Posted by: sepanjanglempong | September 11, 2008

Kenang-kenangan Mendaki Gunung

di awal tahun 1970 an
Sejak Mapala UI dan Wanadri menyebarluaskan olah raga baru ini di tanah air
beramai ramai anak muda mulai menjejakkan kakki-kakinya di gunung

Apa yang didapatkan dari kegitan yang cukup beresiko itu ?

Banyak orang yang tidak tahu pendakian itu bisanya dimulai malah hari jam
10-11 malam
di saat orang-orang teridur lelap dalam buaian mimpi
kaki-kaki mulai berjalan perlahan menyusur pematang kebun sawah
mendaki dan mendaki lagi
dengan berjalan 7 jam bisanya kita akan mencapai puncak jam 5 subuh
saat yang indah untuk menikmati terbitnya matahari

kadang di lembah antara dua gunung kami lihat kilat menyambar indahnya di
samping kami
bila memasuki kebun Edelweis akan meluap kegembiraaan kami
Edelweis yang terkenal sebagi bunga abadi akan kami petik secukupnya
untuk menghisai meja belajar kami
dan mengingatkan selalu semangat pendakian selanjutnya
aku sendiri hanya pernah memberi Edelweis kepada seorang gadis yang sangat
special
di kemudian hari 22 tahun ia mengatakan padaku tetap menyimpannya rapi-rapi
bersama dua batu gunung
( setidaknya sudah tinggal tempatnya barangkali ya … duh romantisnya )

Tipisnya kadar oksigen dan dinginnya udara adalah tantangan terbesar seorang
pendaki
dan tentu saja setelah kepastian jalur pendakian dan jalur turun yang benar
kompas tentu kami bawa tapi jangan coba ditany punyakan peta gunung
kalau kami kesesat selalu mengandalkan pelatihan sederhan dulu
ikutilah alur sungai , ia akan mengiringmu ke lembah
pernah kami berdelapan tidak mencapai puncak Gunung Sindoro
kami berjam-jam hanya berputar di perut gunung
sepakat kami putuskan untuk membatalkan pendakian
setelah malam kami beristrirah di antara perdu dan ilalang menunggu matahari
pagi
rupanya kami tersesat …
setealh samapi di bawah kami saling menatap dan tertawa : kami tetap gembira

Gunung yang tinggi apalagi mencapai puncak bukanlah tujuan kami
kami berlatih dari yang ringan , sedang hingga ke yang cukup tinggi
seorang pemula akan diajak ke Telomoyo untuk kemudian ke Ungaran
sebelum ke Sindoro , Merbabau, Lawu , Slamet ataupun Merpai
belum lagi setiap gunung memiliki tingkat kesulitan yang lain-lain
di Ungaran untuk menuju ke puncaknya akan kita jumlai ilalang setinggi ukuran
manusia
di Merapi kumpulan batu yayng rawan longsor hingga orang perlu berjalan
menyamping
di Merbabau yang sering terbakar di musim pansa sungguh kering dan gersang

Begitu kami datang bisanaya kami sesuaikan tubuh kami
dengan berjalan-jalan di sekitar pedesaaan
makanan yang kami bawa adalah makana yang berenergi tinggi
gula jawa yang manis juga kentang rebus nana murah adalah favorit kami

bungkus plastik kaki kita agar tak mudah tertembus embun
menjaga kami tetap hanagat mengingat kaki adalah nyawa kami
selalu kami ingatkan untuk tidak bercanda kalau berjalan harus berhati-hati
kalau berjalan di samping kiri tebing, kalau menjatuhkan badan yo mesti
kekanan
sebab cidera kamai akan menyulitkan diri sendir juga teman sependakian
juga demikian dengan pakaian kami bila nanati turun hujan harus kami lakukan
menjaga badan tetap hangat karean enegri terkuras habis adalah yang utama

Di ketinggian ular malah tidak hidup binatang yang kami jumpai adalah monyet
bahkan kadang harimau hitam nun jauh di ujung lembah sana
kalau ingat ini kami merasa ngeri dan berkata sendiri kok dulu berani ya
burung burung melayang dengan indahnya
di puncak tak banyak buah hanya pohon dengan dedaunan aneka warna
kadang kami menginap di gua gua kalau terjadi hujan lebat
lumut lumut yang terangkai di pepohonan hutan tropis itu sungguh indahnya
kami biasanya akan duduk berlama-lama menikmati itu semua
apalagi mendengar desau suara angin gunung
tapi kami tak boleh tertidur … untuk menjaga stamina

Saat pulang tidak kalah pengtingnya kami mesti berhati hati
setelah tenaga terkuras habis lelah letih mudah sekali terkilir apalagi jalaan
menurun
bial jatuh diingatkan agar tidak menahan badan dengan tangan
lebih berbahaya bila patah atau terkilir mendingan biar bergulisng guling
resiko terbesar lecet di kulit memang, tapi setidaknya mengurangi resiko

Menyanyi adalah cara kami memompa semangat
atau membaca puisi keras-keras untuk orang yang kita kangeni di bawah kota
sana
kecuali mengibur sebetulnya juga mengurangi resiko kram mulut
merokok biasanya kami larang agar nafas cukup panjang
dan tidak menimbulkan kebakaran hutan
memakai balsem untuk mengahatkan badan juga tidak dianjurkan
malah setelah itu akibanya akan semamkin dingin terasa

Diterpa kesulitan berbagai reaksi manusiawi akan muncul
ada yang pelit, ada yang butuh dimotivasi, ada yang menyesal iku mendaki, ada
yg takut
di kemudian hari baru disadari kebayakan kesalahan orang
ingin mendaki karean ingin menunjukan kegagahan atau kehebatan
Melatih kesabaran, kekompakan, persahabatan adalah tujuan utama ternyata
dan tidak kalah pentingya kita dapat mengerti siapa diri kita sendiri
kesejatian diri ini muncul ketiak mengalami kesulitan
sebetulnya kiat cuman mencari diri kita sendiri

Biasanya sebelum berangkat, di puncak tinggi dan setelah selamat sampai di
bawah
kami berangkulan sambil menahan 30 kg tas gendong kami khusuk merenung dan
berdoa,
renungan dan doa ini yang menguatkan tekat kami
dan aspek spiritualisa teras benar karean kami sunggiuh berkedakatan dengan
kehidupan
Tuhan begitu hadir dan menyatu

ingat petikan puisi Soe Hok Gie yang diajarkan guru kami dulu
” Kami tabah tidak di awal saja, atau di pertenghan saja
tapi kami tabah hingga akhir …. ”

Begitu kenang-kenangan mendaki dulu,

Lagu Leo paling afdol dianynyikan saat mendaki :
” Bukit cemara itu tampak masih gelap,
aku bangun pagi dalam sejuk dingin,
kugulung tenda nyalakan sisa unggun api …”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: