Posted by: sepanjanglempong | September 18, 2008

Abu Nawas dan Nasrudin

Sewaktu kita kecil kisah Abu Nawas sangat terkenal karena kelucuannya bukan main sehingga menghibur. Setelah kita bertmabh besar tenyata kita menangkap tidak hanya lucu saja kisah Abu Nawas namun mengajarkan juga kearifan.

Tokoh yang selalu identik dengan konyol dan pandir itu sebetulnya sedang menayampaikan makna dalam bahasa humor. Bila hitam terlihat jelas karena ada putih, mungkin juga kerumitan jelas nampak dalam kesederhanaan,
keseriusan dalam canda tawa. Begitu barangkali guru sufi ini ingin mengajarkan kepada kita.

Yang Paling saya ingat ketika sang raja memerintahkan menyambung patung batunya yang terbelah karena suatu kecelakaan, Sang Abu Nawas dengan ringan menyanggupinya. Esoknya dia datang membawa jarum dan bertanya kepada sang Raja apakah sudah memiliki benang dari batu ?

Kalau bahasa sang motivator Mario Teguh bila kita diberikan tugas sangat mustahil oleh bos kita jangan mengatakan tidak bisa.
Katakan : ” Bos , I know the answer ? ”
Ketika bos anda tertarik dan balik bertanya apa itu.
Katakan : ‘ Tunjukin dulu caranya nanti saya beri tahu ”
Seolah ingin mengingatkan, kalau bos saja tidak mampu apalagi saya.

Ada juga tokoh yang lucu masih dari kawasan Timur Tengah walaupun tak pamornya tak seheboh Abu Nawas namanya Nasrudin Hoja.
Saking negtopnya di Rusia telah dibuat filmnya dan di berbagai negara telah diterbitkan bukunya.

Sayhdan Nasrudin diadili gara-gara memasukkan gandum orang lain kedalam kantonya, ketika ditanya bagaiman itu bisa terjadi dia menjawab :
” Saya memang bodoh tak mampu membedakan gandum mereka dengan gandum saya “.
Lalu sang hakim bertanya : ” Kenapa tak kau tuangkan gandummu ke kantong orang lain ?
” Tapi saya tak terlalu sebodoh itu. Saya bisa membedakan gandum saya dengan milik orang lain !” jawabnya singkat.
Ini seolah mengajarkan kepada kita lebih menghargai barang kita daripada barang orang lain atau manusia maunya cenderung curang.

Walau hanya cerita-cerita konyol dan lucu tapi dimaksudkan mulia.
Bak sebuah syair pasti juga tak mudah menciptakannya
mebutuhkan perenungan yang amat dalam tentunya.

Kedua tokoh ini mengajarkan kepada kita bahwa dalam kehidupan keseharian
yang kadang sederhana dan lucu juga mengajarkan kebikasanaan.
Asal kita mampu merenungi dan meresapinya.
Bila suatu kali bila anda membaca bukunya dan membaca salah satu ceritanya belum bisa tersenyum ataupun tertawa juga sebaiknya jangan lalu bertanya :
” Apa ya maknanya ? ”
Nanti malah jadi Abu Nawas dan Nasruidn yang ketawa.
Ha ha ha …

Kalau tokoh lokal kita mungkin Sang Kabayan kah ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: