Posted by: sepanjanglempong | September 9, 2008

Ramadhan di Jawa

 Yang selalu teringat adalah Tarawih bersama. Anak-anak kampung akan berbondong-bondong mendatangi surau atau mesjid. Belum tentu semua akan sholat apalagi biasanya hari-hari pertama sangat penuh sesak makanya ketemu teman di mesjid saja sudah senang.
Ada yang malah bermain kejar-kejaran, Ada yang asyik bercerita dan ada juga yang mencoba nakal kecil-kecilan berlatih merokok. Jadilah sebenarnya tarawih adalah juga pembebasan anak-anak dari rutininitas.

Membangunkan orang untuk makan sahur adalah keasyikan tersendiri. Segala bunyi-bunyian ada dari bambu, kaleng, gelas, sendok kami rangkai bak musik orchestra. Jangan ditanya kualitas suara. Tidak ada seleksi bak idol-idolan itu. Siapa saja yang datang juga yang masih riyep-riyep mengusap mata menahan kantuk kami terima.

Jalan-jalan setelah sahur tentunya setelah sholat Subuh adalah hal biasa. Menuju pusat-pusat kota, biasanya itu alun-alun. Walau cukup jauh akan kami tempuh bersama dalam suasana canda dan tawa. Di sini kami bermain lagi berkejaran seolah tak pernah habis tenaga kami dan tak takut kelelahan atau kehausan. Nah, perjodohan kecil-kecilan antar kampung kadang terjadi. Kami yang kecil hanya kegelian mengintip yang sudah gede sedang merayu wanita-wanita muda.

Tidur siang tidak lagi disuruh namun sudah merupakan kebutuhan. Apalagi kalau bukan untuk melupakan perut yang keroncongan dan membalas kantuk semalam. Namun biasanya jam empatan sore kami sudah bangun lagi untuk segera mandi dan bermain lagi. Kali ini perisapan menyulut petasan bambu untuk mengiringi beduk adzan mahrib. Bila suaranya bisa bersamaan dengan bedug tersebut sungguh senangnya.

Kolak sejenis makanan manis terdiri dari pisang dan ubi adalah santapan pembuka. Manisnya katanya akan mengembalikan tenaga kami. Baru kemudian kami makan besar. Tentu segala hidangan kami santap lahap membalas kelaparan seharian. Korma bagi sebagin besar kami dulu adalah makanan yang mahal dan jarang tak seperti kini dengan mudah didapat dan terjangkau harganya.

Petasan kertas cukup mahal makanya hanya kami simpan untuk kami sulut di hari lebaran saja. Aku ingat dulu yang paling ngetop gambarnaya cap kepala singa kami menyebutnya Leo. Masih ada nggak ya ? Kualitas ledakannya tak diragukan lagi. Bagi yang masih kecil biasanya akan belajar bermain cabe rawit saja yang warna warni. Mungkin orang tua mengingatkan kita hanya akan benar-benar bergembira kalau sudah melampaui puasa , saat Lebaran nanti. Makanya di sana baru kita sulut petasan yang sesungguhnya.

Tarawih 10 hari terakhir sudah sangat sepi. Beberapa teman sudah kembali ke desa asalnya. Kami paling senang ketika mesjid mengajak makan bersama. Menunya tidak special. Biasanya setiap kepala rumah tangga akan menyumbang makanan. Namun karena kami makan bersama-sama makanya tak ada lain kecuali kegirangan semata. Biasanya di hari ini kami hanya makan makanan pembuka di rumah karena kami ingin makan besar di mesjid.

Ramadan akan diakhiri dengan bedug keliling kampung. Obor kecil sudah dipersiapkan. Dari bambu buat yang dewasa dan anak-anak dari pelepah papaya yang diisi minyak tanah dan kain akan kami sulut untuk mengiringi suara kami mengagungkan kebesaran nama Tuhan. Tak jarang kini kita susah sekali membesarkan nama Tuhan penuh dengan kegembiraan seperti di saat kecil dulu. Begitu Bersemangat !

Entah sejak kapan tradisi ini ada. Mungkin sejak jaman Walisongo dulu. Namun hikmahnya selalu baik adanya. Dari mebangunkan sahur di pagi hari adalah semangat kesetiakawanan tak ingin orang lain kesiangan bersantap sahur, Jalan-jalan pagi setelah sahur kecuali menyehatkan adalah menahan agar tak terjatuh kantuk tidur lagi karean masih ada sholat subuh, menyulut petasan di sore hari adalah mebiasakan kita bergembira menyambut kesusksean satu hari menyelesaikan puasa. Bisa saja di setiap tempat mungkin bentuk acara agak sedikit berbeda namun esensialnaya sama.

Setidaknya pesan para wali dulu di Jawa mungkin telah disampaikan sedari anak-anak sehingga sarjana Barat seperti Andre Moller dapat melihatnya dengan bijak : “ Fasting during the holy month of Ramadan is both a joy and a jihad for the Islamic community in Java …”

Dulu kami libur bisa penuh 40 hari selama puasa hingga lebaran. Jadi bukan hanya tantangan saja yang kami rasakan di bulan puasa. Namun juga kegembiraan liburan panjang. Bulan-bulan yang kami rindukan datangnya. Penuh kegembiraan.

Fantastik !


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: