Posted by: sepanjanglempong | September 9, 2008

Semarang

Mengapa disebut Semarang
katanya ketika Ki Ageng pandanaran yang kemudian ditugasi sebagai bupati
ke kota pinggir pelabuhan ini dari kesultanan Demak menatap
banyak pohon asam berjajar di sepanjang jalan
namun tumbuh dalam jarak yang berjauhan ( arang = jarang )
jadi asal katanya Asem Arang lalau menjadi Semarang

Dibangun mesjid di kawasan yang kemudian disebut Kauman
karena itu tempat pemerintah dalam bahasa lama Juru Nata
sampai sekarang daerah itu masih di sebut Jurnatan
persisnya dibelakang pasar Yaik, yang sebelumnya merupakan alun-alun

Kalau dibanding Jakarta memang lain yang hanya dataran luas
Semarang merupakan kota yang berbukit-bukit
dan Pemerintah kolonial Belanda cukup pintar
daerah atas di kawasan candi dibuat dareah tinggal
sehingga orang kaya dan pejabat tinggal di sana
sampai sekarang rumah rumah tua itu masih bisa ditemukan
Puri Wedari tempat tinggal Pang Dam VII Diponegoro
atau Puri Gedeh tempat kediaman gubernur ada di Candi
rumah dengan jendela dan pintu yang tinggi tinggi
Kota bawah dijadikan daerah pemerintahan dan bisnis juga sekolah

Di Kota lama yang pinggiran kali mirip Jakarta
masih bisa kita temui gedung gedung tua untuk bisnis
di sekitar Greja unik yang kubahnya mirip mesjid
orang Semarang menyebutnya Greja Blenduk ( = mengembung )
Gedung Kantor Pos Sekarang di kawasan Yaik itu dulu pusat pemerintahan
SMA 3 di Jl Pemuda dulu disebut Jl Bojong
dan SMA 1 ada di Jl Mentri Supeno ada di kota bawah

Di atas bukit Mugas dekat kuburan yang besar Bergota
ada tempat peristirahat Ki Ageng Pandanaran yang masih suka diziarahi
walau beliau sendir wafat di Klaten

Dulu ada trem kereta mirip Jakarta Kp Melayu
dari statiun di Lawang Sewu ( = Pintu Seribu ) depan Tugu Muda
hingga daerah Jombang, mungkin kalau kita bisa pertahankan
jadi San Francisco yang setiap orang datang pengin naik kereat kunonya itu

Pasar Yaik sekarang menyebutnya Pasar Johar, Psar Bulu dekat Tugu Muda
dan Pasar Jatingaleh dekat Gombel dibagun dengan arsitek Karlsten
sampai sekarang masih bisa dilihat dari tiang tiang yang tinggi
udara mengalir bebas untuk kota Semarang yang selalu panas

Di Ujung Jalan Pemuda masih bisa kiat temukan restoran Oen
dengan perabot masih tempo dulu begitu pula cara berpakaian pelayannya
berbaju serba putih bersarung dan berpeci ala Melayu

Katanya dahulu kala orang-orang Chinese bermukim di sekitar Samongan
komplex klenteng Sam Po Kong yang diyakini dibangun
atas perintah Kaisar Cheng Ho di tepi Kali Banjir Kanal Barat
setelah terjadi pemeberontakan terjadi pindahan besar-besarkan ke daerah
yang sekarang di sebut ……… ( lupa ) di belakang Jl Mataram
di sinilah tradisi makan terkenal itu dibuat : lumpia

Memiliki musik khas Gambang Semarang yang kini menjelang ajal kepunahan
dan sempat memilik adat pengantin yang membedakan
dengan pusat kebudayaan Solo atau Yogya tapi kini juga sudah tiada rasanya

Pelabuhan Tanjung Perak di saat saya masih kecil sering diajak ayah
mirip Sunda Kelapa banyak kapal kayu bersandar
kita bisa berjalan ke tepiannya dengan ujungya Mercusuar
akan selalu menjadi kenangan tersendiri

Di Lempongsari kata kakakku tertua ( 55 tahun ) dulu pernah tinggal Titik
Puspa
Mungkin sekarang orang hebat asal Semarang bertambah satu : Thukul Arwana
setelah kita tahu Ong Tiong Ham sang raja gula itu ha ha ha ….

Kalau ada yang ingin bernostalgia silahkan visit : http://www.semarang.nl

Itulah yang kuingat dari kotaku


Responses

  1. semarang kotakuw!!!!!!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: