Posted by: sepanjanglempong | September 11, 2008

Prof Koesnadi yang saya kagumi ….

Sahabat,

tak saya sadari dalam perjalan ke kantor ketika membaca Kompas
saya mbrebes mili , air mata saya mengalir
tertulis di situ Prof Koesnadi mantan Rektor kami wafat
saya berjanji akan menulis sebisa saya tentang sang rektor
ketika pertama kali membuka notebookku nanti
di kantor

Ingatan saya ke bapak yang selalu senyum dan betumbuh besar itu
terulang lagi …

saya adalah mahasiswa sederhana kalau nggak dibilang miskin
ibu saya seorang pensiunan tukang masak RS Kariadi pegawai negeri gol Id
bapak saya tidak bekerja
tapi cita cita besar semasa SMA membulatkan tekat saya untuk sekolah
ke universitas terbesar dan tertua ini : UGM

ternyata dalam salah satu pidato Prof Koesnadi disebutkan
memang mayoritas mahasiswa UGM adalah anak rakyat jelata
petani, pegawai negri, nelayan dsbnya
dan orientasi universitas yang selalu ke desa
membuat Prof ini dengan kocak menyebutkan dengan bangga
“Universitas kita adalah Universitas Ndeso …!”
dan kami bangga memlesetkan diri sebagai YUJIEM utunk UGM

Di kemudian hari saat KKN saya berinteraksi dengan penduduk pedesaaan
saya tanggalkan segala atribut kesombongan intelektualan
dan saya tertegun sendiri di ujung desa yang sunyi di ujung Jepara
di depan hamparan sawah menguning, jalan jalan desa yang becek
di antara gairah petani memanggul panennya
dan kulit merkea yang terbakar matahari
saya membenarkan diri saya sendiri
” Prof Koesnadi benar, di sini kita mesti mulai ….”

Walau bukan aktifis kampus, namun saya dengar Sang Rektor
di saat kuatnya Order Baru dulu
bersedia mendampingi mahasiswa yang berdemo ke gedung DPR di Jl Mangkubumi
dan melarang setiap aparat polisi yang mengejar mahasiswa yang telah memasuki
lingkungan kampus UGM,
Pak Koes tidak memusuhi Polisi
bahkan sebelum saya wisuda saya sempat melihat pos Polisi di bangun bagus
di perempatan Barek dekat hutan Fak. Kehutananan yang menuju ke Kaliurang itu

Pak Koes malah mengundang pedagang keci ke kampus
karean pedagang ini dibutuhkan oleh mahasiswa dan dosen maupun pegawai kampus
diberikan ari ledeng dan listrik
dibuatkan rumbai rumbai warungnya asal mereka menjaga kebersihan sendiri

Saya dengar dulu Pak Rektor yang ahli hukum lingkungan hidup ini
mengusulkan hal yang kontroversial agar hanya sepeda yang boleh masuk kampus
tapi mungkin Pak Rektor tidak tega
bagaiman nasib bis kota yang muter kampus mencari nafkah
atau 3/4 yang ngetem di depan Fak MIPA menuju ke Kaliurang
( … itu mungkin perkiraan saya sendiri )
Di ujung depan fak Filsafat dan Peternakan dibangun danau yang asri
juga sport centre di sampingnya yang sederhana
saya tidak tahu,
mengelilingi kampus ini seluruh jalannya merupakan pavling blok
yang memberikan bumi menyerap air itu apakah masih ide beliau ?

di Balairung Kampus Biru saat wisuda 1989 Prof berkata :
” The Graduation day is the day of joyfull ….
sehabis ini kalian boleh duduk di kursi saya,
kursi rektor untuk berfoto-foto …”

lalu melanjutkan :
” Saya minta kalian tidak tertawa saat nama wisudawan dibacakan,
karean sejelek-jelek nama adalah harapan bapak ibunya …”
kami yang celelekan dan cekikikan pun jadi mak cep
mendengar petunjuk rektor
karean biasanya setiap wisuda dengar nama yang lucu kami ngakak

Setelah berhenti jadi Rektor pun ,
Prof ini tidak menduduki kedudkan yang berarti di pemerintahan
atau mungkin karena terlalu sering mengayomi mahasiwa yang demo itu.
entahlah !

Prof Koesnadi akan saya kenang bukan sebagi orang yang luar biasa
tapi sebagai orang biasa, bahkan bersahaja yang memiliki jabatan tinggi
selalu dekat dengan mahasiswa
mendengarkan dengan sungguh-sungguh kami yang idealis membara

di suatu reuni akbar Kagama, saya maju hanya untuk melampiaskan obsesi
yang tidak terkabul di jaman mahasiswa, menjabat tangan orang biasa ini
saya tidak lagi menyebutnya Prof, saya bilang dengan bangga :
” Pak .. Bapak adalah Rektor saya ketika saya mahasiswa !!!”
dengang tegap saya jabat tangan beliau dan
seperti biasa beliau sumringah terkekeh-kekeh kebapakan

Pak Koes tidak akan mengenal mahasisawanya satu persatu yang 5 ribuan itu
tapi saya yakin di hati mahasiswa yang pernah mengalami masa kepemimpinan
beliau
akan selalu dikenang dengan sangat baik

Selamat Jalan Pak Koes …!

Kami anak didikmu akan meneruskan semangat kerakyatanmu
dan tulisan sederhana dan subjektif ini saya akhiri sambil menutup pintu
kamarku
aku menagis lagi

Setiyadi,
mantan mahasiswa-mu bidang Teknologi Reaktor
Jurusan Teknik Nuklir, Fakultas Teknik UGM
1984-1989


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: