Posted by: sepanjanglempong | September 15, 2008

Chairil Anwar ?

Apa Yang terbayang ketika kita sebutkan nama : Chairil Anwar !

Bagi saya langsung mengatakan seorang Penyair yang hebat,
bukan karena di jamannya di tahun 1942 an dia mampu mengolah kata
melebihi rekan-rekan seangkatannnya,
tetapi karean puisi yang diciptakan,
bila kita pernah membacakan akan selalu kuat terkenang selalu
bukankah itu artinya “roh ” penciptaan di balik keabadian karyanya ini ?
dan akhirnya saya mengamati ternyata banyak orang yang mengalami pengalaman
sama
kalau dulu membaca CA karean diperintah guru SMP
sekarang jadi suatu kebutuhan …

Kemarin aku menemukan buku kecil harganya 22 ribu berjudul
” Chairil Anwar , Sebuah Pertemuan ” karya Arif Budiman
buku tipis itu sungguh menggugah apalagi
AB menggunakan metode Sequence Analysis untuk menghayati syair2 CA
Dalam psikologi katanya ururtan munculnya jawaban dari suatu pemeriksaan
psikologis
juga memiliki arti yang sangat penting
maka dengan metode ini keutuhan munculnya sajak2 dijadikan faktor Penting

CA yang berkarya hanya dalam waktu relatif singkat 7 tahun itu
memulai karyanya fonumentalnya dengan karyanaya NISAN
yang sebenarnya hanya dilhami kematian neneknya
di sini dia mulai mempertanyakan arti kehidupan
” Bukan Kematian benar menusuk kalbu ”

Kalau kematian bisa datang kapan saja,
lalu bagaimana menyiasati semangat dalam kehidupan
rupanya di situ sejarah terciptanya sajak Pangeran Diponegoro
” Berselempang semangat yang tak bisa mati ”
padahal selama ini kupikir CA hanya kagum ke sang Pangeran itu

Lalu bagaimana dia harus hidup dengan penderitaan.
Ia harus kuat bersama penderitaan,
” Luka dan bisa kubawa lari / Berlari / Hingga hilang pedih dan peri :

Sama seperti orang muda umumnya
Dia lebih senang menyentuh Tuhan daripada Agama dalam pencarian
kata-kata yang kusuka :
” Ini Ruang, Gelangagang Kami berperang ”
Setiap kita yang muda pernah merasakan kegelisahan tentang Tuhan
Tanpa Tuhan ia menulis :
” Aku Hilang bentuk / Remuk ”
Ebiet menciptakan lagunya yang bagus di Hdiup 1, 2, 3 dan 4
mirip perenungan kita semua, untuk akhirnya
” Aku tak bisa Berpaling ”

Dengan sajak-nya Isa yang dialamatkan : Kepada Pemeluk Teguh
saya bahkan tidak melihat suatu hadiah untuk rekan2nya yang Nasarani
sebab ketika ia berkata dengan dalamnya
” Itu tubuh /mengucur darah/ mengucur darah …”
Dia bertanya ke diri sendiri,
Apakah artinya semua pengorbanan ini ?
Kegilaan hidup ini ?

Mungkin karean kematian betul betul membuatnya terpatri, terbatasi
ia menulis untuk menunjukkan tidak mau terkungkung
: ” Aku ingin hidup seribu tahun lagi ! ”

Di saat menjelah akhir hayatnya mirip Soe Hok Gie
yang menuliskan memoirnya : megalami perasaan aneh
Liahtlah judulnya yang nyata : Yang Terhempas dan Yang Putus
CA menulis firasatnya : ” Di Karet, Di Karet ( daerahku y.a.d ) sampai juga
deru angin ”
Setelah perenungan yang panjang tentang Kehidupan
Dalam kesepin dan keterasingannya dia menulis dengan indah
mengahdapi ajalnya,
” Hidup hanya menunda kekalahan ”

Ada sajak CA yang selalu kuingat dan hapal 2 kalimat :
” Ini muka penuh Luka/ Siapa Punya ? ”
Begitu ekspresif bagiku, padahal ini saja perpisahan
judulnya : Selamat Tinggal
” Kudengar seru menderu/ dalam hatiku/ Apa hanya angin lalu ? ”

Bagaimana CA memandang Cinta ?
Wah saya mesti minta bantuan Bung Ramdan yang ahlinya
katanya seumur hidup CA tidak pernah mengungkapkan perasaan cintanya
walau dia menulis Senja Di Pelabuhan Kecil
untuk Sri Arjati …
Kehidupan CA tidak begitu bagus,
di masa mudanya seorang yang keras
remajanya mengalai kenakalan yang sering mencuri buku
bahkan pernah menipu
hidup yang benalu nebeng dalam kemiskinan
tapi sangat membuahkan perenungan.

Sama seperti karya Leo
saya susah kalau ditanya karya CA mana yang terbaik
Ketiak putus pacaran . Sebel. Marah.
Mungkin akan lantang berkata
” Aku ingin merdeka … juga dari Kau , Ida !”
Atau kalau dulu akau berpikir yang selalu melawan arus dan dianggap aneh
aku akan mengatakan untuk menunjukkan pemberontakanku
” Aku ini binatang Jalang / Dari Kumpulannnya Yang Terbuang ”

Leo juga sangat mengagumi dan menghormati CA.
demikian di suatu artikel pernah di tulis.
Bukan Rendra misalnya …

Akhirnya membaca dan mengahayati karya Chairil Anwar
seperti melihat diri kita sendiri : Manusia,
Kehidupan kita sendiri !
Menarik,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: