Posted by: sepanjanglempong | August 29, 2008

Rumah Putih Ibuku

 

Untuk anak anak ceria di rumahku :
Dhafa, Dimas, Alif, Thariq, Noval, Adit, Andi, Michael

Melihat riang anak anak teriak bermain di halaman Bojong Kulur
akau teringat masa kecilku yang gemilang
di rumah ibuku di sebuah gang menurun di Semarang
aku akan selalu ingat :

jalanan yang tengahnya sedikit di aspal
hanya cukup untuk 2 brompit ( sepeda motor ) bersinggungan
atau setidaknya memudahkan pedangan es melintasi
di kiri kanannya hanya tanah dan sedikit batu berserakan

ada nomer 459 dipaku ayah terbuat dari timah
pohon jambu kluthuk yang buahnya tak habis-habisnya
aku akan senang memperhatikan bak air PAM di pojok sana
berputar putar jarumnya bila air mengalir deras
kran segienam kuningan itu kumainkan kuputar-putar
sebelum kakakku datang membentakku

kami tak punya pagar hanya pohon murbei dan bunga sepatu mengitari rumah
buah murbei yang merah kecut dan hitam manis
akan menjadi rebutan teman-teman bermain
nah untuk cewek cewek kecil itu tentu aku kejar minta sun
kalau mereka tergoda meminta petik bunga sepatu kami

halaman depan kami tak seberapa
tapi kami senang beramin semua maianan anak di situ
di tengahnya kadang aku lubangi separuh bola untuk bermain gundu
atau kamia garis imajiner dengan tangkai kayu untuk bermain sunda manda
atau lempar kreweng ( pecahan genteng ) yang disusun
diatas puncaknya kami taruh kerikil
dan kami berlomba melemparnya sebelum sembunyi berlari
ada lubang besi untuk dasar bendera yang sering kami masukin petasan cabe
sehingga bunyinya bertambah nyaring kalau meletus
atau lihat di jalanan tiang 110 volt yang rusak itu kami masuki mercon cap singa
suaranya bergema jauh

di ruang tamu ada kursi sederhana
ubin persegi yang hijau lumut
dan sebgaian kamrnya masih ubin merah kasar
hiasan 2 macam yang kuingat satu ukiran Borobudur
dan satunya poster speedboad
dulu sewaktu aku kecil seklai , mungkin 5 tahun
sebelum rumah kami berjendela nako dan kusen kayu nangka
aku ingat cuman kawat menjadi separoh dinding rumah kami

di samping kanan belakang ada pohon kluweh ( = timbul , sejenis sukun tapi besar )
yang buahnya tak habis habisnya untuk dibuat sayur
bial kuncup bunganya jatuh yang tua coklat itu kami menyebutnya ontel
kami bakar sebagi pengusir nyamuk
di kemudian hari pohon ini sangat besar
ayah sangta takut merobohi rumah kami
terpaksa kami mencari penebang pohon ahli dari desa ayah di Salatiga
untuk memangkasnya
seharian aku mengamati bagaimana orang ini dengan gagah
dengan golok dan tali dadung memangkas satu demi satu
hingga habis pohon kami itu,
aku sempat kehilangan karean sejak itu kami harus meminta kluweh
bila ingin membuat sayur
padahal dulu kami berlimpah dan selalu mencari siapa tetangga yang mau
bila telalu banyak buah tak terurus matang dipohon jatuh
kami menyebutnya : kebrok
wah bijinya akan kami pisahkan untuk kami rebus
sungguh lezat

ayah memiliki kursi ukuran dua orang di taruh di depan rumah
di situ biasanya di saat bengong kami tetirah menjelang sore
atau kala senggang di malam hari
bila ada tetangga lewat yang lewat kami bertegur sapa
mbah Sajak tetangga depan kami selesai keliling kampung menawarkan jasa cukur
Bu Kartim yang pulang dari pasar Johar masih bau ikan asin
atau om Parji yang pulang setengah hari untuk menengok rumah
sebelum jaga malam lagi

radio transistor teronggok di sudut ruangan
diatas meja marmer dan furnitur tua itu
aku selalu mengusapany jikalau pulang
melongok kamar kakak ada poster Suzzi Quarto
( ini kutahu karean ada tulisannya )
dan El Pacino dan Jimmy Page sedang memetik gitar doublenya
( dulu mana mungkin aku tahu )

Kamar kami banyak
tepat disamping ruang tamu adalah kamar tamu nan besar
karena sering kelaurga dari desa ayah terutama dari Salatiga akan datang
kamar kedua adalah kamarku dan kakakku
di sampingnya kamar ayah dan ibu
samping kamar ibu kamra kakakku lelaki
juga di belakang kamar ibu untuk kakak lelaki

Di halaman belakang yang luas ada pohon belimbing
buahnya juga tak pernah berhenti besar besar dan kuning manis
setiap teman anak anak ayah ibu yang datang pasti memetik untuk dibawa pulang
pernah aku jatuh dari pohon ini
bahkan aku pernah digigit kera piaraan kakakku sampai memerah
tepat di bawah pohon ini karean aku goda

Di belakang rumah kakak membuat lubang banyak untuk tinggal marmut
kami memiliki kelici, mentok, angsa, ayam, itik sungguh ramai
juga tak lupa burung merpati yang rumahnya lucu berkotak kotak
atau burung puter yang selalu makan pecahan batu bata merah
suaranya sungguh merdu menemaniku terlelap tidur siang
kesenangan kami setiap sore adalah memberi makan dedak
bahkan kadang kami berlomab mencarikan cacing tanah
di dinding cadas yang berlumut air selokan masih mengalir denagn bening
dulu kami sering main di belakang rumah membuat pancuran
dan kapal kapan tak seberapa gatalnya
sambil mengejar kecebong yang mulai dewasa

Rasanya tak ada habis-habisnya menceritakan rumah putih ibuku
( Rumah ibu memang dikapur putih saja … )

Bagiamana kenangan rumah putih ibumu ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: