Posted by: sepanjanglempong | September 9, 2008

KAMIKAZE

Tahun 1281 Kubilai Khan mengerahkan armada Mongol untuk menyerbu Jepang.
Serangan ini seharusnya berhasil apabila pasukan dan kapal-kapalnya
tidak dicerai-berai oleh topan raksasa di lepas pantai Jepang.
Orang Jepang menganggap badai adalah bukti perlindungan dewa,
setelah itu mereka menyebut pelindung Kekaisaran ini sebagai KAMIKAZE
atau Angin Dewa

Pukul 10:50 pagi waktu Philipina, kapal induk kawal USS St. Lo
sedang berlayar di Lyete ketika diserang oleh seorang pilot Jepang.
Pilot itu sengaja menabrakkan pesawatnya dengan terjunan bunuh diri .
Hancur akibat api dan ledakan, St. Lo tenggelam sebagai korban pertama
serangan model baru yang menakutkan itu.
Malam itu 25 Oktober 1944 Markas Besar Kekaisaran di Tokyo mengumumkan
pembentukan Pasukan Serangan Khusus Kamikaze.

Sebetulnya operasi model begini bukan hal yang baru,
Saat perang Rusia Jepang Laksmana Heihachiro Togo membentuk unit berani mati
untuk memblokade Port Arthur.
Laksmana Yamamoto telah mengirim kapal selam mini ke Pearl Habour.
Tetapi kedua tindakan ini bukan seratus persen bunuh diri,
masih ada kemungkian selamat walaupun kecil

Kamikaze mengejutkan dunia karean adanya aspek “kematian yang pasti”.
Sejarah memang memberikan kisah tentang prajurit tempur yang mati,
tetapi belum pernah ada dalam sejarah program dilaksanakan secara sistematis
dan dalam jangka waktu yang panjang.
Setiap serangan masih memungkinkan keadaan selamat buat prajurit,
tidak demikian dengan metode Kamikaze.

Akhir tahun 1944 setelah serangkaian kemenangan Amerika di darat dan laut
disiapkan operasi laut besar-besaran untuk merebut kembali Pilipina dari tangan Jepang
Kejatuhan Pilipina adalah ancaman terburuk bagi Kepulaun Jepang.
Inilah dasar pemikiran pertempuran habis-habisan armada Jepang khususnya
Angkatan Laut untuk menahan laju Amerika menuju tanah airnya.

Tiada yang lebih merusak moral pasukan daripada mengetahui superioritas musuh.
Kata Kolonel Jyo yang terlibat pertempuran di bulan jUli 1944 :
” Kita sulit mengharapkan menenggelamkan kapal induk musuh yang jumlahnya jauh
lebih banyak melalui metode penyerangan biasa. Saya mendorong segera dibentuknya
unit unit serangan khusu untuk melaksanakan taktik penabrakan diri
dan saya minta agar dapat menjadi komandannya”

Menarik . Bagaiman motivasi diberikan sebelum pilot-pilot itu melakukan bunuh diri.
Laksmana Ohnishi yang mencetuskan ide Kamikaze tampil berpidato,
pertama-tama wajahnya yang dingin dan pucat itu menatap pilot-pilot muda,
suara terdengar lambat dan bergetar ketika mengatakan :
” Jepang sedang menaghadapi bahaya besar. Penyelamatan negara kita sekarang berada
di luar kemampuan para menteri , staf umum dan komandan rendah seperti saya.
Penyelamat hanya datang dari kalian , anak-anak muda yang bersemangat.
Maka Atas nama beratus juat saudara sebangsa dan setanah air saya minta kalian
untuk memeberikan pengorbanan ini dan berdoa kalian berhasil ”

Lalu pidato pendeknya dilanjutkan :
” Kalian telah menjadi dewa tanpa keinginan duniawi .
Satu hal yang kalian harus ketahui, penabrakan diri kalian tidak akan sia-sia.
Sayang sekali kami tak dapat memberitahukan ke kalain hasilnya.
Tetapi saya akan melihat usaha kalain dan melaporkan untuk Tahta.
Semoga kalian Percaya ”
Butiran air mata menetes dari matanya ketika diakhiri dengan kata-kata :
” Saya harap kalian semua melakukan yang terbaik ”

walau akhirnya Kamikaze banyak mengundang kontroversi.
Dari pilot-pilot ahli berguguran, hingga setngah ahli hingga yang paling yunior.
Akhirnya telaah kritis diberikan salah satunya oleh presiden koran Yomiuri
tanggal 1 juni 1946 :
” Saya cenderung berpikir bahwa kekuatan spiritual bangsa Jepang hanya terlihat
pada saat menderita. Secara jangka panjang , kekuatan bangsa Jepang ini
akan semakin mengecil dan melemah . Contohnya adalah semangt Kamikaze.
Kita harus membangun rasa yang lebih gigih seraya tak perlu melakukan
kepahlawanan sesaat …”

Sebelum terbang biasanya dilakukan upacara bersama meminum air perpisahan
yand diambil dari sebuah wadah yang ditinggalkan  oleh Laksmana Ohnishi.
Para rekan sesama pilot juga berbaris untuk mengiringi kepergian mereka sambil
menyanyikan sebuah lagu kuno.
lagu ini sangat sedih menyayat tapi juga membangkitkan semangat
Syair lagu ini menyentuh di pagi hari

Umi yukaba
Mizutsuku kabane
Yama Yukaba
Kusa musu kabane
Ogimi na ge bi koso shiname
Nodo Niwa shinaji

Jika saya pergi ke laut,
saya akan kembali sebagai mayat yang terdampar
jika tugas memanggil saya ke gunung
padang rumput hijau akan menuntun jenasahku
maka untuk Kaisar
saya tidak akan mati tenang di rumah

Bacalah salah surat terakhir mereka sebelum melakukan misi bunuh diri :
Apakah Tugas hari ini ? Untuk Bertempur
Apakah Tugas Esok Pagi ? Untuk Menang
Apakah Tugas Sehari hari ? Untuk Mati 

Juga puisi yang ditulis ini :

Seperti bunga ceri yang mekar
di musim semi
biarkan kami gugur
bersih dan bersinar

Kini bisa dimengerti makna Pepatah Jepang yang mengatakan :
“Hidup seringan bulu jika dibandingkan beratnya tugas …”

( disarikan dari buku Kamikaze )


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: