Posted by: sepanjanglempong | September 9, 2008

S O E G I J A

MGR ALBERTUS SOEGIJAPRANATA SJ

Capek bekerja seminggu tapi masih pengin membaca
kuambil buku biografi karangan Anhar Gonggong
” Mgr. Albertus Soegiyapranata SJ,
Antara Gereja dan Negara ”
aku jadi ingat kata-kata latin dulu :
Pro Patria et Eklesia

Bagi yang tidak pernah berdekatan dengan intitusi Katolik
maupun membaca sejarah perjuangan secara detil
mungkin cukup heran bila anda suatu saat jalan-jalan di Semarang
menemukan Jl Soegijapranata
atau sekarang bahkan namanya dijadikan nama Univeristas Swasta di Semarang
Unika : Universitas Katolik Soegijapranata

Sejarah uskup pertama Jawa ini tak lepas dari dampak misionaris Belanda
yang kesohor itu : Rama Van Lith ketika sang rama mencari calon murid murid
untuk dididik jadi seorang guru untuk sekolah guru yang akan didirikannya
Sekolah guru yang didirikan di Muntilan tahun 1904 itu
akhirnya seperti kita tahu meluluskan banyak cendekia

Nama Soegija dalam bahasa Jawa mudah diartikan
berasal dari kata sugih yang artinya kaya
sebagai ungkapan keinginan orang tua untuk menjadi kaya
dibesarkan dari keluarga Islam abangan dan di saat kecilnya
justru anak yang bandel suka mengganggu anak anak Kristen
dan layaknya orang Jawa dibesarkan dalam adat budaya kraton
Soegija menjalani dengan ketat semisal puasa Senin Kamis pun dijalani

Sekolah imamatnya diteruskan ke Belanda
dan kemudian memasuki ordo Serikat Jesuit seperti tertulis SJ di akhir namanya
kebiasan ordo ini adalah menjalani kehidupan praktis secara langsung dalam masyarakat  
Ditahbiskan menjadi imam tahun 1931 dan kembali ketanah air 1933
Dan mulai di sinilah mengikuti kebiasaan orang Jawa nama tuanya diperkenalkan
menjadi : Soegijapranata
Tahun 1940 diangkat Paus menjadi Uskup Agung Semarang
yang menandai pertama kali orang pribumi menduduki peringkat tertinggi
dalam birokrasi gereja katolik di Indonesia

**

Masa pendudukan Jepang adalah masa yang sulit bagi misionaris Katolik di Indonesia
banyak pastur, bruder, suster yang ditembak tanpa diadili
kecuali pelarangan juga terjadi penyitaan aset gereja
cerita lucu yang akan dikenang setiap sesepuh di Semarang
adalah ketika Jepang akan merebut gereja Atmodirono
untuk mengesanakan gereja bukan temapat kosong maka beliau memerintahakan
untuk mengisi ruangan ruang yang ada, dan karean ruangan banyak
maka ditempelkan nama-nama imam termasuk dirinya sendiri
Kedua ketiak Randusari ( depan Tugu Muda, Semarang ) akan dikasai
beliau berkata penuh ketegaran
” itu barang dan tempat yang disucikan.
Saya tidak akan memberi izin.
penggal dulu kepala saya , baru boleh memakainya !”

Ketiak Jepang menyerah,
seperti di tempat lain Inggris mendarat di Semarang
dengan ditempeli pasukan NICA
Setelah mendengar pengumuman kemerdekaan
segera beliau memerintahkan membuat bendera merah putih yang besar
yang kemudian selalu berkibar di Pastoran Gedangan 
Ketiak Nica melarang ini, dijawab tegas oleh beliau :
” Kalau kamu ingin bendera itu turun,
coba datanglah kembali, dan rebutlah kekuasaan di sini !”

Pelucutan Jepang di Semarang oleh pemuda
yang berujung ke Pertempuran 5 Hari di Semarang
tentu sungguh bertambah mengerikan
seandainya Sang Pastor ini tidak menjadi mediator
untuk menghentikan penghentian pertempuran
yang telah 2000 korbannya itu
Jepang sendiri akhirnya membeberkan rahasia jebakan untuk pemuda
di Pasar Jurnatan ( dekat Pasar Johar ).
karean rencan para pemuda akan dipancing masuk
dan di habisi dari atap loteng rumah

Begitu cintanya para pemuda sempatlah terjadi kesalahpahaman
karean disaat perundingan muncul orang-orang Asia bersenjata
yang merupakan India-Gurka itu
sehingga pra pemuda pejuang itu menembaki pastoran
karean dianggap Jepang akan menangkap beliau

Tuduhan NICA bahwa beliau seorang “merah ” alias republiken
karean seringnya beliau menerima pejuang-pejuang itu dijawab dalam kelakar
” Memang benar apa yang dikatakan Belanda itu,
sedikitpun tidak salah.
Lebih lebih kalau saya berpakaian resmi, saya sungguh-sungguh merah ”
Bukankah paikan uskup suci memang merah ?

Kekacauan dan teror yang dilakukan Belanda di Semarang
tidak membuat sang pastor ini meninggalkan kota ini
bahkan beliau malah mengorganisir pemuda kampung
untuk membuat pos-pos penjagaan di kampungnya sendiri

Pidato belaiu dengan mantap di RRI Solo
yang merupakan jawaban atas Agresi I Belanda 1947
mengajak umat Katolik untuk berjanji dan mewujudkan kemerdekaan teguh
menghilangkan keraguan umat Katolik akan kebebasan beragama
layaklah bila Presiden SUkarno selau menyebut sang nasionalis ini
dengan sebutan hormat yang tinggi dan mesra : Romo Agung !

Ketika Agresi Belanda II yang kebetulan bertepatan dengan bulan Desember
dimana umat Katolik sudah bersiap-siap merayakan Natal secara besar-besaran
sebagai bukti keikutsertaan menghayati penderitaan
beliau melarang :
” Janagn menagdakan Natal yang meriah ,
perayaan Natal harus yang sederhana sekali !”

Rasa nasionalisme tegasnya ditunjukan ketika seorang pemuda Katolik bertanya
Apakah seorang beragama Katolik bisa iku berjuang mengahdapai Belanda
Denagn nada agak marah belaiu menjawab
” Apa ? Coba ulangi lagi pertanyaanmu ! Ayo Segera berangkat !”
bahkan belai mengatakan kepada pemuda pemuda KAtolik itu
” Dan kau, baru boleh pulang kalau sudah mati !”

ketika suatu kesempatan di negri Belanda beliau bermaksud
mengunjungi rekan-rekannya terutama yang berjasa atas pemebebasa Irian Barat
namun dokter melarang karena kondisi penyakit jantung yang cukup parah
Pastor dan Pahlawan Nasional itu akhirnya wafat di Negeri Belanda
bukan di tanah airnya yang dicintainya.
 
Setelah sambutan resmi di lapangan Kemayoran atas kepulangan jenazah
lalu disemyamkan di gereja Katedral Jakarta
Presiden Sukarno jam 2 malam datang memberikan penghormatan terakhir
untuk teman karabnya itu
Tanggal 30 Juli 1963 belaiu dimakamkan
di Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang

**
 
Ketika aku kecil aku pernah bertanya kepada ayahku
” Siapa Soegijapranata itu ? ”
ayah samabil mengayuh sepeda begitu lugu menjawab dalam bahasa Jawa :
” Rama siang wani nglawan karo Landa …”
( Pastor yang berani melawan Belanda )
dan ayahku memang benar,

Mungkin cerita Rama Agung itu mirip dengan Dr Kariadi
yang masih lekat di golongan tua saja yang mengenang perjuangan
tapi setidaknya lewat tulisan ini apalagi menjelang hari kemerdekaan,
aku akan tetap mengenangnya, merindukannya
sebagai seorang : Nasionalis !


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: