Posted by: sepanjanglempong | September 18, 2008

Pengampuna Prose Hukum Suharto

Ketika Pak Karno jatuh dulu Pak Harto
menggunakan filosofi Jawa terhadap bapak bangsa ini
dengan ” Mikul Dhuwur Mendhem Jero ”
terjemahan bahasa Rusianya kira-kira
“Ketika hidup dijunjung tinggi, mati ditanam dalam2”
artinya dihormati begitu lahh ..
karena filosofi ini pak Karno tidak pernah diproses hukum
dinyatakan bersalah atau tidak
cuman dipenjara di rumah Sari Dewi di wisma Yaso
( sekarang Museum satria Mandala )
dikucilkan dari dunia luar bahkan koran pun tidak diperbolehkan
padahal kita tahu Bung Karno adalah seorang intelektual
seorang Insinyur Sipil yang suka membaca buku
seorang orator dan politikus ulung
di masa mudanya beliau habiskan masuk ke dunia maya : buku
di sana berkenallan dengan ide-ide tokoh dunia
juga Orde Baru mende-Sukarno habis-habisan secara sistematis
hingga tak pernah ada sejarah yang benar
di film Serangan Fajar tokoh Suharto lebih ditonjolkan
dari pada Hamengkubuwono atau Pak Dirman misalnya
anak-anak kita hanya tahu Sukarno Hatta itu Proklamator.Titik
karena ketelibatan kritisnya di Petisi 50
Hatta juga dibegitukan …
Mana ada jalan Ir Sukarno ? Drs Moh. Hatta ?
Bolehnya juga keduanya. Di Bandung ada tuh rasanya …
tapi anda bisa temukan jalan Ahmad Yani di berbagai kota.
“Memang nama besar tidak perlu dibesar-besarkan”
Juga Kata Zainuddin MZ dulu di kotbahnya


Penghentian proses hukum akan menambah ketidakjelasan.
Dan “Ketidakjelasan” itu sangat berbahaya.
Dengan Ketidakjelasan itu berjuta saudara kita
dituduh PKI dibunuh tanpa proses pengadilan
Seandainya Sukarno dulu dinyatakan bersalah
mungkin jadi semua orang tahu aspek hukumnya
tanpa harus menderita seumur hidupnya
atau bahkan setelah wafatnya
Anak-anak tidak lagi kenal Sukarno-Hatta
tapi di ujung-ujung desa dan kota para orang tua
merindukan tokoh-tokoh seperti ini

 

saya ini orang Jawa …
tapi terus menggali budaya Jawa
untuk mengenal diri saya sendiri
lewat Filosofi Jawanya orang Jerman Frans Magnis Suseno
atau Neils Mulder
yang saya tahu orang Jawa cenderung menghidari konflik
tapi melakukan pembalasan dengan diam-diam
ingat to filosofi “blangkon” ( kupluk Jawa ) itu ?
di depan senyum-senyum di belakang siap gebuk dng pentholnya
mungkin itu perlakukan Suharto terhadap Sukarno

Penegakan Hukum mestinya terlepas dari Politik.

Lalu muncul dagelan baru

Proses pengampunan Suharto dibarengi dengan Rehabilitasi
Nama Baik Presiden Sukarno ?

 

Kasihan Pak Karno namanya dicatut
untuk kejahatan orang lain ?

 

Lho Mentrinya kan Profesor dan para Doktor to ?
Tapi kok goblok seperti tukang rumput to ?
saya ingat waktu tingkat pertama setiap kali ke
perpustakaan pusat UGM ada tulisan plakat kuningan
menempel di dinding gedung kuno di Skip itu
Gedung ini diresmikan oleh Paduka Yang Mulia Dr Ir Sukarno
Ir jelas …. wong punya ijazah lulusan ITB
Dr Honoris Causa …. jelas juga diberikan UGM
tapi kan semua itu gelar akademis ya
tidak ada sangkut pautnya dengan integritas seseorang
saya jawab pertanyaan saya sendiri
makanya saya tidak salah mengusulkan dulu
presidennya Asmuni saja atau Tarzan
tidak Doktor tapi tegas dan punya integritas
dalam mengambil keputusan
kalau salah beliau-beliau ini bisa membanyol
menirukan gaya Butet Kartarajasa
“Hayo …dicabut saja to kalau salah !!!”
Nah Loh ?

 

Pemerintah sekarang kelihatan kurang koordinasi. Jelas !
Tapi keputusan menunda keputusan atas hukum Suharto
saya hormati asal dikemudian hari tidak diampuni
harus ada proses tegas seperti yang kita
ajarkan ke anak-anak kita :
” Negara kita adalah negara Hukum : RechtStaat
Semua tunduk pada hukum bukan pada … Preman !”

 

Atau nanti kita kena dagelan Madura,
ketika bupati meninjau ke Madura
rakyat di sana ditanya
“Siapa Presiden Indonesia ?”
“ndak jelas …Kadang Harmoko, kadang Hartono !!!”
“la kalau Pak Harto itu …?”
“lo sampeyan ini gimana ,
kalau Pak Harto itu raja tak iye ???”
Jadi sampai sekarang pun Pak Harto masih Raja
meski sudah tidak berkuasa : semua orang takut padanya
walau sudah punya kekuasan tertinggi yang diberikan
langsung oleh rakyat

 

Ustad saya bilang Korupsi itu lebih jahat dari maling ayam
katanya beliau karena itu mengambil jatah jutaan orang
bukan 1 orang saja to ? orang yang busung lapar jadi … mati
kalau yang dimaling ayamnya …ya ngomel-ngomel aja paling

 

Tulisan ini semoga membantu mencerahkan kita
sebagai anak bangsa sehingga tidak galau oleh dagelan politik
yang dimainkn oleh pejabat negara maupun tokoh masyarakat

 

aku masih ingat cerita rendah hati itu
ketika salah satu teman kuliah
putra Jendral Sudirman main kerumah
dan bertanya lugu
” Kok Di rumahmu ada lukisan Pak Dirman gede sih ?”
dijawab dengan rendah hati
“ayahku …. pengagum Pak Dirman “

 

aku jadi ketawa geli setiap kali lihat
patung 1 milyar di Jl Sudirman itu
dan
rakyat kita mati kelaparan di berbagai daerah
ingat kita harus hidup sederhana
tapi manten anak di istana Bogor yang gemerlap

 

aku ingat Jendral 35 tahun itu berparu-paru sebelah

di dinginnya puncak Gunung Lawu merindukan istrinya :


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: