Posted by: sepanjanglempong | August 29, 2008

Guru Suci Ing Tanah Jawi

Salah satu wali yang terkenal di tanah Jawa adalah Sunan Kalijaga, ketenaran wali ini kecuali karena sakti dan cerdas beliau adalah seorang politikus yang mengasuh para raja kerajaan Islam Jawa. Dia juga dikenal sebagai sosok budayawan dan seniman yang hebat.

Di mata orang Jawa sering disebut agung dengan sebutan Kanjeng Sunan Kalijaga dianggap sebagai wali yang paling popular di mata orang Jawa. Bahkan sebagian orang Jawa mengganggap sebagai guru agung dan suci di tanah Jawa.

Nama kecilnya Raden Sahid dan merupakan putra Tumenggung Wilwantika, Adipati Tuban yang merupakan keturunan Ranggalawe yang sudah beragama Islam. Ia juga diangkat menjadi menantu oleh Sunan Ampel.

Legenda menceritakan masa kecilnya yang gemerlap karena tinggal di lingkungan istana dan memberontak setelah mempelajari agama menemukan kontradiksi dengan ajaran agama yang luhur dimana rakyat jelata sangat menderita dan kehidupan istana yang mewah. Menjadi Robinhood ala Jawa ia lakoni mengikuti kebenaran suara hatinya sehingga ketika ketahuan ia diusir dari istana.

Kehidupannya berubah total ketika dia bertemu Sunan Bonang. Katanya nama Kalijaga itu sebagai ujian penantian selama 3 tahun bertapa di tepi sungai, tapi ada juga yang mengatakan sebagai nama sebuah desa di Cirebon ataupun penjawaan suatu bahasa Arab.

Ketika menjadi wali cara dakwahnya sungguh unik dianggap berbeda dengan para wali lain, bahkan untuk menyentuh kelas bawah beliau lebih sering berbusana baju Jawa dari pada selayaknya seorang ulama memakai baju serba putih. Ia berani memadukan budaya Jawa yang telah mengakar dan agama Islam. Mungkin ini menjadi rahasia kisah sukses perkembanagna Islam di tanah Jawa. Misalnya lewat gamelan, ukiran, tembang dan batik.

Ajaran untuk para raja Jawa yang ngetop agar seseorang tidak termakan nafsu gemerlapan kekuasan, menyatakan : “Jangan hanya senang kalau sedang berkuasa , sakit hati kalau tidak berkuasa, sebab hal itu akan ada akibatnya sendiri sendiri.
Jangan mau menang sendiri yang dapat menyebabkan perpecahan negara dan bangsa melainkan harus bermusyawarah demi menjaga ketentraman lahir bathin.”

Mesjid pertama di Demak dan kisah tatal untuk sokogurunya sangat terkenal di kalangan orang Jawa sebagai karya Sunan Kalijaga. Tembang ciptaannya yang dikenal hingga kini sebagai lagu donalan anak anak di Jawa adalah Ilir Ilir. Emha dan Kyai Kanjeng senang sekali mengupas dan mempopulerkanya lagi karena sarat sanepa ( perlambang ataupun kiasan )

Ilir Ilir tanamannya sudah bersemi
Tampak menhijau bak pengantin baru
Wahali pengembala panjatlah blimbing itu
Meski licin panjatlah untuk mencuci kain
Kain yang sobek pinggirnya
Jahitlah dan tamballah
Untuk mengahdap nanati sore
Mumpung bulan terang dan lebar tempatanya

Dari terjemahan bebas ini nampak mudah ditebak blimbing yang kita suka bilang star fruit itu bercabang lima adalah perlambang rukun Islam yang tak mudah untuk menggapainya, namun selagi memiliki kesempatan lebar hendaklah kita mencapainya.

Juga wejangan dalam tembang Asmaradana beliau umpakan dengan ungkapan sederhana dan lugas ini menggambarkan seluruh perjalan hidup manusia :

Hidup di dunia tidak lama
Seperti jika kamu pergi ke pasar
Tidak akan di pasar terus
Pastilah akan kembali juga
Ke rumah asalnya
Maka jangan sampai keliru
Maka ketahuilah
Ilmu asal muasal kehidupan
Agar jangan sampai kesasar

Kecerdasan beliau juga nampak ketika harus mentrasnformakian bentuk peribadatan dan kebudayan Jawa yang saat itu didominasi oleh animisme di kalangan bawah dan Hindu di kalang istana seperti
– Mengrahakan semedi menjadi tafakur dalam salat
– Mengarahkan sesaji menjadi sedekah ( sekarang kita tahu kenapa di Jawa masíh lekat adat kenduren )
– Dan upacar agung yang kecuali perlehatan juga syiar semacam Maulid Nabi di keramaian Grebeg Sekaten

Ajaran yang tak semua orang Jawa tahu walau sering menjalaninya dalam hidup adalah yang terkenal dengan ungkapan : Narima in Pandum diuraikannya menjadi lima sikap hidup yakni rela, narima, temen, sabar dan berbudi luhur

Rela itu tidak mengharapkan keuntungan dari pekerjaannya juga tidak mengeluh selagi susah , terhadap semua cobaan hidup seperti sengsara, duka, fitnah, kehilangan dsbnya dianggap sebgai hal yang lumarah. Orang rela tidak memilik keinginan mendapat penghormatan ataupun pujian apalagi iri dengki. Orang bersih semestinya tidak memiliki keterikatan dengan barang yang bersifat sementara, tetapi juga bukan berarti meninggalkan kewajiban hidup

Narima itu tidak mengharapakan hak milik orang lain dan tidak iri dengan kesenangan orang lain , banyak pengaruhnya buat ketentraman hati dan bukan berarti disalah tafsirkan pemalas. Mensyukuri apa yang dimilik dan tidak terlalu merisaukan yang belum didapat. Orang Narima itu untung dalam perubahan zaman karena ia memiliki pegangan batiniah yang kuat.

Temen bermakna setia kepada ucapannya dan memperjuangkan cita-citanya dengan sungguh sungguh. Orang yang tak menepati kata-katany sendiri dan idalaisme dianggap berbohong pada dirinya sendiri yang disaksikan oleh orang lain

Sabar berarti momot, kuat iman luas pengetahuan dan tidak picik pandangannnya. Dia kaan bersifat segara wasesa , lapang seperti alautan luas. Kesabaran dapat diibaratkan jamu yang pahit sekali yang hanya diminum oleh orang yang kokoh pribadinya.
Namun jika ia minum ia akan semakin kuat.

Budi luhur adalah manusia ideal karean berhubungan dengan sifat sifat Tuhan yang oenyayang, pengampun dan pemurah.

Sungguh takjub misalkan kita tahu bahwa wayang kulit telah mengalami pembaharuan
Dari bentuk aslinya epos di India ingá bentuk relief relief di Candi lalu ke bentuk yang sekarang. Perubahan bentuk dan lukisan wayang yang tidak menyerupai manusia lagi itu menjadikan tidak ada alasan untuk menuduh wujud wayang melanggar fiqih Islam.
Tokoh Punakawan nana kocal seperti Semar, petruk, Gareng dan Bagong yang meyegarkan dalam episode wayang dan keluarnya sangat ditunggu bocah bocah di Jawa sambil menahan kantuk itu semuanya hanyalah plesetetan makna. Simaar itu paku lambang kemantapan, gareng itu naala qorin artinay banyak kawan, petruk itu fatruk tinggakan yang buruk dan bagong itu bogho berarti pertimbnagan makna dan rasa baik maupun benar. Ayahku tak bosan bosannya berulang kali selalu berpitutur bercerita tentang Jimat Kalimasada jelas perubahan kreatif yang bisa dibilang menyimpang dari pakem Mahabarata ataupun Ramayana sebagi asal muasal sumber cerita wayang.
Cerita cerita baru ini malah lebih popular dipementasan saat ini seperti Petruk jadi Ratu dan Dewaruci.

Begitu percayanya majelis Wali Sanga yang mainstream itu untuk menghentikan polemik di kalangan bawah dengan gegernya ajaran mistis Sjeh Siti Jenar, maka Suana Kalijaga terpilih diutus sebagai mediator. Mudah dipahami kecuali pengetahuan kebudayaan Jawanya yang luas dan ketinggian ilmu keislaman beliau tentunya.

Panas dan berkeringatdi Glodok di counter film film Indonesia saya beli vcd Sunan Kalijaga yang dibintangi Deddy Mizwar itu, juga Walisanga, juga Kalijaga Vs Sjeh Siti Jenar. Walau film ini sering disetel di TPI, kalau saya tonton sendiri jadi merinding dan kadang meneteskan airmata … terutama di episod karean melihat kerendahan hati beliau menerima pendapat para muridnya yang masih lugu dan polos.
Memang kalau kita pelajari yang membedakan dari metode dakwah wali lainnya,
tiga kunci sukses Sunan Kalijaga yang dalam bahasa Jawa dikenal sebagai momong ( persuasif ), momor ( komunikatif) dan momot ( akomodatif )
Saya sendiri merenung masih adakah dai kita yang mewarisi sifat agung beliau ini …

Ada salah satu pituah Jeng Sunan yang agung namun tak gampang, saya sangat menukainya semenjak saya mengenalnya . Saya sering nakal saya taruh di footnote email saya untuk menandingi wisdom word dari luar negeri misalnya
Pernah bos saya yang orang India kurang kerjaan sempat membaca lalau bertanya dan terpaksa teman saya yang Jawa juga harus menerjemahkan panjang lebar sejarah siapa Sunan Kalijaga itu : “Ngumpetake Sing Becik , Ngetokake Sing Ala “
( menyembunyikan yang baik, dan menunjukkan yang jelek )


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: