Posted by: sepanjanglempong | September 18, 2008

Water Please …

Siang kemarin panas

sebelum hujan

aku berikan briefing ke anak muda dari Jerman

denagn segala keramahatamahan

kutawarkan kopi, teh, coklat …

dia dengan tegas menjawab

“water please ..”

mungkin kalau boleh terjemahkan

“air saja …”

 

jadi air sudah lebih cukup 

susah mengatakan

” kita ini lebih dari cukup …”

kalau pulang terkantuk-kantuk lelah

saya colek istri saya

untuk bersyukur

melihat perjuangan buruh cangkul yang tegar

menentang angin dan dingin malam

di atas jembatan Cibubur

makan pun ngutang

sebelum dapat order kerjaan

datang dari rangkasbitung

pandeglang …

jauh tinggalkan anak istri

kubilang lagi

” kita ini lebih dari cukup …”

andai

kita mau ke Eropa

minggu depan kita berangkat

mau naik haji

mau bangun rumah

insyaalha ada

tapi mereka …

Ya Allah

tabahkanlah mereka ..

kadang

saya menitikkan airmata

impati saya saja

persis ketika saya naik angkot

dan kaget kok jadi 2000

gimana dengan orang yg gajinya 1 juta

atau geriap canda tawa dengan anak istri

terganggu dengan melihat buruh cangkul

yang berterik panas menawarkan jasa

membersihkan halam dan rumput

ah …

tiba-tiba aku ingat ayah

yang dulu jualan bahan material

kadang harus menginap di warungnya

di pinggiran kota Semarang

di area yang cukup gawat

meninggalkan kami di rumah

saya kadang menagis

minta agar ibu menghentikan kerjanya

takut kalau bapak dirampok

 

bapak ibu saya yang sudah di atas 80 tahun

selalu kutelpon dan cerita

sakit pengapuran

susah buang air

masuk angin

batuk

tapi saya besarkan hati beliau

dengan saya bilang

“saya aja yang 40 tahunan

suka masuk angin juga kok Bu … !”

 

ketika conference Unilever di Bali

saya bawa mereka menginap di hotel Nikko

di pinggir jurang di Jimbaran yang mewah

dan berlanjut 3 hari ke Ubud

melihat harian hidup orang BAli

omong-omong dengan orang asli Bali

menonton tari api , kecak,

yang selama ini cuman dilihat di TV

kulihat senyum bahagia …

setelah lelah mebesarkan kami semua

saya genggam tangan ibu

dan saya cium keripu pipi ayah

saya bisikan

“kita ini lebih dari cukup yo Pak …”

mereka mengangguk

mengingat seangkatan mereka

sudah tiada di kampung


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: