Posted by: sepanjanglempong | August 29, 2008

Lebaranku Di Jawa

Ada banyak tujuan pergi tapi cuman ada satu tujuan pulang. Ke rumah kita.
Rumah yang mana ?
Rumah physik bisa jadi sudah berubah, bertambah makmur tak seperti dulu lagi barangkali.
Mungkin yang tika jumpai : bentuk kamar dan bangunan sudah tak seperti dulu, tak ada lagi sebagian perabot usang tempat kita bermain dulu, mungkin hiasan dinding sudah berubah sebagian sudah rusak. Tinggal sebagian mungkin yang masih seperti dulu,
tapi itu cukup untu membangkitkan kita akan kenanngan indah dulu

Rumah kenangan nan abadi terpatri seumur hidup kita selamanya, kita bawa ke mana pun dimana kita mengalami suka duka, dimana kita tumbuh bersama sebagai saudara dalam kasih sayang orang tua.
Rumah dalam kenangan itu juga rumah jiwa kita.
Rumah jiwa dimana kita selalu merasakaan kebahagian dalam ketulusan seperti ketika ketenangan seorang bayi dalam gendongan ibu.
Saudara saudara sekandung yang pulang berkumpul menambah kehangatan
makin meguatkan rumah jiwa itu.
Dalam hening malam setelah lelah, setelah semua sepi …. kadang dalam diam pun kita merasakan betapa bahagianya berada di rumah jiwa ini.

Bedug yang bertalu talu nayring dan seruan di sepanjang malam Allah Maha Besar
menambah sesak di hati kami masing masing
Setiap orang merasakan yang berbeda :
ada yang teringat yang terkasih yang telah tiada,
ada yang ingat dosa-dosanya,
ada yang merasa impitan hidupnya lepas sudah,
ada yang merasa harus lebih tabah,
ada yang merasa harus lebih banyak bersyukur,
ada yang merasa memperoleh kemenangan

Sekali lagi kami juga mengenang yang telah tiada.
Setelah sembayahyang Ied, kami segera ke makam mengririm doa dan bunga .
Sekali lagi kami terpaksa menangis karena kami tak hanya berkata kata,
tapi kami juga seolah berdialog dengan yang telah tiada
Kepada kakak kandungku di pusaranya aku akan bercanda :
” Mas Ibu sudah dapat penggantinya, dan aku akan berbuat semampuku untuk menghibur ibu karena kepergianmu … Doa kami semua dan kangen kami semua ”
Kata orang wajahku dan sifatku mirip dengan kakak kandungku laki laki yang meninggal
di tahun 1963 tertabrak mobil di Candi Baru itu.
Bila kuajak ketika keponak-keponakanku ke pusara almahrum ayahandanya,
kusapa halus halus :
” Mas anak-anakmu telah dewasa, si ini sudah mampu, si itu sudah …dstnya”

Mengenang spirit yang telah tiada mungkin adalah cara lain menghormati yang telah tiada kecuali dengan mengirim doa.

Dalam budaya Jawa selalu dilakukan budaya sungkeman,
Kepada yang tua sebagai wujud rasa penghormatan.
Sujud di depan yang tua memberikan ucapan selalmat dan mohon ampuanan dosa.
Walau dalam bahasa yang singkat aataupun panjang tapi intinya :
” Menghaturkan Selamat Hari Lebaran.
Semoga segala dosa dilebur di Hari Raya ini.
Mohon Maaf Lahir dan Bathin …”
Saya sendiri kadang kalau sungkem sudah tak bisa mengucapkan kata-kata.
Cukuplah air mata yang berlinang air mata penuh keharuan sekaligus kebahagiaan.
Saya tatap dan cium kedua orang tua kami yang sudah tua.
Kudekap kulit dan rambut putih itu yang dulu berjuang hebat memperjuangkan kami hingga bisa tumbuh seperti ini.
Mungkin dulu kami malu karean serba tak mampu tapi kini kami bangga akan ayah dan ibu.
Ayah dan Ibu hanay berpesan satu, pesan yang beulang kali dimuat dalam buku suci itu :
K e s a b a r a n ….! kepada kamai semua.
Sepertinay maat bathin kedua orang tua menembus jantung kehidupan kami.
Dan selalu kuingatkan agar istriku tericnta membimbing kedua anakku mengikuti jejak menundukkkan kaki bersujud dan memohon ampun kepada kakek neneknya
dan memohon doa restu untuk perjalanan hidup yang masih panjang
Demikian pula dengan saudara-saudara yang lebih tua.
Kesalahpahaman yang lalu dan mungkin saling menyakitkan telah lebur didalam pelukan persaudaraaan hari ini.
Kiranya perjalanan ratusan ribuan kilometer yang ditempuh berkendara itu atau terbang ribuan kilometer itu telah mencapai puncaknya.

Setelah itu
kami bercakap cakap panjang lebar melepas kerinduan.
Bertanya kabar sanak keluarga.
Saudara saudara jauh mulai berdatangan dan
kadang kami seru harus mengingat ini anak siapa ? ini istri siapa ?
ini cucu siapa ?
juga para tetangga mulai berdatangan
kadang rumah kami yang besarpun masih kurang rasanya
untuk menampung tamu sebanyak ini
dan mungkin inilah saat saat paling banayk tamu di rumah ibuku,
Tak lupa kami semua menikmati santapan Lebaran yang biasanya diistimewakan.
Mungkin sebagai perlamabang simbol kemenangan
Serasa lain setelah sebulan kami tak makan di siang hari

Fitri ini mengatakan kita kembali ke asal muasal yang suci.
Menjadi bersih kembali

Walau budaya Lebaran adalah budaya Jawa Islam asal mulanya
namun rasanay telah menjadi budaya Jawa
Entah bagaimana di tempat lain di Nusanatara ?

Setelah tahun lalu karean dinas kami tak bisa Lebaran di Kampung
Tahun ini kami putuskan tidak mudik.
Tentu kami sangat kehilangan moment seindah ini
Namun memang ada yang harus kami lakukan

Selamat Menempuh Perjalan Jauh Untuk Pulang,
Ke Rumah dan ke Dasar Hati.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: