Posted by: sepanjanglempong | September 11, 2008

Serba Serbi Rokok

Tidak tahu persis kapan sejarah rokok mulai di tanah Jawa
namun ada kisah menarik yang tidka semua orang tahu
Jamahri, seorang penduduk Kota Kudus yang lama mengidap sesak napas.
Lalu penyakitnya ini sembuh total ketika ia mengobati dengan ramuan cengkeh dan tembakau yang dirajang halus dan dibungkus dengan daun jagung lalu diisap sebagai rokok.
Saat rokok itu dinyalakan dengan api, terdengar suara halus kretek-kretek bagai daun terbakar, sehingga akhirnya disebut rokok kretek

Lalau munculalah Nitisemito mantan pedagang Kain dari Kudus
yang coba-coba meracik roko dan menjual di warungnya
karena permintaan melonjak maka ia memutuskan usaha rokok kretekdi 1914
Cerita yang beredar di masyarakat akan kekayaan Pak Nitisemito sangat populer
katanya uang golden Belanda itu ditanam dalam posisi tegak di dinding rumahnya
betapa kayanya untuk jaman kolonial seorang pribumi seperti itu
entah sekarang generasi Pak Niti apakah masih meneruskan usahanya
rasanya tak terdengar lagi
dari runtutan tahu sejarah di bawah ini layaklah Kudus disebut kota Kretek

Cerita sindiran lucu ini sangat terkenal
ketika rapat di Eropa Haji Agus Salim merokok kretek
bau cengkeh sanagta menyengat dan mungkin membuat orang Eropa ngedumel
tapi denga enteng tokoh pergerakan itu menjawab
” karena bau inilah bangsa anda datang jauh mengembar ke negeri kami …”
mungkin menunjuk cengkeh yang ditanam di daerah Maluku
yang lebih dulu dikenal sebagai bagian dari rempah-rempah

Setelah kemerdekaan industri rokok bangkit lagi namun
Cengkeh yang baik itu didatangkan dari Zanzibar negeri jauh di Afrika sono
ketika terjadi peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang
blokase kapal perang ini menghalangi masuknya import cengkeh
membuat industri yang sempat jaya ini ambruk

***

Beriku saya kutipkan sejarah industri rokok besar

DJI SAM SOE

di sekitar tahun yang sama denga pak Nitisemito 1913
seorang imigran di Surabaya, Liem Seeng Tee,
membuat dan menjual rokok kretek lintingan tangan dengan campuran cengkeh yang kini menjadi merek terkemuka di Indonesia, yaitu Dji Sam Soe.

GUDANG GARAM

PT.Gudang Garam didirikan pada 26 Juni 1958 oleh Tjoa Ing Hwie. Disaat berumur sekitar dua puluh tahun, Ing Hwie mendapat tawaran bekerja dari pamannya di pabrik rokok Cap 93. Pabrik rokok Cap 93 adalah salah satu pabrik rokok terkenal di Jawa timur pada waktu itu. Berkat kerja keras dan kerajinannya dia mendapatkan promosi dan akhirnya direktur di perusahaan itu.
Pada tahun 1956 Ing Hwie meninggalkan Cap 93. Dia membeli tanah di Kediri dan segera memulai memproduksi rokok, diawali dengan memproduksi kretek dari klobot dibawah merk Inghwie. Setelah dua tahun berjalan Ing Hwie mengganti nama perusahaannya menjadi Pabrik Rokok Tjap Gudang Garam dan inilah awal dari segalanya

Adalah Ong Hok Liong yang memaparkan riwayat hidupnya di Museum Sejarah Bentoel di Malang, Jawa Timur.
Museum ini pun didirikan di tempat Ong memulai bisnisnya di tahun 1920-an.

BENTOEL

Awalnya, Ong Hok Liong hanyalah pedagang tembakau susur, tembakau untuk pelengkap nyirih. Bisnis itu menurun dari ayahnya. Kendati Ong dan istrinya, Liem Kwie Nio, bekerja keras sejak sebelum subuh hingga petang hari, tak ada tanda-tanda usahanya akan maju. Lalu, ia mencoba membuat rokok bermerek Burung. Tapi, usaha itu gagal juga.

Ong lalu mengganti merek rokoknya berkali-kali: Gendang, Kelabang, Lampu, Turki, dan Djeruk Manis. Meski penjualannya sampai ke kampung-kampung, hasilnya tak memuaskan, tutur Tejo, penjaga Museum Bentoel. Malah, usaha rokok Ong pun terpuruk. Apalagi di zaman malaise, sekitar tahun 1935.

Ketika itulah, Ong mulai punya perhatian terhadap ziarah Gunung Kawi yang didengarnya. Lalu, ia pun berziarah ke makam Mbah Djoego, sekali, dua kali, akhirnya berkali-kali sampai suatu ketika ia menginap di makam dan bermimpi di mana-mana melihat bentul (talas). Merasa terganggu oleh mimpinya, ia bertanya kepada juru kunci makam. juru kunci lalu menyarankan agar pabrik dan merek rokoknya diubah menjadi Bentoel,tutur Mariani Samsi, putri sulung Ong dan Kwie Nio, seperti yang tertulis dalam arsip di Museum Bentoel.

***

Adalah menteri pertanian saya lupa namanya di tahun 1970 an
juga sebagai guru besar IPB mulai membudayakan cengkeh ini
keberhasilan yang luar bisa sempat membuat banyak petani beralih ke komoditi baru ini
hingga terjadilah hukum pasar supply lebih banyak dari permintaan
yang kemudian membuat anjok harga cengkeh
diperparah ketika Pemerintah mencoba mengatur lewat BPPC

Menarik industri rokok ini ditarik pajaknya begitu selesai dibuat disebut cukai
jauh sebelum barang diperdagangkan
sehingga setiap pabrik rokok tahu persis berapa pajak yang harus dibayar
dengan menghitung berapa jumlah batang rokok yang dihasilkan
jadi jauh sebelum anda memebeli rokok , mungkin baru niat saja
pajak sudah dibayar ke negara

Industri rokok adalah indutri yang menyerap banyak tenaga kerja
walau ketrampilan yang dibutuhakan cukup sederhana
kalau setiap keluarg amemiliki 1 istri 2 orang anak
bisa bayangkan 6000 karyawan menghidupi setidaknya 18.000 orang
dahsyat !

pasar rokok tidak berkurang bahkan terus bertambah
mungkin yang sudah tidak boleh merokok oleh dokter atau sadar denagn sendirinya kecil
dibanding remaja yang memulai merokok

Iklan rokok juga paling lucu karena sekarang tidak digambarkan adegan merokok
kecuali logo dan gambar yang ditanyangkan sekilas
Jarum mengidentikankan rokok dengan Petualangan dan Keberanian , Gudang Garam memposisiskan pria sejati, Sampurna mengusung Persahabatan
Masih ingat dulu Bentoel diprotes keras karean mengiklankan : rokoknya remaja
atau Bimbo sulu sempat mengiklankan Filtra yang sekrang tidak ada lagi

Kalau suatu kali anda main ke Kudus atau kota industri rokok lainnya
jangan heran meneukan berbagai merk yang anda tidak pernah dengar
seperti Siyem, Sukun, Pompa, Djambu Bol dll
rokok ini bisanya diperuntukan kelas bawah seperti petani daerah tranmigran
dan banyak lagi pabrik rokok gurem yang baik logo maupun nama
mendombleng kehebatan merk unggulan
kalau ada 234 untuk Dji Sam Soe adan akan menemukan 123
atau Gudang Siyem untuk mengikuti Gudang Garam
Pernahkah anda lihat ?
kegemaran Butet mengumpulkan tempat rokok sperti pernah dimaut Kompas
membuktikan banyaknya pemain kecil industri kretek ini

Lalu muncul generasi baru low tar low nikotin : mild orang menyebutnya
walau ahlinya peracik ini katanya cuman satu orang,
dan orang ini kemudian kaya raya karean rajin dibajak dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain dari Sampoerna, ke Jarum, Ke Bentoel
entah karean kesadarana karena kesehatan atau memang selera
terbukti memang disukai pasar

Pada bulan Mei 2005, PT Philip Morris membeli saham Sampoerna
seolah kita baru sadar
betapa besar kekayaan negara berpindah ke tangan asing
industri yang pasar, bahan, tenaga kerjanya melimpah dan pabriknya ada di Indonesia sekalipun
Ironis ..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: