Posted by: sepanjanglempong | August 29, 2008

Lek Sutar , Lek Sajinem , Uyon Uyon dan Yo ben !!!

Masih di kampungku dulu ada seorang lelaki
kami sering menyebutnya hormat dengan Lek Sutar
( Lek adalah sebutan Jawa singkatan dari PakLek,
arinya Pak Cilek atau bapak kecil atau paman )
semua anak anak tahu kalau melewati depan rumahnya di kala sore hari
pasti akan terpana melihat beliau
duduk di bangku panjang di teras depan rumahnya
selalu tersenyum dengan memainkan keplok telapak tangan
suatu keplokan yang berirama mengikuti tembang tembang Jawa
( irama keplokan tangan ini mirip yang dilakukan Dian
ketika mengiringi Leo di BBJ dulu sehabis bom JW Marriot
dalam lagu Bulan Separuh Bayang )
yang mengalun dari kasetnya dari dalam ruangan
rasanya ia begitu bahagia
bahkan kadang kami ikut berjoget di jalan : iapun tak marah
rasanya suara tape itu kemewahan buat beliau setelah pulang kerja
sebagai pelayan medis di rumah sakit tentara itu
buat kami anak-anak hanya mengenangnya seorang yang bahagia :
Happy Lek Sutar !

kebiasaan ini kami menyebutnya dalam bahas Jawa Uyon Uyon
bukan hanya nembang bernyanyi tapi
juga menjiwainya ke dalam perasaan
la wong buktinya kadang syair yang tak hafal pun
beliau hanya bilang : le la le la le gung
ada keinginana untuk mengisis jiwanay dengan keindahan
tepuk tangannya itu menambah iramanya makin gayeng
bagaimana dengan Lek Sutar Perempuan ?
kadang ia duduk termenung
beliau kukenang sebagai orang yang ramah dan banyak bicara
yang menurun ke setiap 8 anak anaknya itu
berbicara dengannya serasa seperti lama tak bertemu
menyenangkan penuh persaudaraan
sunnguh kontras dengan suaminya yang mengganggap hidup ini ringan saja
beban berat itu selalu mengalir dari ceritanya yang panjang

ada lagi yang namanya Lek Sajinem,
beliau ini selalu berkata kasar cenderung jorok
jago beradu mulut karenanya suara paling keras
ada sesautu yang selalu kuingat
beliau selalu mengatakan tegas : Yo Ben ! ( = Biarlah )
malah kadang maaf dengan kata kasar Semarangan ; Prek ( = Tak Peduli )
suatu bentuk ketegasan dalam ketidakmampuan
yang kadang kita manusia modern tidak bisa melakukannya
kadang kita dengar : aku harus ini , harus itu dsbya
manusia tertunggkung dalam keharusannya
tidak seperti kata Leo : Merdeka Lagi !
atau kata Chairil : aku juga ingin merdeka darimu Ida !

Begitulah dr Tony dan Petrus,

Setidaknya aku telah belajar dari dua tokoh di kampungku itu
dari Lek Sutar aku merasakan betapa pentingnya reriungan atau uyon uyon,
aku melakukakannya di Sommerset kemarin

Dari Lek Sajinem aku melakukannya bila kurasa beban
sudah melebihi kapasitas kemampuanku : Yo Ben !
seperti juga kalau istriku kurasa juga overload
selalu mesra kubisikan : ingat filosofi Lek Sajinem : Prek !

Terimakasih Lek … !


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: