sebagai akibat contoh mengucapkan kata ‘a’ tidak bulat-bulat ‘a” cenderung menjadi ‘o’. Sekarang kita bisa mengerti kalau orang Banyumas bilang “Padha” dengan ‘a” bulat orang Jawa akan bilang “Podho” cenderung ke ‘o’ untuk sama kata yang artinya “sama”. Tidak hanya itu hampir semua huruf lalu diucapkan ringan dan lemah termasuk huruf-huruf yang semestinya diucapakan dengan mantap : d, g, h, j, k, o dan w.

Ada cerita lucu cerita yang benar-benar terjadi
Seperti disebut tadi karena merasa bahasanya kasar maka sering kali bila
orang Banyumas sekolah di Yogya misalnya akan meyembunyiakn identitas bahasanya kecuali kalau mereka berkumpul sesama warga daerahnya
daripada nanti dibilang : ” Ayu-ayu ngomonge kok pating klothak ?”
( = ” Cantik-cantik kok ngomongnya kasar ? ” )
Setiap sabtu sore bila rombongan ini pulang dari Yogya menuju Banyumas
menaiki kereta Purbaya ( Purwokerto – Surabaya )
Selama perjalanan dari satiun Lempuyangan Yogya tadi sedikitpun terdengar pembicaraan ngapak. Namun begitu melewati batas demarkasi yakni statiun Kutoarja semu penumpang yang rata-rata berusia muda akan buka kartu identitasnya ramai ngomong seru gaya Banyumasan.

Cobalah berlatih bahasa Bayuamsan ini :

“Anggeren Bawor bisa ngomong,
Wong Bayumas kudune bisa nyombong,
Knangapa koh malang ming ndomblong,
lha … goran nyombong bhae wis keminclong !”

*) Bawor adalah tokoh wayang asli Banyumasan
wajahnya mirip togog, karakter wajahnya memang terlongong ( = ndomblong )

Seumpama tokoh wayang Bawor itu bisa bicara
Orang Banyumas tentunya bisa juga menyombongkan diri
Tapi mengapa kok bahkan hanya terkenal terlonglong,
lah … tidak menyombong saja sudah terkenal dimana-mana

*) bahasanya yang lain itu yang menyebabkan nge-top di antara orang Jawa

Jangan lupa pula Bahasa ini juga sempat memberi rezeki setidaknya buat Pelawak kita, sedikit pengaruh Bahasa Banyumasan ini, Tegal terdengar lucu sempat menjadi trademark bahasa Humor. Masih ingat tokoh Ogut yang celananya sampai ke perut dulu ? Atau almahrum Kasino Warkop atau Parto ( Ngelaba ) Tegal, Cici Tegal. Sering sekali menggunakannya dan kita akan tertawa mendengarnya. Dulu ketika kecil suka ditakut-takuti katanya di Tegal tidak ada “sego” ( = nasi ) . Bisa kebayang makan apa nanati kita Tiwul atau Jagung barangkali. Ternyata itu hanya kelakar sebab memang di Tegal adanya ” sega ”

Jadi,
Orang Banyumas bisa berbangga diri mengatasnamakan
Bahasa Ngapak-ngapak itu ya Bahasa Jawa yang asli ,
dan bolehlah sombong karena mereka merasa lebih tua
setidaknya dari sudut bahasa ?
atau ringannya akan mengatakan semua itu :
“Padha Bae lah …! ” ( Jawa = Podho Wae lah …. = Sama Saja Lah ! )

Begitu konon ceritanya,

Dari mana asal basaha Usingan di Banyuwangi, apakah seperti pandangan bodohku tadi
persinggungan Jawa dan Bali ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: