Posted by: sepanjanglempong | September 9, 2008

Life After Death

anakku yang pertama meninggal dalam kandungan karena rubella dan toxoplasma
walau baru berusia 6 bulan kami tetap memeberikan nama
Adiba Rakhma Ilahi
dan demikian kuajarkan ke Katia adiknya
“Kau adalah anak kedua dan Gusti ketiga,
Kak Adiba menunggu kita di surga … ”
( demikian kukutip dari wejanagan ibuku setiap kali kutanya kakak keduaku yang
wafat
ketika aku belum lahir karean ditabrak mobil di dekat RS Elisabeth Semarang
sering kutanya kata orang wajahanya mirip denganku ?
karean saat aku lahi aku dibiasakan ke makamnya setiap tahun menjelang lebaran
sedang foto-foto kami tak memiliki lagi saat wafatnya lenyap diambil
saudara-saudara
” Wis Apik negenteni ning kono le … ” demikian ibu selalu berkata )
aku tersentuh setiap kali Katia ditanya berapa bersaudara
Dia akan tangkas selalu menjawab : ” Tiga ! ”
Setiap menjelang Lebaran kami datangi makamnya di depan rumah mertua
sekedar tabur bunga karean biasanya kami tak mampu berkata-kata
bahkan hanya menangis haru
ketika suatu saat saya mendapat musibah di kantor karean diperlakukan tidak
adil
saya juga berdialog dengan anakku yang pertama seras dia masih hidup
berbisik :
” Doakan ayahmu ya Nduk ! ”
seolah di sana Adiba tersenyum lirih : ” Aku bangga akan Bapak ! ”
Budaya Jawa mempercayai mereka masih hidup menatap kita.
Di keindahan puncaknya saat menonton konser Leo aku kadang menangis
Istriku akan bertanya : ” Kenapa ? ”
Aku lirih akan menjawab :
” Aku kangen Adiba … mungkin sudah 10 tahun kalau dia hidup !”

Dulu ketika kakak ipar saya, orang yang cukup dekat denganku wafat
saya begadang menunggu di RS Pertamina
sementara istrinya, kakaku tertua stress berat
aku termanggu … perasaan haru itu menghilangkan perasaan takut berada kamar
jenazah
kupandangi wajah yang diam beku
mengalir segala kenangan sedih indah
ketika mendarat di Semarang ketiga keponakanku memelukku
seraya berteriak histeris , mereka teralu muda untuk kehilangan seorang ayah
aku berkata dalam hati, walau terpisah jarak jauh
semampuku aku, pamannya akan membimbing mereka memasuki masa remajanya
setiap kali pulang saya selalu bertanya bagaiman kabar pusara ayah mereka
apakah mereka sempat menengok mencabuti rumput yang liar tumbuh di sekitarnya
di tengah kesibukan-kesibukan mereka
dan setiap kali pulang mengunjungi pusaranya
aku berkata lirih :
” Mas anakmu sudah besar-besar, mereka selalu akan ingat cintamu ! ”
aku berkata seolah-olah iparku masih hidup
seperti dulu kami sering diskusi di saat parahnya
sambil perlahan kupijit telapak kakinya
dia akan berseloroh : ” Katanya sekolah nuklir, ko pinter mijet !”
aku jadi tersenyum sendiri


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: