Posted by: sepanjanglempong | August 29, 2008

Pelajaran Mencintai

Eric Fromm dalam buknuya Art of Loving menulis : manusia modern sesungguhnya adalah orang-orang yang menderita. Penderitaan tersebut diakibatkan kehausan untuk dicintai. Mereka berusaha keras agar dicintai.

Anak muda terjerumus pergaulan bebas karean merka ingin dicintai , istri berjuang keras menguruskan badan agar dicintai suaminya, para politisi tak segan berdusta dan menipu agar dicintai oleh pemilih dan penganutnya. Semua berusaha agar dicintai.

Yang dilakukan manusia adalah berusaha keras agar dicintai bukan mencintai.
Dan semakin keras kita berusaha mencintai, semakin sering pula kita gagal dan dikecewakan. Fakta menunjukkan ada orang yang mencintai kita juga ada yang membenci kita. Inilah gangguan psikologi kita.

Maaf seluruh industi perawatan tubuh wanita menganjurkan kaumnya bertubuh kurus dengan berbagai cara. Betapa menderitanya wanita yang terlahir tidak berpostur tubuh kurus. Pernah tak sengaja kubaca puisi Ratih Sanggarwati di notebook istri saya yang salah satu baitnya kira kira berbunyi : “ Anakku seandainya mamamu boleh memilih, mama tidak ingin betumbuh gemuk, tetapi apa daya … ini semua karean melahirkanmu “

Kalaupun kita mendapatkan cinta kadang cuman sementara.

Bila seorang mubalig mentargetkan dirinya untuk dicintai umatnya
Oleh suatu sebab mungkin suatu saat ditinggal jutaan umatnya …
Demikian bial seorang artis …segala dilakukan untuk mengikuti pasar dan selera fansnya.Tetapi kadang berakhir dengan kekecewaan karena suatu masa berlalu dan mungkin selera berubah . Ah mereka dianggap artis jadul.
Demikian pula politisi yang pernah meraih kemenangan bila tidak siap mental, dia akan sangat terpuruk ketika diringgalkan pendukungnya.
Suami istri dengan berlalaunya waktu, dengan rutinitas yang itu itu saja, …kadang akhirnya kita merasa kurang dicintai.
Kekecewaan demi kekecewaan kita temui dalam kehidupan

Erich kemudian menyarankan untuk menyembuhkan penyakit batiniah ini adalah dengan mudah : Mencintai. Tapi memang susah menemukan literatur tentang cara cara mencintai. Tengoklah toko buku tersebar : kiat- kiat agar dicintai lawan jenis, atasan, rekan kerja, bawahan dsbnya.

Selama ini kita diajarkan bahwa proses mencintai itu bukan suatu pembelajaran melainkan : Kecelakaan. Bukankah kita sering dengar Fall in Love bukan Learn To Love. Karean kita anggap mencintai itu suatu kecelakaan dan tidak direncanakan sebelumnya.

Lihatlah istri kita,
Kalau kita masih mencintainya karena bentuk tubuhnya dan wajahnya semata tak ubahnya seperti anak kecil yang riang gembira ketika memiliki mainan baru, namun ketika usang merengek lagi… Jarang kita sadari betapa agung cinta sang istri yang mengorbankan segalanya untuk kita. Atau mungkin kita ingat beliau ini adalah satu satunya orang yang mau mendengarkan keluh kesah kita sedari pacaran hingga kini sehingga kita lebih berani menerima tantangan yang lebih besar dan bangkit dari kegagalan . Saya ingat cerita Gede Prama tentang seorang sobatnya yang jujur mengakui senang berganti pasangan dan maaf mungkin bangga namun di akhir kehidupan dia sungguh menyesal dan menyadari bahwa istri pertamanyalah yang terbaik. Sayang itu telah dicampakkannya

Saya jadi ingat dulu ceramah CEO perusahaan saya yang dulu yang menebarkan spirit berdasarkan prinsip yang sangat sederhana dengan 5 Win-nya : Win Your Consumer Mind, Win Your Customer Mind, Win Your Employee Mind, Win Your Stack holder Mind dan Win Your Community Mind.
Sungguh menggugah beliau memiliki misi itu namun secara garis besarnya ternyata sederhana : Mencintai.
Ketika seorang Direktur HRD bertanya : “ Dari mana kita mesti mulai Program Retaining for The Best People …”
Saya jawab seenaknya dan setahu saya : “ Ya tunjukan saja bahwa kita menghargai dan mencintai karyawan kita”.
Sudahkah ?

Miris rasanya kalau mendengar ada perusahaan yang belum membayar THR karyawannya. Saya bukan seorang accountan namun rasanya perhitunag gaji dan renumerasi tentunya sudah direncankan dalan hitungan tahunan.
Dan Bukankah Hari Raya Lebaran saat mebahagiakan yang paling dinanti-nantikan ?

So, mungkin ada benarnya : kenapa kita tak rubah pandangan kita.
Mari kita belajar mencintai dari pada mati-matian mengharap dicintai …
Mungkin …

 

disarikan seperlunya dari Road To Allah oleh Jalaludin Rakhmat
Kuringkas kembali setelah kubaca, karean sayang untuk kubaca sendiri


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: