Posted by: sepanjanglempong | September 9, 2008

Menelusui Jejak Sang Maestro Di Surabaya

Sudah lama saya memimpikan untuk menelusuri jejak sang maestro di Surabaya
yakni mengunjungi tempat – tempat yang menginspirasi sosok troubador kita Leo
Kristi menciptakan syair & lagu.

” Engkau Keras dan sombong
Engaku kasar dan angkuh
Engaku kotor penuh nafsu
Keringatku bercucurandi deretan rel-rel
Keringatku bercucuran di deretal bordel
Keringatku bercucuran di deretan palka
Keringatku bercucuran di bordes trem-trem
Kota …”

Suhu 37 C ketika …
Pertama saya mendarat di Kranggan – Pangselan tepat jam 12.00 siang untuk
menikmati lontong balap makanan khas Surabaya. Tepatnya tempat ini berdekatan
dengan kawasan Blauran. Saya heran kenapa di setiap kota ada daerah namanya
Kranggan sebagai misal di Jakarta & di Semarang juga. Pangselan katanya berasal
dari bahasa Belanda yang artinya gorong – gorong. Di sini dahulu ada bioskop
bernama Garuda tempat Leo kecil mengintip pertunjukan daerah ini tidak jauh dari
Jl Sindoro rumah pertama keluarga Leo Kristi. Dulunya jalan Sindoro bernama
jalan Alexander , itulah kenapa saudara Leo ada yang diberi nama oleh
ayahandanya Lexi. Pantaslah kalau dia bernyayi :
” Rumah putih ibuku
Hati ke hati
Wi wi wi wiuuuuu ”
( lagu ini sempat diadaptasi dan dipopulerkan oleh Oppiek )
Dimana Sindhunegara ? ternyata adalah nama lama Jl. Sudirman dimana berdiri
Memorial Sudirman. Sedangkan Ngaglik Ban Sepur agak jauh selintas pandang saya
melihat nama daerah Demak Ban Sepur. Mungkin daerah – daerah sepanjang rel
kereta diberi nama awal daerahnya dan nama akhiran Ban Sepur.
Pantas lagu sederhana, lebih tepatnya senandung ini disebut
CATATAN JALAN , SURABAYA

Ingat tulisan Mas Anto Bantul dulu ?
Perjalanan berikut saya adalah menuju RS Darmo, RS peninggalan Belanda di Jl
Darmo yang memang masih asri itu. Begitu sampai saya cari pintu gerbang
utamanya.
Nampak di sana tulisan setengah melingkar :
SALUS AEGROTI SUPREMA LEX EST
Saya bahagia banget.
Saya berdiri di tempat yang selama ini cuman bisa saya bayangkan dalam
nyanyian.
Cukup lama saya tertegun di sini.
Lalu saya terulusuri lorong pedestrian , juga taman yang indah di tengah RS
yang luas dan tenang, damai.
Saya mebayangkan sesorang yang menangis di sini sambil melangkah.
Kehilangan yang amat sangat.

Selanjutanya saya mencari Balai Pemuda.
Gedung tak besar itu membuat saya bernyanyi
” KUTUNGGU DI BALAI MUDA
Malam ini bersenandung bersama …”
Belok kekiri masih siang bolong gembira saya bertambah
Saya menemukan MEMORIAL SUDIRMAN yang berpedang gagah.
Apakah dulu setelah konser Leo menemukan gadis pengamen kecil
Tertidur di pelataran marmernya ini di malam hari ?
Jalan ini memang ramai sekali.
” Sedan-sedan lewat tak ganggu nyenyak tidurmu …”

Kemudian saya mencari SYNAGOGA, tempat peribadatan agama Yahudi.
Saya sms Santoso di Bontang untuk bertanya di mana itu Syanagoga.
Akhirnya saya dapat jawaban di Jl Kayon.
Setelah berputar putar kawan saya Pak Noerman setangah berteriaak
” Pake itu dia Synagoga-nya !”
Tetap saya takjub melihat bangunan bak rumah,
walaupun sebelumnya dalam bayangan saya sebesar gereja gereja.
Rumah sederhana ini terbagi dua ruang utama.
Sebelah kanan berserambi dan di depan pintu masuk yang serba kayu
Nampak tulisan tulisan Ibrani.
Dengan semangat ingin tahu saya bertanya ke seseorang apakah Synagoga ini
masih digunakan ?
Tiba-tiba seorang berwajah Yahudi ganteng muda menyapa saya
” Sampeyan siapa ? ”
Saya terangkan baik baik saya fans Leo, penggemar kebudayaan,
Jauh jauh saya datang ingin melihat Synagoga satu-satunya di Indonesia ini.
David yang berpeci hitam kecil ala Paus di kepala atau layaknaya rabi rabi
Yahudi
Dengan ramah menerangkan sekarang sudah tidak dipakai lagi bagunan ini.
Sebagian besar warga Yahudi telah wafat.
Rencana akan dijadikan museum.
Opa David, Pak Joseph adalah penjaga gedung Syagoga ini.
Melihat saya dengan semanagt mencintai,
David membukakan pintu saya untuk mejelajah masuk ke Synagoga.
Saya ucapkan terimakasih berkali-kali. Saya bahagia sekali.
Masuk dari pintu belakang sedikit ada ruang buat peralatan dengan almarinya.
Lalu ruang perjamuan lengkap dengan meja kursinya.
Belok ke kiri ruangan utama terdiri atas mimbar di tengah , tempat para
pengibadah di depan dan di belakang tempat altar dimana biasanya Taurat suci
disimpan.
Di tempat Kitab Suci Aurat tadi disismpat tertulis juga kata-kata dalam bahasa
Ibrani, David membacakan dan mengartikannya :
” Tuhan selalu beserta kita dimanapun juga …”
Kursi rotan tua hanya untuk sekitar 25 orang tertata rapi.
Konon bangunan ini didirikan tahun 1935.
Merinding saya membayangkan para komunitas Yahudi Belanda dulu beribadah
Bergema di ruang ini.
Segalanya furnitur masih asli, sebagai bentuk penghormatan saya tak berkenan
memotretnya.
Kemudian David memamerkan peralatan ibadah, diambilnya sebuah terompah yang
berpilin pilin yang katanya kalau ditiup suaranya seperti orang berteriak.
David mengambilnya dan yakin bisa memainkannya.
Ditiup terompet itu di samping kanan bibirnya menggema.
Saya merinding ingat perjuangan keras Bani Israel dulu di padang tandus.
Saya peluk David karean bahagia , lalu saya ucapkan satu satunya kata Yahudi
yang kumenegerti artinya :
”SaLom …”
Tiba tiba saya ingin berdoa, saya minta izin masuk ruang utama lagi
Saya bersujud bak seorang muslim,
Saya berdoa cara Katolik : Atas Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amien
Di depan altar Synagoga, peribadatan Agama Yahudi.
Hanya satu yang terucap :
” Semoga manusia saling mencintai, tidak saling mebenci …”
Tak terasa air mata mengambang.
Mengingat perjalan ribuan tahun perjalanan agama-agama Samawi.
David menjelaskan ia percaya Tuhan walau tidak mengatakan tegas apakah
agamanya.
Ayah David seorang muslim , ibunya seorang Yahudi katanya.
Saat ini ia sedang berlibur dari belajar filsafat di univeristas di Inggris.
David bilang masih beruntung ke sini ketemu dia,
kalau ketemu opanya Pak Joseph tentu dilarang saya main ke dalam.
Berulang kalai saya ucapkan terimakasih kepada David,
Dan saya berjanji kalau saya menulis akan saya foward ke email dia.
Cuman saya terburu buru mengingat pesawat jam 17.00 akan membawa saya pulang
Sedang saya masih ingin mengunjungi satu temapat lagi.
God bless You David. Itu ucapan Perpisahan kami.
Berulang kali saya menengok Synagoga.
Rasanya tak ingin secepat itu meninggalkannya.
Ingat BA bernyanyi, ingat Rezza menagtakan memang begitu musik Yahudi,
Ingat Ramdan menagtakan lagu magis, ingat Santoso mencari …
” sedang di gaung pemujaan
bintang berpasak cinta ….
Anak tembok menangis
Bersiap untuk pulang malam
Demi anak dan cucu
Masa depan terpilih ”

Akhir perjalanan saya adalah mencari gedung CFF, Kebudayaan Perancis.
Di Denoyo.
Begitu ketemu saya langsung mencari dimana ada terali setinggi lima kaki ?
Setidaknya ada dua terali di pagar lamanya atau di jendela.
Tadi malam Leo bercerita yang di pagar jalan ..
Di jalan inikah Leo merenungkan tentang Tuhan
Dan menjadi lagu ikonnya itu NYANYIAN MALAM
” Hanya setitik sinarmu ,
Ketika kuberjalan
Sisi terali terali setinggi lima kaki …”
Tapi saya tak tahu apakah dulu ada burung hantu ?

Di sini perjalanan saya berakhir
Bahagia sekali.
Kenangan ini akan membuat saya akan lebih khusuk bernyanyi.

Mungkin tempat itu tempat-tempat biasa.
Tapi setidaknya jadi tempat yang laur biasa di tangan Sang Maestro.

” Ketika kau hadap mata hari senja
Keringatku sirna oleh desir anginmu
Surabaya
Surabaya
Surabaya
Aku Cinta kau !!!

Hey Bangun dan berdiri
Nyanyikan di timur matahari

Surabaya oh Surabaya oh Surabaya
Surabaya oh Surabaya oh Surabaya

Hey Bangun dan berdiri
Nyanyikan Timur matahari”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: