Posted by: sepanjanglempong | September 11, 2008

Kiara Condong, Johar, Jatingaleh dan Kagok

Konon di dekat pasar itu dulu ada Pohon Kiara yang Condong
makanya mungkin dinamakan Kiara Condong
masih banyakkah Pohon Kiara ini , seperti apa bentuknya ?
Jadi ingat pasar-pasar di Kotaku Semarang
 
Kalau di kotaku di Semarang ada Pasar Johar
letakannya di tengah kota depan daerah Jurnatan (asal kata Juru Nata : Administratur ) 
dulu  orang berjualan di bawah pohon Johar yang daunnya memang lebar-lebar
di kota atas dekat Jangli ada pasar Jatingaleh
Katanya ketika Sunan Kalijaga cari pohon Jati untuk tiang mesjid Demak
murid-muridnya kewalahan karena setiap kali melihat pohon jati
selalu berpindah ( = ngaleh, bhs Jawanya )
 
Yang menarik tapi juga orang Semarang banyak tak tahu
adalah design arsitektur Pasar Jatingaleh ( 1930 ) dan Pasar Johar ( 1933 )
Pasar yang nampaknya sederhana itu memang senang kupandangi lama-lama
adalah mahakarya arsitek Belanda Thomas Karltens
seoarng arsitek yang katanya banyak mengadakan observasi di lapangan
sampai sekarang ide kedua pasar itu banyak masih dikagumi
semisal tata letak pedagang daging yang ditempatkan di lantai atas
karena menurut pengamatannya lalat tak mampu terbang tinggi
demikian juag tempat pijakan untuk memuat barang ke pedati tempo dulu
belum juga jarak antar warung dalam pasar begitu diperhitungkan
 
Katanya dulu Pasar Johar sempat dibanggakan sebagai pasar termodern di Asia.
Pasar Jatingaleh dibuat sebagai prototipe ayng mendahului.
Belum lagi aspek pengaliran udara dan pencahayaan bagus banget
dengan atap-atap hexagonal yang berpilar-pilar sangat tinggi.
Kedua bangunan ini nampak masih bagus terawat.
 
Bertahun tahun kedua pasar itu dipakai berdagang
saya jadi ketawa geli dulu ada pasar tardisional Kagok di depan SMP 5 Candi Baru
orang sekitaran belanja pagi ke sana
namun semenjak dibuat menjadi banguna permane yang kaku dan tertutup
entah kenapa pedagang tidak menyukainya
sedemikain juga pembeli sampai kini matilah pasar tersebut

di sini saya bingung,
orang Belanda malah mengetahui pola berpikir kita sendiri
daripada bangsa sendiri walau hanya dalam masalah kecil
dagang di pasar tardional


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: