Posted by: sepanjanglempong | September 18, 2008

Kesendirian Bapak Bangsa Itu …

Tanah Merah in Memoriam
( by Leo Kristi )

aku terpisah di belah bumi tertepi
secarik kabar darimu akan sangat berarti
di sini hanya satu bambu tidur yang dingin
namun selalu ada dengungan nyamuk
seakan seperti semangat rakyatku

berdentang-dentang merasuk hati
aku tak kan pernah mati
Tuhan
tanahku yang hitam ini
miliku jua

padamu … tanahku !!!
padamu … ayahku !!!
padamu … darahku !!!
padamu … puteraku !!!

*

Ketika menyanyikan lagu ini biasanya saya langsung hafal
jadi pikiran saya tidak memikirkan text lagu lagi
langsung saja berisi perasaan kesendirian
seorang di pembuangan karena keyakinan akan perjuangan

6 Juni 2001 – 6 Juni 2006

105 tahun yang lalu hari ini seorang bayi lahir
di Blitar cuman seorang anak guru yang nekat
melarikan dan mengawini gadis Bali
lalu pindah ke kota Pahlawan Surabaya indekost
di tempat HOS Cokroaminoto bahkan menjadi menantunya
lalu sekolah teknik di Bandung hingga menjadi insinyur
angkatan pertama perguruan tinggi teknik di Indonesia
mengahbiskan masa mudanya dengan membaca buku
dan tentu saja berpolitik dengan menciptakan ide Marhaenisme
yang diambil dari nama seorang petani miskin
yang ditemui di pinggir jalan
partainya dan idenya menjadi besar dikenal sebagai PNI
karena mengkritisi penindasan Hindia Belanda
dalam pledoinya yang terkenal sebagai Indonesia Menggugat
pemuda ini menjadi langganan penjara ke penjara
namun kegigihan dan keyakinan akan esok
mengantarkan ke gerbang proklamasi
dan menjadi Presiden Indonesia yang Pertama
di kemudian hari tokoh ini sangat melegenda
dikagumi dan disegani hingga ke dunia internasional
Dia adalah Paduka Yang Mulia Ir Soekarno
begitu hormat orang ingin menyebutnya
atau yang orang awam menyebutnya akrab sebagai
B u n g K a r n o …

Lagu tadi melukiskan kesepian dan kesendirian
sering dinyanyikan Leo dengan petikan dan genjrengan bertenaga
diakhiri dengan nada bening satu petikan senar seolah
ingin menggambarkan kesunyian yang sesunyisunyinya
hanya keyakinan yang kuat yang membuatnya tetap hidup
” aku tak kan pernah mati …” katanya

saya lupa … apakah Bung karno pernah dibuang
ke Boven Digul ( kalau nggak salah malah Bung Hatta )
seperti digambarkan di lagu ini : Tanah Merah In Memorium
tapi toh di pembunangan di mana saja serasa sepi
dipisahkan dari segala peradaban
keculai merenung sendiri tiap hari cuman
bergelut berdebat dengan diri sendiri
( mungkin buat kita yang pernah seminggu pergi saja
sangat kangen istri dan anak-anak yang lucu,
bagaiman kalau diasingkan ?
tanpa tahu kapan batas selesai pengampunannya )

Untuk apa semua ini Bapak Bangsa melakukan ?
Padamu … tanahku, yang memberikan tempat lahir dan besar
padamu … ayahku, yang membesarkan dengan semangat
padamu … darahku, yang menghidupkanku
padamu … putraku, ya … masa depan kita semua
di tahun 1978 ketika diwawancari majalah Tempo
Leo Kristi menjawab :
” Saya hanya ingin memberikan catatan yang menyentuh,
dari yang saya lihat baik selama perjalanan atau bergaul …”

Bapak Bangsa itu juga menderita di akhir hayatnya
dalam keadaan sakit diasingkan di Wisma Yaso
( sekarang Museum Satya Manadala ) lalu wafat di RSPAD
dihormati oleh lawan dan sahabatnya, ditangisi berjuta rakyatnya
dicoba dikuburkan jasadnya dari pusat kekuasaan di Blitar sana

aku terpisah di belahan bumi tertepi …

aku merenung
mungkin kalau tidak membaca cerita Sukarno – Hatta di masa muda
aku tidak duduk di kursi yang terhormat ini
tegak berdebat sejajar dengan orang-orang asing
atau mungkin kita tidak bisa sekolah setinggi ini

aku juga merenung …
apa nama belakang Leo sengaja ditambahkan Sukarno
sebagai kecintaan ayahnya kepada tokoh ini

aku juga merenung
nama baiknya mau dipulihkan
wah bagiku walau de-Sukarnonisasi sangat sistematis
sampai saat ini nama beliau tetap harum
bahkan untuk generasi saya yang 40an tahun umurnya
sudah dicuci otak dengan berapa kali pelita

aku juga merenung
ketika Ruslan Abdul Gani diwawancari sebuah tv
” Bung Karno itu orang besar …
salahnya juga besar ..”

Yang jelas Peci itu lambang nasional kita diluar negeri
di Arab kalau kita sudah terangin dari Indonesia
juga tidak tahu biasanya kita pasang peci
generasi tua di sana akan cepat teringat
” La Sukarno …”
Mahatir Muhammad terang-terangan bangga
menyebut dirinya : Little Sukarno

coba bayangkan lagu ini
disetel di mall di saat 17 Agustusan
weleh edan tenan … la kan lebih asyoi
ditayangkan artis yang berseragam merah putih
cengengesan dan gengamannya canggung
menyanyikan : Maju Tak Gentar …

kerinduan akan Sang Putera Fajar,
entah kapan lagi kau datang


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: