Posted by: sepanjanglempong | September 9, 2008

Kolong Tangga

Setelah perlahan surut berita tentang Pak Puh, Kompas minggu kemarin menyerobot
perhatianku dengan dibukanya Museum Mainan Anak di Bentara Budaya , Yogyakarta
kalau nggak salah namanya : Kolong Tangga ? yang artinya : Di Bawah Tangga.
Mungkin karean dulu itu mainan kecil kita taruh di sana barangkali.

Pernah suatu kali saya tanya kemenakan saya : Dimana saya bisa menemukan
mainan-mainan tradional jaman dulu ya ? Keponakan saya terbengong-bengong.
Pertanyaan jadi mudah kalau misal saya bertanya dimana saya bisa main PS atau
Timezone.

Suatu kali saya berbagi hati dengan mas Noer tentang keprihatinan saya tentang
mainan-mainan lama ini … Malah Mas Noer memberikan ispirasi, adalakah dari
kita yang pernah nulis atau meneliti mainan-mainan anak tradisionil ini ?
Saya jadi ketawa geli sendiri, mungkin suatu saat anak-anak kita hanya
mengenal mainanan lama lewat website saja. Mungkin !

Mainan yang bagus kecuali menyehatkan bagi anak-anak juga mengispirasi.
Mainan bukan hanya “tool” untuk melewati masa-masa bahagia namun sekaligus
mengasah daya chayal anak … sesuatu yang sangat alami dan luar biasa bak tiada
batas.
Kadang kita lupa menyadari aktualisasi diri kita yang kita inginkan adalah
chayalan kita saat kecil di masa lalu. Mungkin para dokter kini dulunya saat
kecil bermain dokter-dokteran loh ?

Suatu kali saya berjalan di terik panas di tengah perkampungan gersang di
daerah Semarang pedalaman. Saya temukan seorang bocah bermain wayang-wayangan
dari kertas kerdus seadanya, memainkan wayang di depan halaman rumahnya. Sembari
istirah membasuh dahaga saya perhatikan begitu riang anak ini bermain sebagai
dalang sementara seluruh kawannnya dibuat terpingkal-pingkal mendengarnya.
Episode ini sungguh lekat dalam hidup saya …
Saya jadi selalu ingat anak-anak butuh bermain, tak penting apapun alat
permainannya.
Jadi Main … itu penting, sepenting belajar.

Sebetulnya daya chayal juga suatu kemampuan beradaptasi yang hebat katanya.
Anak-anak tak peduli dengan keterbatasannya dengan bermain pelepah pisang.
Anak-anak mencoba mencari tempat tersembunyi yang tak mudah diketahui.
Anak-anak menebak siapa yang menyembunyikan biji suwengnya dari raut wajah.
Anak-anak yang sehat melompat dan menangkap tongkat kecil takadal

Biarlah anak anak merasakan sakitnya pandan duri,
Biarlah anak anak jatuh terpeleset dari sepeda,
Biarlah anak anak basah bermain hujan hujan
Biarlah anak anak mencari mangganya sendiri
Biarlah anak anak main di kali …

Ya,
di kolong tangga itu kita simpan mainan kita setelah seharian berkeringat
Anak-anak …


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: