Posted by: sepanjanglempong | September 11, 2008

Lokane daging bisa ejai’, lokane ate tada’ tambana kajabana ngero’ dara

Kalau ditanya tentang orang Madura, orang mudah mengungkapkan :
Clurit dan Carok !!!

Keingintahuanku yang bernada heran selalu mengenai Carok ini,
Mengapa budaya bunuh membunuh ini seolah dilegalkan,
di tengah masyarakat Madura terkenal agamawis ( santri ) ?
Bagaiman awal mula sejarahnya hingga menjadi budaya ?

Ada disertasi doktor antropologi budaya Dr A Latief Wijata berjudul :
Carok, Institusionalisasi Kekerasan dalam Masyarakat Madura
ketika dijadikan buku judulnya berubah menjadi :
Carok, Konflik kekerasan dan Harga Diri Orang Madura

Tidak serta merta bisa menjawab kepenasaranku …
namun setidaknya
merubah pandanganku tentang Carok
bahkan membawa pengertian yang mendalam tentang budaya Madura

Dulu aku pikir kalau lelaki Madura terlibat perselisihan yang tak bisa dilerai
akan diselesaikan dengan adu tanding ( duel ) membawa clurit di tanah lapang
disaksikan orang sekampung hingga perkelahian berujung kematian
jenis senajta juga telah ditentukan
Ternyata persepsi ini hanya terjadi di jaman sebelum kemerdekaan

ketika disetasi ini selsai ditulis 2001
katakanlah 5 tahun untuk penelitian sekitar 1996 atau katakanlah 1980 – 1990
telah begeser karena ada 2 metode carok yang dikenal dan dianggap sah sah saja
pertama : berhadap-hadapan , bahkan biasanya orang mendatangi ( ngonggai )
kedua : dari belakang/samping ( nyelep ) ketika musuh sedang lengah
Madura bagian timur : Sumenenp dan Pamekasan melakukan secara berahdap-hadapan
namun bagian barat sperti Samapang dan Bangkalan melakukan nyelep

Harga Diri ( martabhat ) dalam kaitannya perasaan malo ( malu ) merupakan pemicu utama
orang Madura melakukan Carok, selain faktor faktor lainnya
Orang yang tak dihargai disebut : tada’ ajina,
Ungkapan : ango’an poteya tolang etembang poyeta mata,
mudah diartikan lebih baik mati dari pada hidup menanggung rasa malu
atau ungakpan singkat ini cukup fatal :
Tambana malo, mate’ ( obatnya malua dalah mati/ melakukan carok )

Kalau ditilik kebanyakan penyebab utama adalah gangguan terhadap istri,
istri adalah banttala pate ( landasan kematian ) ,
atau mengganggu istri orang lain adalah sebagai : agaja’ nyaba
yang artinya sama dengan memepertauhkan atau memeperaminkan nyawa
Ungkapan
“Saya kawin dinikahkan oleh penghulu, disaksikan orang banyak,
dengan memenuhi poeraturan agama,
Maka siapa saja mengganggu istri saya, berarti menghina agama saya sekaligus
menginjak-injak kepala saya …”
Apalagi posisi seorang suami dalam masyarakat Madura selayaknya sebagai tamu
dalam keluarga istrinya karean biasanya rumah disediakan oleh pihak mertua
sebagai kompensasinya maka seorang suami akan menjaga istrinya
Terlepas mungkin bisa saja pihak istri yang berselingkuh
Bahkan para calon mertua akan sangat senang menerima jago Carok yang masih lajang
karena mereka akan tidak salah memilih menantu dan menitip anak untuk dijagai
Tindakan menggangu istri juga dianggap : arosak atoran ( merusak tatanan )
dan tidak ada hukum lain kecuali dibunuh untuk orang semacam ini

Carok hanya dilakukan antara lelaki, simaklah ungkapa ini
preng lake’ mate acarok, orang bine’ mate arembi’
( laki-laki mati karean carok, perempuan mati karean melahirkan )
Bagaiman kalau lelaki Madura sudah dipermalukan tidak berani Carok
orang akan menyebutnya :
Mon lo bangal acarok ja’ ngako orang Madura
( jika tidak berani melakukan carok jangan ngaku sebagai orang Madura )
atau lebih sinis dicemooh :
” Sayanginlah anak cucumu
kalau engkau tidak melawan ( melakukan carok )
kelak mereak akan disebutu ketururnan dari laki-laki yang tidak mempunyai empedu…”

Yang memilukan adalah kebiasaan menjilat darah di ujung clurit sisa darah sang korban,
seperti kebiasaan orang Madura, selain dipercaya agar dirinay tdiaka diserang penyakit
dan-keddanan, yaitu raut muka selalu namapak pucat seperti kekurangan darah,
adalah manifestasi ungkapan yang saya kutip di judul :
Lokane daging bisa ejai’, lokane ate tada’ tambana kajabana ngero’ dara
( jika daging luka masihi bisa diobati atau dijahit,
tapi jika hati terlukan tidak ada obatnya kecuali minum darah )

lebih dari itu menjilat darah adalah tanda kepuasan
sebagai mana bila interview dilakukan kepada pemenang carok di tahanan polisi
selalu akan mengatakan : aku sudah puas Pak !
jarang ada kata penyesaralan …

Bila harga diri dipermalukan adalah menjadi malu dan menjadikan pihak lain moso ( musuh )
Musuh ate ( musuh di hati ) masih bisa bersahabat dalam perilaku keseharian
namun moso mata ( musuh di mata ) sudah jelas mesti hati-hati
karean setiap saat carok bisa berlangsung dimana saja

Setiap terjadi carok semua orang memeperbincangkanny a …
mereka tidak pernah menyebut istilah pembunuh bagi pelaku carok yang mamapu membunuh lawannya.
bahkan mereka tidak mengecam atau mengutuk pelakuknya
inilah yang mendasari judul disertasi ini

Uniknya lain dengan pembunuhan yang pelakunya cenderung kabur
Setelah menang carok pelaku akan menyerahkan kepada polisi
Pelaku sudah menyiapka diri dengan sejumlah bekal uang
untuk meringanakan hukuman dengan komersialisasi oknum hukum ( nabang )
juga untuk keluarga yang ditinggalkan selama menjalanai hukuman
makanya orang Madura akan bilang : Mon lo; andi ‘ banda, ja ‘acarok
( jangan melakukan carok kalau ngga punya dana yang cukup )

Carok juga membawa nama keluarga
makanya selalu dirundingkan dalam komunitas keluarga sebelum dilakukan
dan dijaga serapat mungkin
bahkan kepada istri yang mungkin terlibat perselingkuhan tidak diberi tahu

ada upacara selam persiapan carok disebut : tahlilan carok
yakni menganggap musuh sudah mati
mengandung makna simbolisasi upacara kemenangan yang yakin akan diraihnya
dan memang biasanya itu terjadi
karean bisasany sudah dipersiapkan dengan matang dengan melakukan : nyelep
teknik perkelahian tidak penting, yang penting hasil akhir : terbunuhnya musuh

korban carok biasanya dikuburkan di pemakam umum
namun kadang untuk para jawara dikubur di muka rumah
agar anak turunnya bisa membalasakan dendam menjadi : Carok Turunan
kadang pula baju yang besimbah darah akan tetap disimpan
untuk mengenang … dan tentu menambah dendam

tidak jarang alasan menyerah ke polisai agar tidak terjadi carok balasan
namun yang namany dendam dan malu
kadang setelah kelaur penjaran 5 tahun pun sang kelauraga akan menuntut balas
semisal kakaknya dulu dibunuh dalam peristiwa dulu
sebagai adik dia merasa malu tidak mampu membalaskan dendam

apabila ditelusuri pada laur kehidupan lelaki Madura
semenjak kecinya memang dipersiapakn selalu jadi orang yang berani
sifat penakut tidak di kehendaki
tengoklah nyanyian bocah ini di kala kanak-kanak
” … kalau berani seilahkan kemari,
… kalau takut silahkan menajuh ”

Walau carok sebuah pembunuhan
bandingkan dengan sebuah kasus pencurian misalnya
akan sangat membuat aib selururh keluarga orang Madura
jangankan teman kerabat keluarga pun tak akan mengunjungi selam di bui
makanya jangan sekali kali menuduh mencuri kepada orang Madura

ada cerita lucu misalkan tanggapan negatif para teanga medis
kepada korban carok yang masih hidup kadang sengaja luka-luka dijahit tanpa dibius
atau dijahit semabranagan sehingga koraban teriak teriak
dengan maksud membuat masyarakat jera mekalukan carok

Tentu saja tanggapan negatif ini tidak effektif
karean bekas luka itu justru membuat simbol
apalagi pakaian Madura yang bernama pesa dan serba gombrang itu
mudah memamerkan bekas luka
jangan lupa
bekas luka juga menunjukan harga diri ataupun simbol kekuasaan

***
buku ini tidak mengupas sejarah asal muasal Carok seperti yang saya harapkan
juga menjawab kenapa peran agama tidak dominan atas budaya
hanya mengatakan selama masa kolonialisme kehidupan yang susah di Madura
karean kondisi alamnya yang kering dan tandus itu
dipersusah dengan kewajiban upeti sehingga terjadi tingkat kekerasan meninggi
dimasyarakat yang tak lagi taat kepada hukum dan kekeuasan
masayrakat menjadi help self dengan melakukan : Carok !

***

Bagi saya sekilas mempelajarai Carok,
menambah kekayaan budaya tanah air tercinta
dan ujungnya menjadikan kearifan pengertian saya tentang masyarakat lain


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: