Posted by: sepanjanglempong | September 15, 2008

Harga Sebuah Seni

baru baru ini saya membeli mouse saya yang rusak
tidak sampai setahun saya pakai.
maklum saya beli cuman 40-50 ribu buatan China lagi
lalu saya yang agak bagus 100 ribu.
mahal tapi dijamin garansi 1 tahun.
rasanya saya tentram.

bagaimana dengan seni ?
seorang maestro bisa saja buat senilai 50 ribu atau 100 ribu atau 1 juta.
yang 50 ribu tentu laris bak kacang goreng,
yang 100 ribu apalagi 1 juta tentu tak akan selaris itu.

tapi seni kan …
bukan consumer good
dengan ide semurah mungkin kualitas sebagus mungkin
begitu Jepang memulai mobilnya mengalahkan Amerika
dan begitu Korea ingin mengalahkan Jepang

barang seni bisa jadi sangat mahal
karena bagus dan sangat langka
lebih lagi seni adalah cipta rasa manusia,
bukan benda produksi
proses penciptaanya sangatlah berat

walau terlahir dengan nama Konser Rakyat Leo Kristi
belum tentu serta merta menjadi milik rakyat.
( lebih tepat inspirasinya saja, mungkin )
coba bayangkan kalau inspirasi dari kehidupan rakyat
tapi dengan syair seadanya,
tiada pesan moril dan semangat
musik seadanya pula
seperti lagu Singkong dan Keju
( maaf, ini sekedar contoh, kalau ada fans mania arie Wibowo ya )
seketika meledak
setelah itu dilupakan
tak ada yang mencari
apalagi berpikir abadi
apalagi berpikir selalu menemukan yang lain ketika kita mendengarnya
apalagi berpikir bak sembahyang panjang

lalu rakyat yang mana ?
kenyataan toh rakyat kita … hm
ujian nasional saja masih berat.
pendapatan rendah.
nontonnya sinetron murahan.
begitu kebayakan.
bersyair dan bermusik ?
wah yo yang ringan-ringan saja dan mudah
(menyanyilah : manuke, manuke cucak rowo …)

tapi ada juga rakyat yang kita impikan : yang berbudaya
masyarakat China dan Yunani tempo dulu suka bersyair
dan bahkan orang yang mampu bersyair memiliki kelas tersendiri
dianggap sebagai masyarakat terdidik,
tutur bahasanya sopan bahasa lembut

Bagaimana kalau kita sendiri seorang Leo ?
Itu pertanyaan yang selalu melintas di pikiranku

Mau … tapi belum tentu aku Mampu.
Mempertahan idealisme,
Dengan segala resikonya
Memenuhi panggilan hidup sebagi seorang seniman
Penutur Kehidupan yang jujur.
Tapi,
cari produsen pun susah bertahun-tahun.
Alasannya sederhana : Tak Laku …

Kadang saya juga berchayal,
bagaimana kalau Leo membuat karya seadanya, seperti yang terakhir dilakukan Gombloh
asal laku buat di pasaran
ya tentu nggak ada orang yang seperti kita
yang mau mencari karyanya ke ujung langit
mencari dokumentasinya
mengkoleksi kliping-klipingnya
mengejar cerita proses kretif penciptaanya
mencari tafsir musiknya
mengulasnya secara panjang dan mendalam seperti di mailing list
dan entah apalagi.

Yang jelas tidak hanya cukup menyanyi :
Madu di tangan kananmu, racun di tanagn kirimu”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: