Posted by: sepanjanglempong | September 9, 2008

Cafe Akarsana

Di Semarang,
Di Kotaku kolam renang tak ada banyak waktu kami kecil SD,
sehingga butuh perjuangan untuk menuju tempat kolam berenang.
Satu-satunya kolam renang ada di depan stadion Diponegoro
Jadi dari kampung Lempongsari aku dan teman-teman mesti meluncur ke bawah
bersepeda ontel melewatikampung Gergaji menuju perempatan Taman Pahlawan
lalu ke kiri jalan yang luas itu lintasi bundaran air mancur depan UNDIP
terus menuju Simpang Lima berputar dulu.

Sebetulnya bisa saja kami menerabas lewat samping UNDIP
tapi dasar anak-anak berkeliling Simpang Lima merupakan kesenangan tersendiri
Yang kuingat di samping kiri ada STM Pembangunan ( sekolah Mas Kef )
laluada Gedung Olah Raga kami suka menyingkatnyaGOR ( sekarang jadi
hotel Ciputra )
kemudian berbelok ke kiri bila ketemu RRI belok lagi ke kiri
setelah gedung bioskop sampailah kita ke kolam renang.

Pulang berenang perjuangan dimulai,
sudah capke ditambah tidak seperti berangkat yang tinggal dorong jalanan turun
pulangnya kami  harus mengayuh karena agak menanjak
kembali menyusuri Simpang Lima di sore hari
di ujung pojok ada pertokoan group lokal namanya dulu Mickey Mouse
sangat ngetop di Semarang semacam group toserba lokal

kami kadang mendorong sepeda memasuki pelataran ruko itu
dengan rasa heran sebagai anak kampung
saya ingat banget ada cafe di pojokan itu bernama : AKARSANA
nama itu menarik bagiku
sering kalau bermain bersama teman aku bentak temanku dengan : Akarsana
( mungkin sperti kita mengucpakan yel yel saat tema building sekarang )
sambil mengingat cafe itu

mungkin bawah sadarku seperti dendam kapan bisa makan di restoran itu
sebutan cafe saja mungkin sebutan kebarat-baratan seperti juga Mickey Mouse tadi
mewakili jamannya di saat kita menganggap semua yang barat maju
walau hanya es campur yang dihidangkan, diaduk sebelum diminum

sambil menikmati keindahan Simpang Lima sore hari,
bagi kami anak kampung yang tak mampu sungguh suatu godaan tersendiri
Oh ya
Simpang Lima sendiri bagi orang Semarang adalah hiburan yang murah
langit luas duduk di pinggirnan maupun di tengah pelataran rumput sore hari
memang enak
biasanya di malam minggu banyak orang berkerumun
sekedar melepas kebosanan dengan jajanan seadanya
cukup untuk melepas kepenatan dan kebosanan hidup
kalau jelang Lebarang banyak yang menjajakan kembang api
kadang anak-anakmenyulutnya di tengah lapangan itu dengan gembira :
sungguh sederhana

Cafe itu adalah
tempat dimana Leo Kristi menciptakan Lagu Pojok Cafe SImpang Lima yang terkenal
itu
( kemarin Leo Kristi menyebut nama cafe itu, dengan ingatan tajam )
sekarang sudah tak ada
bahkan sebelum cita-citaku saat kecil suatu saat makan disana
Mungkin suasana biasa itu yang ditangkap
Leo justru dengan bahasa yang indah
yang menunjukan kemaestroannya, coba simak :
” Kemarin, Hari ini, Hari esok
lubuk hati
Cintaku
Tak kan sepi
Dalam mengabdi … ”

Saat SMP lagu itu saya setelah berulang-ulang,
sudah indah walau belum juga tahu maknanya secara dalam keseluruhan lagunya
Makanya waktu ketemu Leo pertama kali sempat kaget  
hati saya berontak Leo yang saya bayangkan hebat itu
orang biasa saja bahkan cenderung pendiam dan kadang pemalu.
ha ha ha ha …


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: