Posted by: sepanjanglempong | September 15, 2008

Thukulisme : Kembali Ke Laptop

Demikian ucapan thukul yang sekarang ngetop
sampai-sampai masuk ke ruang ruang rapat kantoran
Dan Thukul pun bahagia karean membuat bahagia

Ada yang menarik dari Fenomena THUKULISME

Pertama,
Dikabarkan pula acara 4mata yang dibawakan menggeser rating pemirsa
dari jam 7-9 malam ke 10-11 malam karean acara ini
jarang sekali ada suatu acar sehebat ini

Kedua,
Harga sebuah profesionalisme
Karean rating tinggi dan banyak iklan mensponsori
istriku menghitung samapi 15 iklan per break
bayarannya yang setiap tampil 20 juta
dengan penampilan hampir setiap hari bisa dihitung
bahkan off airnya minimum 30 juta
itu setaraf dengan denga Mario Teguh atau Gede Prana misalnya
yang 2 jam ceramah 27,5 juta

Ketiga,
Kelebihan adalah Kelemahannya
seolah Thukul menyadarkan kita …. bahwa Tuhan juga menganugerahkan
kita dalam kelemahan kita
banyak mungkin dari kita selalu menyesali dan malu
tapi buat Thukul malah ngrejekeni
Gaya bicara Enggrisnya yang Jawa banget bak Prof Subroto Ketua OPEC dulu
Tidak mumpuni kalau Lap top diambil
Ngeles kalau nggak ngerti artinya
adalah kecerdasan kepandiran yang sekarang dihargai orang

Keempat,
Selera Penonton
bukankah orang selalu mengatakan selalu mengikuti selera pasar
berdasarkan survey …. itulah wajah sinetron kita ?
di siniliah kepiawaian menciptakan segmen pasar baru
orang dihibur dengan pertanyaan yang santai dan lucu
menyentuh paling dasar manusia
ada jalan yang menguntungkan, tapi tidak mudah : namanya kreativitas !

Kelima,
gaya Thukul berdialog dengan penonton seperti berteman
dan penonton pun tidak marah
membodoh2kan atau cenderung menghakimi
tapi sebenarnya itulah simbol persahabatan
seperti setiap orang JAwa Timur ketemu berujar : Jancuk
penonton seolah dianggap teman sendiri di Semarang
gaya bercanda :
“Seneng kalau aku susah …”
” Tak Suwek 2 … ( kusobek2 … )”
“Ndeso .. Kampungan .. ”
itu memang gaya kami di ujung-ujung kampung kalau kongkow

Mungkin kita bisa menambahkan ke enam, ke tujuh dstnya

Apa Thukul mewakili keterbatsan kita ?
yang patut kita tertawakan sendiri …
Mungkin .. .makanya kita jadi suka menonton
Hm …

Saya ingat kampung yang lahir dan dibesarkan Thukul di Semarang bernama
Perbalan
kami tahu itu kampungnya gangster
kebayakan dari mereka adalah buruh lepas, kulip pelabuhan, centeng terminal
semacam Warakas kalau di Jakarta
dan Thukul Sekolah di SMA Kartini
yang semua orang tahu SMA paling jelek di Semarang
semacam SMA Diponegoro yang penting dapat ijazah
tapi itulah potret orang bawah …

Ada lagi guyonan thukul yang kebetulan sering saya ucapkan
“Orang Semarang menag ganteng-ganteng …”
Ihik.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: